Kumpul, Buntuti dan Tendang Korban

Kedua tersangka saat diperiksa oleh penyidik Satreskrim Polres Malang, kemarin.

Mereka Biasa Rampas Motor
KEPANJEN – Dua remaja remaja yakni HL, 17 tahun, warga Dusun Baran, Desa Gunungsari, Kecamatan Tajinan dan NW, 16 tahun, warga Dusun Glendengan, Desa Ngingit, Kecamatan Tumpang ditangkap petugas Reskrim Polres Malang, kemarin. Keduanya ditangkap petugas kepolisian, lantaran sering melakukan perampasan sepeda motor.
“Keduanya ini merupakan pengembangan tersangka yang ditangkap sebelumnya, yakni Irawan. Kedua tersangka ini kami jerat dengan pasal 365 KUHP tentang pencurian disertai kekerasan, yang ancaman hukumannya sembilan tahun penjara,” ungkap Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat SIK kepada Malang Post, kemarin.
Dijelaskannya, keduanya ini biasa beraksi secara berkelompok melalui gengnya dengan sasaran adalah pengguna sepeda motor. Modus yang digunakan, mereka berkumpul di pinggir jalan, sebelum memulai aksinya. Kemudian, mereka membuntuti korbannya dari belakang, sebelum melakukan perampasan sepeda motor tersebut.
“Mereka ini biasa beraksi di Poncokusumo, Tumpang, Tajinan dan Buring Kota Malang. Modus yang digunakan, mereka mencegat calon korbannya. Bila tidak berhenti, mereka berbuat kasar, dengan menendang sepeda motor korbannya tersebut,” ujar Perwira Pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya tersebut.
Setelah korbannya tersungkur, barulah sepeda motor tersebut diambil secara paksa. Dalam menjalankan aksinya, kata dia, komplotan ini tidak segan-segan melukai korbannya. Sedangkan senjata yang digunakan untuk mengancam korbannya yakni berupa parang, pedang, celurit dan pisau.
“Meski usianya masih remaja, mereka sudah sering kali melakukan kejahatan tersebut,” urai mantan Kasat Reskrim Polres Tuban ini.
Saat ini, pihaknya masih memburu tiga pelaku lainnya yang termasuk dalam komplotan tersebut. Sedangkan keduanya ditangkap di rumahnya masing-masing saat malam Hari Raya Idul Fitri.
Sedangkan pengakuan HL di hadapan penyidik yang memeriksanya, dia diajak Irawan untuk melakukan kejahatan tersebut. “Saat menjalankan aksinya, biasanya kami berjumlah enam orang. Mulannya, kami berkumpul di pinggir jalan, kemudian membuntuti korban yang mengendarai motor sendirian,” cetusnya.
Dia mengakui, apa yang dilakukannya bersama komplotannya tersebut adalah salah. Namun, kebutuhan ekonomi yang mendesak mereka melakukan hal itu. “Saya SD saja tidak tamat, bagaimana mau mencari pekerjaan. Makanya saya melakukan hal ini,” ucapnya. (big/feb)