BMI Syariah Beri Beasiswa Putri Wiji

Jenazah Wiji Astutik, TKW asal Kecamatan Bantur, yang menjadi korban pembunuhan di Hongkong, saat tiba di rumah duka.

Tiba di Bantur, Jenazah Wiji Langsung Dikebumikan
MALANG – Setelah tertahan beberapa hari di Hongkong, jenazah Wiji Astutik, TKW asal Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, akhirnya dipulangkan. Jenazah tiba di rumah duka Selasa tengah malam sekitar pukul 23.30.
Setelah satu jam disemayamkan di dalam rumah dan didoakan, pukul 00.30 dini hari kemarin, jenazah lalu dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat. Jaraknya sekitar dua kilometer dari rumah korban. Saat kepulangan Selasa malam lalu, puluhan warga sudah berkumpul sejak beberapa jam sebelum jenazah tiba. Termasuk Supardi, ayah kandung Wiji dan Rahayu Putri (anak Wiji, red) serta keluarga lainnya.
Mobil ambulans milik UPT P3TKI Surabaya Disnaker Jatim nopol L 9166 GP tersebut, langsung dikerubung warga. Di dalam ambulans, terlihat kotak kayu besar yang berisi jenazah Wiji.
Jenazah tidak langsung diturunkan dan diserahkan kepada pihak keluarga. Penyerahan jenazah menunggu Agustaf, staf KJRI Hongkong yang tertinggal dari rombongan. Tak lama setelah ditunggu, akhirnya Agustaf tiba dan menyerahkan jenazah kepada keluarga, sekaligus turut mengucapkan belasungkawa.
“Mohon jenazah tidak dikeluarkan, karena kondisi jenazah sudah rusak. Tetapi jenazah sudah disucikan,” kata Agustaf. Ia juga menyampaikan kalau Wiji, merupakan korban pembunuhan. Jenazahnya ditemukan pada 8 Juni 2015 lalu. “Untuk pelaku pembunuhannya sudah ditangkap. Tersangkanya dari Pakistan dan India,” sambungnya.
Devi Melissa Silalahi, staf fungsional diplomat Kementrian Luar Negeri, yang memfasilitasi pemulangan jenazah Wiji ikut hadir. Menurutnya jenazah dipulangkan dengan pesawat Chathay Pasific dan mendarat di Bandara Juanda pukul 20.00, baru kemudian dibawa pulang ke rumah duka.
Dikatakan Devi, dalam kasus yang dialami Wiji Astutik, polisi Hongkong telah menetapkan dua orang tersangka. Pertama sang pacar bernama Wahaz, berkewarganegaraan Pakistan. Ia diduga pelaku utamanya. Kemudian satu tersangka lagi seorang pria warga India. Perannya hanya membantu upaya melarikan diri ke RRT dengan naik kapal feri.
“Apa penyebab pembunuhannya, kami masih belum tahu. Bias saja menjadi tahap penyidikan otoritas di sana (Hongkong, red). Dan setiap perkembangannya, perwakilan kami di Hongkong akan terus memantau proses penyidikan dan persidangannya,” papar Devi.
Rinda Lestari, 24 tahun, adik kandung Wiji Astutik yang bekerja di Taiwan, mengatakan bahwa keluarga sudah ikhlas dan merelakan kepergiannya. Namun keluarga tetap berharap, pelaku bisa dihukum berat sesuai aturan hukum di Hongkong.
Soal masa depan Rahayu Putri, Rinda mengatakan nantinya akan menjadi tanggungjawabnya. Selain itu, juga dibantu dari Buruh Migran Indonesia (BMI) Syariah, yang memberikan beasiswa Rp 200 ribu tiap bulan, mulai Juni 2015 sampai setahun ke depan. Baru setelah itu nantinya akan dilakukan evaluasi lagi.
“Saya terakhir bertemu dengan kakak pada 2009 di Hongkong. Kakak saya Wiji, memiliki Paper Hongkong sejak 2008 sehingga mendapat tunjangan uang dari pemerintah Hongkong. Alasan selama 10 tahun kakak saya tidak pulang, karena ingin mengumpulkan uang. Dan pesan yang selalu saya ingat, kalau dia titip kepada saya untuk menjaga keluarga dan anaknya,” beber Rinda.(agp/aim)