Raga Boleh Terkungkung, Jiwa Harus Bebas

Didalam terali besi, para tahanan berlomba-lomba mendapatkan kebajikan.

Aktivitas Tahanan Berlomba Dapatkan Kebajikan
BATU - “Mawlaya Salli Wassalim da-Iman Abadan Ala Habi Bika Khairil Khalqi Kulli hi mi.” Salawat burdah ini dilantunkan dengan sangat keras oleh kurang lebih 60 tahanan yang mendekam di Rumah Tahanan Polres Batu, kemarin.
Begitu kerasnya sampai mampu menembus seluruh ruangan di Mapolres Batu. Suara ini selalu terdengar usai mereka sholat berjamaah. Diantara lorong sel yang sempit, para tahanan ini membuat shof yang rapat.
Jangan pernah berpikir mereka sholat dengan menggunakan sarung, karena mereka sholat hanya berbekal pakaian dengan celana pendek, karena celana panjang tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam ruangan tahanan.
Meski demikian tidak menyurutkan kekhusyukan mereka beribadah. Ada salah seorang tahanan yang biasa dipanggil dengan sebutan Abah. Tahanan kasus narkoba yang memiliki nama asli Yakub inilah yang selalu menjadi imam sholat.
Bukan hanya sholat Dhuhur, sholat Ashar, Sholat Maghrib bahkan Sholat Subuh pun para tahanan ini sholat bersama-sama.
“Mirip seperti sebuah pondok pesantren, banyak teman-teman yang di luar tidak sholat, di dalam penjara kita sholat, dengan cara ini bisa memberikan kedamaian di hati kita,” ujar Subandi, salah seorang tahanan judi.
Dalam kungkungan sel, hanya doa, wirid dan sholat yang bisa memberikan kedamaian. Dibalik terali besi, raga mereka terkungkung, hanya lewat doa dan sholat saja yang membuat jiwa mereka merasa bebas.
Antri mandi, hingga antri berjemur dibawah sinar matahari menjadi salah satu rutinitas yang selalu mereka laksanakan setiap hari. “Doa dan sholat tidak hanya menimbulkan kedamaian, tapi menjadi pengobat rindu kami kepada keluarga,” terangnya.
Bagi seorang tahanan, berada di penjara di bulan Ramadan dan Idul Fitri adalah sebuah cobaan yang besar, karena mereka harus jauh dari keluarga. Lewat ibadah yang khusyuk ini, ada sebuah harapan, sekeluar dari penjara mereka tidak perlu lagi balik ke dalam penjara.  
Iptu Budiyono, Kasat Tahti (Tahanan dan Barang Bukti) Polres Batu menjelaskan bahwa secara rutin pihaknya melakukan bimbingan mental rutin kepada para tahanan. “Satu bulan dua kali kita mendatangkan ustadz untuk memberikan tausiyah,” ujar Budiyono.
Dengan cara ini mental para tahanan lebih siap, hingga mereka menjalani cobaan tersebut dengan lapang dada. “Ada masa depan yang sudah menunggu mereka sekeluar dari penjara,” ujar Budiyono yang setiap hari selalu memberikan wejangan kepada para tahanan ini. (muh/feb)