Bakar Ladang Tebu, Petani Tewas Terpanggang

Petugas melakukan olah TKP dan evakuasi tubuh korban Trimo, yang tewas terbakar.

MALANG - Warga Dusun Tambaksari, Desa Jatisari, Kecamatan Pakisaji, siang kemarin digemparkan dengan kejadian tragis yang menimpa Trimo, warga setempat. Pria tua berusia 80 tahun tersebut, tewas terpanggang saat membakar daduk (daun kering) tanaman tebu, yang baru saja dipanen. Korban terjebak di tengah kebun tebu karena tidak bisa berlari.
Usai dievakuasi, jenazah korban langsung dibawa ke kamar jenazah RSSA Malang untuk dimintakan otopsi. "Jenazahnya kami bawa ke rumah sakit untuk keperluan otopsi. Jika keluarga nantinya keberatan dilakukan otopsi, maka kami sarankan untuk membuat surat pernyataan," ungkap Kapolsek Pakisaji, AKP Amung Sri Wulandari kepada Malang Post kemarin.
Peristiwa yang menggemparkan warga ini, terjadi sekitar pukul 11.00. Saat itu, korban seorang diri pergi ke lahan tebu milik Suripto, anak menantunya yang berjarak sekitar satu kilometer. Ia ke kebun tebu berniat membakar daduk, setelah sepekan lalu tanaman tebu dipanen.
Awalnya saat membakar daduk tidak ada masalah. Namun mungkin karena angin cukup kencang, api yang cukup besar merambat ke tanaman tebu milik Suripto yang disewakan kepada Hari Mulyono, yang belum dipanen dan ada di sebelahnya.
Melihat api merambat ke lahan tebu lain, korban langsung berlari masuk ke lahan tebu. Niatnya ingin memadamkan api. Namun api justru malah membesar, sehingga korban terkepung api dan terbakar.
"Saat korban berlari ke kebun tebu, ada saksi Juwariyah yang melihatnya. Saksi sempat meneriakinya supaya korban tidak masuk ke dalam lahan tebu. Namun karena jarak saksi cukup jauh, apalagi pendengaran korban juga terganggu sehingga tidak mendengar," jelasnya.
Mengetahui Trimo masuk lahan tebu, saksi serta penebang tebu lainnya yang melihat, langsung berlari bermaksud untuk menolong. Tetapi kobaran api yang semakin besar, membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Baru begitu api padam, diketahui kalau Trimo sudah tidak bernyawa. Tubuhnya hangus karena terpanggang.
Karena takut dengan kejadian itu, saksi dan penebang tebu lainnya lalu memberitahukan kepada perangkat desa. Selanjutnya melaporkan peristiwa tersebut ke petugas Polsek Pakisaji, untuk dilakukan olah TKP.
“Sebetulnya bapak (korban, red) sudah lama tidak ke kebun, sebab kami melarangnya untuk pergi ke kebun karena kondisinya yang sudah tua. Namun tadi (kemarin, red) kami kecolongan, tanpa sepengetahuan pergi ke kebun untuk membakar daduk sampai terjadi peristiwa kebakaran,” tutur Bambang, salah satu anak korban, sembari mengatakan menolak permintaan otopsi.
Kejadian petani tebu tewas terpanggang dikebun tebu, bukan kali pertama. Hampir setiap tahun, saat masa giling tebu ada petani yang naas di tengah kebunnya. September 2014 lalu, petani tebu asal Pakis juga terpanggang di tengah kebunnya. (agp/aim)