Mahasiswa Cabul Itu Aktivis Kampus

MALANG – GM, mahasiswa Universitas Brawijaya yang teracuni Japanese Adult Video (JAV) adalah aktivis di lingkungan kampus. GM tercatat bolak-balik ikut serta dalam kepanitiaan dan organisasi intern kampus. Menurut pengakuan salah satu teman yang enggan disebut namanya, GM bahkan pernah menjadi ketua pelaksana dalam agenda student day.
Student day adalah rangkaian lanjutan agenda pengenalan kehidupan kampus (ospek, red) yang digelar pasca ospek resmi dari universitas. Saat menjadi ketua pelaksana itu, GM adalah orang yang sangat pandai berbicara di depan publik. Ia dengan mudah mengutarakan ide-ide di depan panitia lain dan juga mahasiswa baru. ”Public speaking-nya memang bagus. Tapi kalau untuk hubungan secara personal dia cukup pendiam,” ungkap mahasiswa yang mengaku pernah dalam satu kepanitiaan tersebut.
Tak hanya kepanitiaan, GM juga aktivis dalam Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) tingkat fakultas. Organisasi ini notabene memiliki stratifikasi setara dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Jadi bisa dikatakan, GM adalah mahasiswa yang suka berorganisasi di kampus. ”MPM kan memang terdiri dari perwakilan jurusan. Jadi per jurusan itu ada tiga perwakilan yang masuk di MPM. Nah, dia termasuk dalam perwakilan jurusannya itu,” imbuhnya.
Temannya juga tidak pernah mengetahui secara pasti kegemaran aneh GM. Yang ia ketahui sekadar kenakalan mahasiswa seperti bolos kuliah dan merokok. ”Setahu saya ya cuma nakal-nakalnya anak kampus aja, kayak suka nggak masuk kuliah dan ngerokok. Yang lain saya nggak tahu karena memang tidak terlalu dekat,” tegasnya.

Penyimpangan Seks
Sementara Ratri Purwanti, M.Psi, salah satu psikolog klinis menyatakan masih belum mengetahui secara pasti perihal yang terjadi dengan GM. Ia belum dapat menyatakan perilaku GM sebagai penyimpangan seksual karena harus melalui beberapa tahapan.  ”Masih perlu wawancara dengan korban juga ada tes-tes tertentu untuk tahu si pelaku ini sadar atau nggak saat melakukan itu,” paparnya.
Ia menyatakan, perlu ditelisik lebih jauh apakah tersangka terganggu dengan obat-obatan dan minuman keras atau tidak. Karena bisa jadi ada gangguan obat-obatan terlarang atau bisa juga a memang secara sadar melakukan tindakan semacam itu.
”Apakah ada pengaruh obat-obatan atau memang ada gangguan di mentalnya saya masih belum tahu. Jadi belum bisa menyimpulkan,” paparnya.
Sementara Zainul Anwar, M.Psi., psikolog lain menyatakan, perilaku GM memiliki dua kemungkinan. Yang pertama, bisa jadi memang ada gangguan mental dari tersangka akibat hobi menonton Japanese Adult Video (JAV) yang tak bisa ditekan.  ”Mungkin awalnya justru dia normal. Namun karena iseng nonton film itu, akhirnya lama-lama masuk, menjiwai dan tidak bisa mengontrol,” ungkapnya.
Gangguan itu yang dinamakan hiperseks itu kemudian dianggap sebagai penyimpangan karena adanya faktor norma dan budaya di masyarakat. ”Bisa jadi kalau hal tersebut terjadi di luar Indonesia ya tidak disebut menyimpang. Nah kebetulan tindakan itu ditemukan di Indonesia, makanya disebut sebagai perilaku menyimpang,” imbuhnya.
Selain tidak sesuai dengan norma masyarakat, tindakan semacam itu juga jarang dilakukan oleh kebanyakan orang. Jadi kemudian banyak orang menjudge bahwa perilaku yang dimiliki adalah abnormal. Lebih lanjut, Zainul menambahkan, gangguan semacam itu bisa saja sembuh asalkan ada kemauan dari pelaku. Yang diperlukan adalah oranglain yang menyadarkan bahwa apa yang dilakukan memang tidak sesuai dengan budaya di masyarakat.
”Memang harus ada orang lain yang membantu mengontrol. Kebiasaan itu mungkin terjadi karena si pelaku menganggap kebiasaannya adalah hal biasa dan wajar. Namun kalau masyarakat sekitar kemudian memberikan cercaan, bisa jadi dia sadar dan mau berubah,” lanjutnya.
Di samping kemungkinan adanya gangguan, juga bisa jadi karena masalah gaya hidup. Menurut Zainul, bisa jadi pelaku terpengaruh oleh teman sekitarnya yang juga melakukan hal serupa. Namun karena faktor sungkan, akhirnya ia ikut-ikutan dan terjerumus. ”Seperti halnya ada lima teman. Yang empat merokok yang satu tidak. Yang satu ini lama-lama kan tidak enak kalau tidak ikut merokok. Nah, akhirnya ia ikut atas dasar keterpaksaan. Begitu juga dengan kasus ini, bisa jadi semacam itu,” pungkasnya.(nas/han)