Kekerasan Terhadap Anak Menurun

MALANG – Jumlah kasus persetubuhan dan kekerasan terhadap anak di wilayah Kabupaten Malang, masih cukup tinggi. Jika dibandingkan 2014 lalu, jumlahnya menurun. Hal itu berdasarkan jumlah kasus yang masuk di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang.
Untuk kasus persetubuhan, sampai bulan Juli pada tahun ini sebanyak 39 kasus. Dari 39 kasus tersebut paling banyak pada bulan Januari yaitu 10 kasus. Kemudian bulan Februari 2 kasus, Maret 7 kasus, April 6 kasus, Mei 3 kasus, Juni 4 kasus dan Juli 5 kasus.
“Dari 39 kasus yang masuk, baru 27 kasus yang sudah kami selesaikan. Sisanya 12 kasus, saat ini masih proses penyelidikan,” ungkap Kanit UPPA Polres Malang, Iptu Sutiyo, SH, Mhum.
Lalu untuk kasus pencabulan, sampai bulan Juli ada 4 kasus. Yaitu pada bulan Januari 1 kasus, Februari 2 kasus dan April 1 kasus. Tiga dari empat kasus berhasil dituntaskan. Kemudian kasus penganiayaan terhadap anak sampai bulan Juli ada 10 kasus, dimana enam diantaranya sudah diselesaikan.
Selanjutnya kasus membawa lari sampai bulan Juli ada 9 kasus dengan berhasil menyelesaikan 3 kasus. Sedangkan kasus pengeroyokan hanya ada satu kasus dan berhasil diselesaikan.
Sedangkan sepanjang 2014 mulai bulan Januari sampai Desember, untuk kasus persetubuhan ada 85 kasus dan berhasil menyelesaikan 67 kasus. Paling banyak terjadi pada bulan Mei sebanyak 11 kasus kemudian disusul bulan Agustus sebanyak 10 kasus. Lalu kasus pencabulan ada 16 kasus, dimana 11 kasus berhasil diselesaikan.
Kemudian kasus penganiayaan ada 20 kasus dimana 14 kasus berhasil dituntaskan. Selanjutnya kasus membawa lari ada 8 kasus dimana 4 kasus telah dituntaskan. Dan kasus pengeroyokan ada 4 kasus, lalu 3 kasus sudah diselesaikan dan satu kasus masih menjadi tanggungan.
Menurut Sutiyo, dari beberapa kasus kejahatan terhadap anak tersebut, usia korban dikelompokkan menjadi dua golongan. Yaitu usia antara 12 tahun sampai 16 tahun, dan usia 16 tahun sampai 18 tahun.
“Paling banyak yang menjadi korban persetubuhan adalah anak usia 16 tahun sampai 18 tahun. Faktornya karena korban dirayu oleh pacarnya, kemudian dijanjikan akan dinikahi untuk diajak melakukan hubungan badan,” terangnya.
Sedangkan untuk kasus penganiayaan dan pengeroyokan, dikatakan Sutiyo karena antara korban dan pelaku saling mempertahankan ego dan pendapatnya masing-masing. Mereka lebih mengedepankan emosional dari pada menyelesaikan secara kekeluargaan.
“Sedangkan untuk kasus membawa lari ini, karena korban dibawa lari oleh pamannya, saudaranya atau pacarnya,” katanya.
Untuk menekan angka kejahatan terhadap anak, terutama untuk kasus persetubuhan dan pencabulan, Polres Malang telah melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Termasuk bekerjasama dengan petugas P2TP2 Kabupaten Malang. Juga memberikan imbauan bahwa melakukan seks terhadap anak adalah tindakan kejahatan besar.
Oleh karenanya, untuk menekan masalah ini semua stake holder harus bersama-sama memiliki tanggungjawab. “Jika di rumah orangtua harus ikut mengawasi. Jika disekolah, guru, kepala sekolah dan BP harus bertanggungjawab. Termasuk di lingkungan, anak juga harus mendapat perhatian,” tandasnya.(agp/feb)