Ayah Belum Sempat Belikan Mainan Lebaran

SUASANA duka masih menyelimuti rumah almarhum Eko Agus Susanto, pekerja PT Shica Jaya Sentosa yang tewas saat bekerja. Eko meninggalkan Celvia Maulida, 27 tahun istrinya dan dua anak. Dan tak merayakan lebaran tahun ini, sekaligus kebiasaannya membelikan mainan lebaran untuk dua anaknya.
Celvia tak bisa menyembunyikan rasa duka dari raut wajahnya. Sembari menggendong anak nomor duanya, bernama Aufar Fardhan, ia berbincang dengan para pelayat yang mendatangi rumahnya. Sejenak aktivitas terhenti, ketika mengetahui kedatangan wartawan Malang Post, ke rumahnya.
“Mas (Eko Agus Susanto) itu, bekerja di PT Shica sejak pabrik itu berdiri pada tahun 2008 yang lalu,” ujarnya kemarin.
Suaminya itu, memang melamar sebagai operator mesin pembuat asbes, lantaran sesuai dengan keahliannya. Menurutnya, selama bekerja, suaminya itu penuh dengan dedikasi dan totalitas. Sehingga, dia kerap kali melakukan pekerjaan, meski itu bukan bagian dari tugasnya. Karena bapak dua anak ini, merasa tidak nyaman bila ada pekerjaan yang terbengkalai.
“Contohnya saat kejadian itu. Kata teman-teman kerjanya, mas merasa tidak nyaman dengan mesin itu. Lantaran terdapat salah satu bagian yang rusak. Maka dari itu, mas melakukan perbaikan mesin itu,” papar wanita berjilbab ini.
Ternyata, saat memperbaiki mesin tersebut, persitiwa maut ini terjadi begitu cepatnya. Tiba-tiba potongan besi jatuh menimpa korban hingga tewas di tempat kejadian. Menurut Celvia, ia sudah mengikhlaskan kejadian itu. Ia tidak menuntut manajemen perusahaan yang memang lalai, lantaran tidak menerapkan standart Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Meski demikian, ia memang mengaku sebelum kejadian itu, suaminya lebih banyak diam dan bertingkah laku aneh. “Sampai anak pertama kami bernama Vista Aurora bilang begini, ayah kok aneh ma?. Ayah kok jarang bicara sama aku,” ucapnya.
Saat itu, ia tidak curiga atau merasakan hal yang aneh anak kesayangannya bicara begitu. Yang paling ia kenang,  pada setiap Lebaran, suaminya memang sering membelikan mainan untuk kedua anak kesayangannya. Namun, hal itu tidak bisa dilakukan pada Lebaran kali ini.
Kedua anak kesayangannya itu, tidak bisa merasakan mainan pemberian dari ayahnya. Selain itu, mereka juga tidak bisa berkumpul pada Lebaran kali ini. “Pada awal bulan puasa, biasanya mas akan merencanakan Lebaran di mana. Tapi hal itu tidak direncanakan pada bulan puasa ini,” tuturnya.
Saat datangnya jenazah suaminya itu ke rumah, ia menyatakan diperlakukan dengan baik. Yakni perusahaan telah menyediakan peti mati dan mengantarkanya dengan mobil ambulance.
Tangisan pun pecah, ketika kedatangan jenazah tersebut. Suaminya memang merupakan sosok yang baik dan mudah bergaul selama hidupnya. Sehingga, suaminya tersebut, memang mempunyai banyak teman, lantaran keramahannya.
Sehingga banyak yang tak menyangka, korban pergi begitu cepatnya. Meski peristiwa maut itu merenggut suaminya, ia tidak menyalahkan siapa pun. Karena itu sudah merupakan suratan takdir dari sang maha kuasa yang mempunyai kehidupan ini.
“Apalagi manajemen perusahaan sudah menyatakan siap bertanggung jawab dengan membiayai kedua anak kami, hingga kuliah nanti,” terangnya.
Ia berharap, selanjutnya sudah tidak ada lagi karyawan yang mengalami kecelakaan kerja. Begitu pula dengan perusahaan yang wajib memenuhi standar keselamatan kerja.(big/ary)