Ancam Bunuh Tiga Sipir!

Seruan Jihad Membahana di Lapas Lowokwaru

MALANG – Pemindahan sembilan Narapidana (Napi) teroris di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Lowokwaru, memancing reaksi dari puluhan simpatisan mereka di Jawa Timur. Puluhan simpatisan tersebut, kemarin (9/8/15) sekitar pukul 10.45 WIB beramai-ramai datang ke Lapas, berkumpul di sana sambil meneriakkan takbir.
Kedatangan para jamaah yang mengaku Mujahidin ini didampingi Kabag Ops Polres Malang Kota Kompol Sunardi. Aksi massa tersebut, dilakukan secara mendadak. Keramaian ini lantas membuat heboh lingkungan di sekitar Lapas Lowokwaru. Warga sekitar keluar rumah untuk melihat pemandangan tak biasa itu. Para pengendara yang melintas, tak bisa memalingkan perhatian dari suasana tegang di halaman depan Lapas Lowokwaru.
Sumber Malang Post menyebutkan, bahwa simpatisan teroris itu berasal dari berbagai daerah, seperti Jombang, Lamongan, Pasuruan, Batu, sampai Surabaya. Mereka merupakan kelompok Amrozi yang masih memiliki keterkaitan dengan bom Bali. "Masih ada kaitannya sama bom Bali," kata sumber yang namanya enggan disebut itu.
Informasi yang dihimpun, sejak proses pemindahan sembilan Napi teroris pada Sabtu (8/8/15) malam lalu, memang sudah ada simpatisan yang mondar-mandir di Lapas, jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar satu sampai dua orang. Pada Minggu (9/8/15) pagi, jumlah mereka bertambah. Baru pada pukul 10.45 WIB mereka membawa massa sekitar 50 orang ke depan Lapas.
Di depan pintu masuk Lapas, simpatisan teroris itu menuntut penjelasan atas kasus yang menimpa ikhwan mereka. Beberapa kali, para simpatisan tersebut meneriakkan takbir dan dilanjutkan dengan kata "Sabiluna, Sabiluna. Al jihad, Al jihad". Sebagian simpatisan pada aksi tersebut, memakai masker. Beberapa juga memakai topi atau kopiah.
"Kami ingin meminta penjelasan dari sipir. Ikhwan kami dianiaya oleh sipir,"  kata M Romli yang memimpin aksi kemarin siang ini.
Catatan Malang Post, M Romli merupakan sosok yang pernah mendeklarasikan Jamaah Anshorul Khilafah Jawa Timur di sebuah masjid di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang tahun lalu.
Romli beranggapan, kesembilan rekannya itu menjadi korban pemukulan dan pelemparan batu oleh sipir dan Napi lainnya. Sehingga, ini membuat mereka marah dan menggiring massa ke LP Lowokwaru. "Qhishas (pembalasan), Qhishas, Qhishas," ujar massa aksi.
Sambil berteriak dengan pengeras suara, Romli mengatakan kalau ia akan mencari petugas Lapas yang melakukan pemukulan terhadap temannya. "Kalau tidak ketemu, saya akan cari dan bunuh dia," ancamnya.
Beberapa lama kemudian, sejumlah perwakilan massa dipanggil masuk untuk menemui pihak Lapas. "Selama saya masuk, jangan berbuat apa-apa. Jangan mulai memukul. Bila dipukul satu kali, balas satu kali. Itulah Islam," kata Romli di hadapan massa aksi sebelum masuk ke dalam Lapas.
Pertemuan antara massa aksi dengan pihak Lapas berlangsung lambat. Sambil menunggu pertemuan berakhir, massa aksi melaksanakan Shalat Dhuhur berjamaah di halaman depan Lapas Lowokwaru. Baru pada pukul 12.50 WIB, pertemuan berakhir dan perwakilan keluar dari dalam Lapas.
Sekeluarnya dari Lapas, Romli melontarkan kekecewaannya terhadap sipir kepada massa aksi. "Kami sudah melakukan sebuah pertemuan, intinya sipir yang tiga orang ini tidak mau diberikan datanya kepada kita. Yapin, Agus dan Miko masih dicari. Saya tidak tahu apakah ini kebohongan dari pihak Lapas atau sungguh-sungguh," teriak Romli.
Ya, Yapin, Agus dan Miko ini merupakan tiga sipir yang mereka duga telah menzalimi sembilan temannya itu. "Mari kita ke masjid. Jalan yang tertib. Seperti saya bilang tadi, kalau dipukul satu kali, balas pukul satu kali. Kalau dipukul berkali-kali, habisi saja," cetusnya.
Diwawancarai, Romli mengatakan kalau pihaknya tetap akan menuntut Kalapas memberikan data sipir yang dianiaya dan menzalimi temannya di LP. "Masih ada pertemuan lagi, ini masih berlanjut. Karena tadi penjelasannya mutar-mutar. Kelompok saya sekarang dipecah-pecah, ini jadi masalah," pungkasnya.
Dikatakan, ia akan membawa massa lebih besar lagi bila ada kezaliman dari sipir.

Kabid Kegiatan Kerja Lapas Lowokwaru Effendi Yulianto menyebut, kalau tiga nama sipir yang disebutkan Romli sebenarnya tidak ada. Dalam pertemuan kemarin, Effendi mengatakan kalau pihak Lapas, yakni petugas Ide yang menegur seorang Napi teroris karena batas jam bezuknya sudah habis.
"Tapi Ide menjadi korban. Mereka mengira kalau teman mereka yang menjadi korban. Nama tiga sipir itu juga tidak ada," kata Effendi.(erz/ary)