Kapolres : Waspada Provokasi Pihak Ketiga

MALANG – Kedatangan para simpatisan narapidana (Napi) teroris ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Lowokwaru Malang pada Minggu (9/8/15) lalu, diduga bermula dari pesan singkat dari salah seorang Napi teroris di sana. Hal ini diketahui dari sebuah tulisan di situs panjimas.com.
Dalam tulisan berjudul "Mujahidin di Lapas Lowokwaru Malang Diserang Ribuan Napi Kriminal, Para Aktivis Islam Segera Merapat!" itu, dituliskan isi pesan singkat yang dikirim salah satu Napi teroris di Lapas Lowokwaru saat kericuhan di Lapas Lowokwaru antara Napi teroris dengan Napi lainnya bentrok.
"Bismillah. Ikwahfillah harap merapat dong..kami semua dimalang sijn (sini, red) sedang chaos..Kami diprovokasi oleh thogut thogut..Dan kami diserang napi umum yg banyaknya sekitar 2000 napi dan kami sekarang didalem kamar bang fadly Makassar. Harap merapat y…Ke lp jatim…mohon do’anya ikhwa. Kamar pak tamrin di operasii..", begitu bunyi pesan singkat dari Napi teroris yang dalam situs tersebut, ditulis kalau pesan ini dikirim ke redaksi panjimas.com.
Terkait hal ini, redaksi panjimas.com belum memberikan konfirmasi. Menilik pesan singkat tersebut, diduga dikirim dari ponsel napi di Lapas. Sehingga patut diduga bahwa selama ini Napi teroris di Lapas Lowokwaru memiliki ponsel selama masa pidananya di dalam lapas. Hal ini jelas melanggar peraturan yang ada di Lapas.
Pasalnya, di Lapas Lowokwaru terdapat peraturan yang melarang Napi atau tahanan di sana membawa ponsel, karena dikhawatirkan dapat berkomunikasi dengan pihak luar dengan leluasa. Apalagi, dalam kasus ini Napi tersebut merupakan Napi teroris.
Seorang petugas Lapas Lowokwaru Malang menyatakan, bahwa pihak Lapas sebenarnya sudah menyediakan warung telepon (Wartel) di dalam Lapas untuk memberi kesempatan Napi berkomunikasi.
"Sudah ada wartel. Aturannya, tidak boleh bawa ponsel," ujar seorang petugas Lapas kepada Malang Post, kemarin.
Bahkan, pembesuk juga dilarang membawa ponsel saat bertemu dengan Napi atau tahanan di dalam Lapas. "Kami periksa, tidak boleh bawa barang yang mencurigakan. Bahkan, kalau buah besar kami belah dulu," kata petugas yang tak menyebut namanya itu.
Hal ini dilakukan petugas, salah satunya untuk mengantisipasi peluang Napi merencanakan sesuatu dengan pihak ketiga.
Meski begitu, sumber terpercaya Malang Post mengatakan, bahwa ia pernah tahu ada seorang Napi (bukan Napi teroris, Red) yang memiliki ponsel di Lapas. Bahkan, ia pernah dihubungi oleh salah satu Napi di Lapas Lowokwaru.
"Setahu saya memang tidak boleh. Tapi, saya pernah dihubungi oleh salah satu dari mereka (Napi)," ujar sumber minta namanya tidak dikorankan itu.
Dikatakannya, dirinya tidak tahu bagaimana ponsel itu bisa berada di tangan Napi tersebut. Sayangnya, sampai berita ini dimuat, pihak Lapas sulit dikonfirmasi. Kepala Lapas Lowokwaru Malang Enny Purwaningsih tidak bisa ditemui atau dihubungi. Didatangi ke kantornya kemarin, petugas Lapas mengatakan Kalapas sedang tak bisa ditemui. Ditelepon berkali-kali ke nomor handphone Enny di 0812927xxxx, tidak ada jawaban. Di-SMS dua kali, juga tidak ada balasan.
Sementara Kabid Pembinaan Lapas Lowokwaru Malang Karto Rahardjo saat ditanyai mengenai pesan singkat dari Napi teroris di Lapas melalui telepon, menjawab tidak tahu dan langsung menutup teleponnya. "Oh, kalau itu saya tidak tahu mas. Maaf, ini saya lagi menemani tamu," jelas Karto dan lekas menutup telepon.
Sebelumnya, pada unjuk rasa simpatisan teroris yang dilakukan di halaman depan Lapas Lowokwaru Minggu (9/8/15) lalu, Romli selaku pimpinan massa sempat ditanyai wartawan dari mana pihaknya mendapat informasi mengenai kronologis cerita sesuai dengan versinya. Namun, Romli tidak menjawab dan menghindar dari pertanyaan media.
Berdasarkan versi Romli, sembilan Napi teroris di Lapas Lowokwaru dianiaya tiga orang petugas sipir dan dilempari batu oleh ribuan Napi umum. Sedangkan versi Lapas, mengatakan kalau Napi teroris menendang seorang petugas (Ide) karena menegur William Maksum alias Acum, Napi teroris jaringan Abu Roban, saat sedang berada di kamar mandi bersama wanita yang diduga istrinya.(red/mp)