Ramai Pilkada, Upal Rp 730 Juta Nyaris Beredar

Uang palsu senilai Rp 730 juta yang berhasil diamankan oleh Polres Malang Kabupaten.

KEPANJEN–Di tengah ramainya proses pilkada Kabupaten Malang, Polisi berhasil mengamankan uang palsu senilai Rp 730 juta. Uang palsu itu disita dari dukun bernama Happy Satria alias Mbah Demang, 41 tahun, warga Dusun Krajan, Desa Sukoanyar, Kecamatan Wajak. Pria beristri tiga ini memiliki uang palsu (upal) senilai Rp 730 juta, senjata api (Senpi) jenis airsoft gun dan sejumlah peluru aktif.
Pengakuan tersangka di hadapan penyidik yang memeriksanya, dia mendapatkan uang tersebut dari salah seorang temannya di Surabaya. Upal itu, menurut Happy hanya untuk dikoleksi di rumahnya. Dia membantah, jika uang itu untuk alat maupun media menjalankan kejahatan.
“Saya beli upal ini senilai Rp 3 juta dan mendapatkan nominal senilai Rp 730 juta. Tujuannya saya membeli upal itu, hanya untuk koleksi di rumah,” ujar Mbah Demang.
Dia mengaku bahwa seorang dukun asli, bukan dukun palsu. Lantaran dia juga mengaku bisa menyembuhkan beberapa macam penyakit.  “Saya punya perewangan sebanyak 26 Jin. Saya pernah bertapa di Gunung Lawu, Gunung Arjuna dan Gunung Dieng,” akunya.
Selain bisa menyembuhkan beberapa macam penyakit, dia juga acap kali menerima jasa ruwatan. Sedangkan kegiatan ini, sudah dilakukan selama satu tahun terakhir. “Saya juga pernah dipenjara kasus penganiayaan. Jadi, ini bukan kali pertama saya dipenjara dan berhadapan dengan hukum,” katanya enteng.
Kapolres Malang, AKBP Aris Haryanto SIK menegaskan bahwa penangkapan tersangka ini bermula dari laporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Polsek Pakis. “Kemudian, saat kami lakukan pemeriksaan di rumah istri ketiganya di Tajinan, ditemukanlah sejumlah barang bukti yang kami amankan ini,” ungkap kepada wartawan, kemarin.
Dijelaskannya, pihaknya saat ini tengah mendalami kasus ini. Termasuk juga mendalami asal muasal tersangka mendapatkan upal dan senpi tersebut. Pasalnya, diduga kedua barang bukti itu sebagai alat untuk melakukan tindakan kejahatan. Apalagi dia juga berprofesi sebagai dukun, yang juga diduga sebagai kedok untuk menjalankan aksinya.
“Sejauh ini, belum adas laporan dari masyarakat yang menjadi korban dari tersangka ini. Untuk itu, kami mengimbau kepada masyarakat yang pernah ditipu oleh tersangka ini, supaya melaporkannya kepada kami,” terang mantan Kapolres Pacitan tersebut.
Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk sementara tersangka dijerat dengan Undang-Undang (UU) Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senpi tanpa izin. Sedangkan ancaman hukumannya sendiri, maksimal 20 tahun kurungan penjara.
“Yang kami ketahui, tersangka ini merupakan residivis kasus penganiayaan. Belum ditemukan riwayat kejahatan lainnya,” kata Perwira Menengah (Pamen) dengan dua melati di pundaknya ini.(big/ary)