Kalah Praperadilan, Warga Ajukan Gugatan Perdata

Kuasa hukum warga Desa Majang Tengah, Sumardhan SH siap mengajukan gugatan perdata, terkait penetapan tersangka dua warga Majang Tengah.

MALANG - Gugatan praperadilan dua tersangka pencuri tebu yaitu Sahir dan Khoirul Anam, akhirnya kandas. Kuasa hukum Sumardhan SH sudah memprediksi gugatannya akan gagal. Kemarin pagi, hakim tunggal Arief Karyadi, SH, MH yang memimpin sidang praperadilan, membacakan putusan bahwa gugatan tersebut dianggap gugur.
Gugatan praperadilan gugur karena penyidikan kasus pencurian tebu oleh kedua tersangka, sudah bukan menjadi kewenangan polisi. Sebab berkas perkara pencurian tebu, sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kepanjen, sehingga bukan lagi menjadi tanggungjawab penyidik kepolisian. Apalagi, perkara pidananya kemarin juga mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen.
"Dari awal kami sudah percaya bahwa gugatan praperadilan tidak bisa diterima. Karena selain penangkapan dan penahanan yang kami lakukan sudah sesuai prosedur, penyidikan perkara sudah bukan kewenangan kami. Sebab perkaranya sudah kami serahkan ke Kejaksaan," ujar kuasa hukum termohon Polres Malang, Iptu Sutiyo, SH, M.Hum kepada Malang Post, kemarin.
Sementara itu, Sumardhan mengakui bahwa gugatan praperadilan yang diajukannya gugur. Namun demikian, bukan berarti Sumardhan Cs ini menyerah begitu saja. Demi mendapat keadilan kliennnya, hari ini kuasa hukum Sahir dan Khoirul Anam, akan kembali mengajukan gugatan. "Gugatan perdata tidak jadi hari ini (kemarin, ren) kami ajukan. Rencananya baru besok (hari ini, red) kami daftarkan ke PN Kepanjen," tutur Sumardhan.
Gugatan kedua ini tentang perbuatan melawan hukum. Yaitu diskriminasi atau tebang pilih pihak penyidik dalam menangani perkara. Sebab dalam pemeriksaan, tersangka Sahir melakukan penebangan tebu itu atas suruhan Kepala Desa Majang Tengah, Dulhafi.
"Namun kenapa penyuruhnya tidak ikut dijadikan tersangka. Begitu juga dengan Khoirul Anam, ia melajutkan penebangan tebu karena disuruh oleh oknum TNI, yang mengaku dari PT Margosuko. Menurut pasal 55 hukum pidana, penyuruh atau pelaksana yang dijerat dengan hukuman. Sedangkan yang disuruh disuruh tidak bisa dihukum," terang Sumardhan.
Ada lima termohon dalam gugatan perbuatan melawan hukum. Termohon pertama adalah Kanit Idik I Ipda Hari Eko Utomo, S.AP. Termohon kedua Kasatreskrim Polres Malang. Termohon ketiga Kapolres Malang, termohon keempat Kapolda Jatim dan termohon terakhir adalah Kapolri.
Sementara itu, dalam sidang perdana kasus pidana kedua tersangka Sahir dan Khoirul Anam, kemarin adalah pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penununtut Umum (JPU). Kedua tersangka dijerat dengan pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan.(agp/aim)