Mahasiswa PTN-PTS Terlibat Jaringan Ganja

MALANG –Tiga mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Kota Malang, terlibat peredaran narkoba jenis ganja. Ketiganya dijadikan tersangka bersama enam orang lainnya yang turut disergap anggota Satuan Reskoba Polres Malang Kota. Bahkan satu mahasiswa diketahui sebagai pengedar dan mendapatkan narkoba dari lembaga pemasyarakatan (Lapas, Red).
Sembilan tersangka itu antara lain, Herman Felani (HF), 26 tahun, warga Jalan Lembah Dieng, Kecamatan Sukun. Lantas Hari Prasetyo (HP), 19 tahun, warga Jalan Budi Utomo, Kelurahan Mulyorejo, Sukun, Fahri Ahmad (FA) alias Poyi, 23 tahun, warga Jalan Candi Bajang Ratu, Kecamatan Blimbing, Mohammad Ansori (MA) alias Aan, 26 tahun, warga Jalan Candi Bajang Ratu, Kecamatan Blimbing.
Ada juga Rendy (RW) alias Memet, 30 tahun, warga Jalan Kaliurang, Blimbing, Mohammad Zanuban (MZ), 22 tahun, warga Jalan Mayjen Sungkono, Kedungkandang, Ireng Agam Rahmi (IAR), 24 tahun, warga Jalan Mayjen Sungkono, Kedungkandang, Haidar Abdul (HA), 23 tahun, warga Jalan Candi Badut, Lowokwaru dan Ony Diansyah (OD), 33 tahun, warga Jalan MT Hariono, Kecamatan Lowokwaru.
Penangkapan jaringan ini, diawali ketika Polisi mendapat informasi akan ada transaksi besar. Jumlahnya mencapai satu kilogram ganja kering. Pengedar utamanya adalah Herman Felani. Ia mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Dari tangannya Polisi mendapatkan barang bukti satu tas kresek hitam berisi toples Tupperware yang berisi ganja kering dan satu bendel papir.
“HF kita ditangkap Sabtu (20/6) pukul 16.00 WIB, di depan Perum Delta Dieng, Sukun usai melakukan transaksi,’’ tegas Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata.
Herman ditangkap pasca bertransaksi dengan Ony Diansyah.
Petugas kemudian melakukan pengembangan dengan menangkap Fahri Ahmad dan Mohammad Ansori. Fahri adalah mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri di Malang yang merupakan jaringan Herman.
Keduanya ditangkap petugas di Lapangan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. Dari tangan keduanya petugas mengamankan barang bukti satu ATM BRI, satu bungkus kertas koran berisi ganja dan satu bukti transfer dari BRI.
“Dari FA dan MA, penangkapan dilanjutkan kepada RW, yang juga satu jaringan dengan HF. RW kami tangkap pukul 19.30 di belakang kampus ITN. Dari tangan RW diamankan barang bukti satu bungkus kertas berisi ganja kering,’’ urai Kapolres.
Penangkapan kembali dilakukan petugas Minggu (21/6), dengan mengamankan Haidar Abdul (HA). Ia juga mahasiswa salah satu universitas swasta di Kota Malang ini. Haidar ditangkap petugas di Jalan Candi Kalasan. Dari tangannya petugas mengamankan barang bukti satu tas punggung, di dalamnya terdapat satu tas kresek warna hitam berisi ganja kering, satu plastik klip kecil ganja kering, satu bungkus rokok marlboro berisi ganja kering, dan amplop cokelat berisi ganja kering.
 “Setelah HA penangkapan kemudian dilakukan kepada OD. Dia di tangkap di Jalan Merjosari. Dari tangannya kami mengamankan satu kresek warna putih yang didalamnya berisi dua garis ganja kering,’’ urai Kapolres.
Lalu dari mana Herman mendapatkan barang? Sejauh ini memang belum diketahui siapa yang menjadi pemasok ganja kering tersebut kepada Herman. Namun dari informasi yang diperoleh, Herman mendapatkan barang tersebut dari Haris yang notabene sedang mendekam di LP Madiun. “Ini masih diselidiki, pengakuannya memang begitu, tapi masih didalami,’’ tandas Kapolres.
Dari sembilan tersangka ini polisi mengamankan barang bukti ganja kering dengan total berat 345,33 gram, tujuh unit HP, satu tas kulit warna hitam, satu toples tupperware, dan satu lembar ATM BRI serta bukti transfer BRI.
“Sembilan tersangka ini merupakan satu jaringan. Penangkapan dilakukan selama dua hari, yakni Sabtu (20/6) dan Minggu (21/6),’’ tegas pria dengan dua melati di pundak ini.
Saat melakukan press rilis kemarin, Singgamata menyebutkan sembilan pelaku yang diamankan, delapan merupakan pengguna dan kedapatan memiliki. Sedangkan satu tersangka adalah pengedar.
“Tersangka ini merupakan jaringan yang sudah cukup lama kami buru, dan baru tertangkap saat ini,’’ tambahnya.
Singgamata menegaskan mendalami peran masing-masing tersangka. Selain Herman, delapan tersangka lain bisa dikenai pasal 111 UURI no 35 tahun 2009 dengan ancaman hukuman 4 sampai dengan 12 tahun penjara. Sedangkan Herman Felani (HF) dikenakan pasal 114  UURI no 35 tahun 2009 dengan ancaman hukuman empat sampai dengan 20 tahun penjara.(ira/ary)