Bunuh Diri Setelah Pulang dari Kalimantan

MALANG POST – Entah apa yang ada di benak Mohammad Solikin, 63 tahun, warga yang tinggal di Warga Jalan Mergosono Gg 3 RT01 RW04, Kedungkandang. Kemarin bapak dua anak ini memilih mengakhiri hidupnya, dengan cara gantung diri. Jenazahnya ditemukan menggantung di dapur rumahnya, dengan leher terjerat tali tampar warna biru.
“Tidak ditemukan tanda-tanda yang mencurigakan di tubuh korban. Namun untuk proses penyelidikan, jenazah kami bawa ke kamar jenzah RSSA Malang,’’ kata Kapolsekta Kedungkandng Kompol Putu Mataram, kemarin.
Tewasnya korban, kali pertama ditemukan oleh salah satu adiknya, Syaiful Bachri, 47 tahun. Siang itu, Syaiful yang sedang mengerjakan pesanan meja, di depan rumahnya, memilih istirahat. Seperti biasa, waktu istirahat dimanfaatkannya dengan makan dan minum. “Saya makan di ruang depan, kemudian berniat mengambil minum di belakang. Saat ke belakang saya melihat kakak menggantung,’’ kata Syaiful.
Pemandangan itu membuat Syaiful kaget, dia pun meminta tolong warga. “Saya tidak berani memegang. Jadi saya meminta tolong warga,’’ katanya, yang mengatakan saat itu dia memanggil H Ishak, tetangganya.
Tapi sebelum Syaiful dan Ishak kembali ke dapur, tubuh Syaiful justru sudah jatuh ke lantai.
Ada kemungkinan, jatuhnya tubuh Solikin karena tali tampar yang digunakan korban rapuh dan tidak kuat menahan beban tubuhnya. “Setelah jatuh kami tetap tidak berani memegang. Saya memilih untuk lapor ke pak RT,’’ tambah Syaiful dengan mimic sedih.
Ditanya apakah Solikin punya masalah? Syaiful menggelengkan kepala. Kepada Malang Post, Syaiful menceritakan jika kakanya baru empat bulan ini di Malang. Sebelumnya dia bekerja di Kalimantan. Selama pulang, Solikin tidak pernah bercerita apa-apa.
“Tadi malam kami masih tidur sama-sama di ruang depan ini. Tadi pagi (kemarin) jam 09.00 juga sempat minta rokok, saya kasih. Dia juga tidak terlihat ada masalah, semuanya biasa saja. Makanya, saya kaget kok tiba-tiba seperti ini,’’ katanya.
Sri Andayani, salah satu adik yang tinggal dengan korban mengatakan tidak pernah mendengar kakaknya mengeluh. Menurutnya, saat pulang dari Kalimantan Maret lalu, kakaknya bekerja serabutan. Dan selama ini, dia juga tidak pernah menceritkan sedang ada masalah. “Kakak saya ini duda, bercerai dengan istrinya sudah lama, sekitar 20 tahun lalu. Dia pernah kerja di Kalimantan, pulang Maret lalu,’’ kata wanita yang akrab disapa dengan Ani ini.
Disinggung tentang tali tampar yang digunakan korban mengakhiri hidup, Ani langsung menggelengkan kepala. Kepada Malang Post dia mengaku tidak pernah menyimpan tali tampar. “Saya tidak tahu dari mana asalnya tali tampar tersebut. Saya dan suami tidak pernah menyimpannya,’’ katanya.
Sementara kabar tewasnya Solikin bunuh diri kemarin langsung tersebar. Imbasnya, warga pun berdatangan ke rumah tempat Solikin ditemukan tewas meski mereka tidak bisa bebas melihat jenazah korban, lantaran petugas Polsekta Kedungkandang menjaga TKP dengan ketat.(ira/han)