Membunuh karena jengkel diusir

MALANG – Motif pembunuhan sadis yang dilakukan Abdullah Lutfianto, terhadap istri dan anaknya akhirnya mulai terkuak. Kemarin jagal asal Jabung  54 tahun ini, mulai buka mulut. Ia mengaku melakukan pembunuhan karena merasa jengkel, lantaran akan diusir dari rumahnya. Itu setelah istrinya Wiwik Halimah, 48 tahun, memutuskan untuk menceraikan Abdullah.
“Saya khilaf. Sebab sebelumnya saya dimarahi dan diusir untuk pulang ke rumah Pajaran Poncokusumo,” tutur Abdullah, dengan nada terbata-bata ketika ditanya Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA) Aris Merdeka Sirait, saat melihat kondisi Abdullah di ruang isolasi RSSA Malang, kemarin siang.
Hanya saja, ketika ditanya bagaimana peristiwa pembunuhan malam itu, Abdullah terdiam. Ia langsung mengambil nafas panjang, dengan kedua matanya menatap ke atas. Bapak dua anak itu masih tidak bisa mengingat kejadian malam itu. Termasuk senjata tajam apa yang digunakan untuk membunuh tidak diingatnya.
Begitu juga ketika ditanya cairan apa yang diminumnya, Abdullah sudah berubah. Sehari sebelumnya ia mengatakan meminum bensin dengan cairan pembersih lantai, tidak minum obat asma. Namun kemarin ketika ditanya lagi, ia mengaku hanya minum teh dan obat asma untuk sesak nafas.
Sementara itu, Aris Merdeka Sirait, mengatakan kedatangannya ke RSSA Malang, untuk memberikan support kepada penyidik Polres Malang. Sebab pembunuhan yang dilakukan oleh Abdullah tergolong sadis, dengan menghilangkan nyawa istri dan anaknya. “Tetapi konsentrasi saya, karena ada anaknya yang dibunuh. Dan kejadian ini harus ditindaklanjuti dan bisa dipertanggungjawabkan secara hukum,” jelas Aris.
Aris mengingatkan, dengan kejadian ini maka setiap keluarga harus waspada. Masalah pekerjaan atau ekonomi, tidak bisa dijadikan kambing hitam untuk melakukan pembunuhan. Kejadian ini sekaligus menjadi pelajaran di Kabupaten Malang, supaya meredivinisi ulang fungsi keluarga.
“Keluarga itu adalah garda terdepan untuk melindungi dan membahagiakan anak. Kalau orangtua tidak bisa menjaga anak, maka fungsi keluarga tidak ada,” katanya.
Menurutnya, kejadian kekerasan terhadap anak, Jawa Timur ini berada diurutan ketujuh dari 34 provinsi di Indonesia. Kejadian kekerasan terus menerus terjadi. Sebelumnya kejadian kekerasan terhadap anak pernah terjadi di Gresik, Kediri dan Sidoarjo. Ada 28 persen kekerasan rumah tangga yang berdampak pada anak-anak.
“Hentikan kekerasan rumah tangga sekarang juga. Kekerasan rumah tangga ini, bisa dilakukan suami atau istri. Dan dampaknya selalu anak yang menjadi korbannya. Kasus Abdullah ini bisa dijerat dengan undang-undang KDRT. Karena ada anaknya yang menjadi korban, maka juga bisa dijerat dengan undang-undang perlindungan anak,” sambungnya.
Kejadian ini, menjadi momentum bahwa rumah harus ramah anak, dan itu masuk program pemerintah. Negara harus bisa hadir untuk menciptakan rumah ramah anak. “Pemerintah Daerah harus mensosialisasikan untuk mencegah KDRT ini. Caranya harus melahirkan Perda tentang perlindungan anak dan perempuan. Karena Perda tersebut bisa digunakan di sekolah, masyarakat atau RT sebagai dasar perintah perintah Perda supaya menjadi rumah ramah anak,” paparnya.
Terpisah, Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat mengatakan bahwa Kamis malam lalu telah melakukan olah TKP ulang. Dari olah TKP tersebut ditemukan beberapa barang bukti yang terdapat percak darah. Termasuk untuk mengetahui dimana kali pertama kedua korban dibunuh oleh Abdullah.
Selain olah TKP, polisi juga telah memeriksa orangtua Wiwik Halimah. Dalam keteranganna didapat bahwa Senin pagi sebelum kejadian, baik Abdullah dan istrinya sempat dipertemukan di Balai Desa Argosari, Jabung. Dalam pertemuan itu, Wiwik memutuskan untuk menceraikan Abdullah. Selama proses cerai, rencananya Selasa pagi keluarga Abdullah di Pajaran Poncokusumo, diundang untuk menjemput Abdullah. Namun sebelum dijemput, malam harinya terjadi pembunuhan.
“Setelah pertemuan di desa itu, Wiwik sudah disarankan oleh Kepala Desa untuk tidur di rumah orangtuanya, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Termasuk ibunya sudah menyarankan untuk tidur di rumahnya. Tetapi Wiwik tidak mau dan memilih untuk tetap tidur di rumahnya,” jelas Wahyu Hidayat.
“Termasuk Putri, anak keduanya ketika pulang sekolah pukul 17.00 juga disarankan oleh neneknya untuk tidur di rumah neneknya. Tetapi putri tidak mau karena ingin tidur menemani ibunya,” sambungnya.
Selain itu, juga diperoleh keterangan, bahwa setelah pertemuan di desa, Abdullah mengurung diri di dalam kamar. Ia keluar kamar ketika ambil minum dan makan. Kemudian saat salat maghrib dan isya, pergi ke Masjid. Namun setelah itu juga mengurung di dalam kamar. “Malamnya sekitar pukul 22.30, anak pertamanya Andri, yang mau berangkat kerja masih melihat Abdullah di kamar. Sedangkan ibu dan adiknya tidur di kamarnya dengan pintu dikunci slot dari dalam. Kemungkinannya, sebelum membunuh Abdullah mendobrak pintu kamar dulu,” paparnya.
Sementara itu, kondisi Abdullah sudah mulai membaik. Kondisi kesehatannya sudah mulai stabil, meskipun masih harus butuh perawatan intensif. Selang oksigen yang sebelumnya terpasang di hidung, sudah dilepas.(agp/nug)