Pagi Ini, Gama dan SAN Jalani Rekonstruksi

Hari ini kasus pembiusan dan perkosaan yang  menjerat pasangan kekasih Gama Mulya, 24 tahun, warga Perum Asrikaton Indah B1/12, Pakis Kabupaten Malang dan SAN, 20 tahun, Warga  Jalan Raya Beji, Junrejo, Batu direkonstruksi. Kedua tersangka ini, akan menunjukkan peran mereka masing-masing sesuai dengan perbuatan yang dilakukan saat peristiwa terjadi.
Kasatreskrim Polres Malang Kota AKP Adam Purbantoro menjelaskan, rekonstruksi ini digelar untuk meyakinkan penyidikan. “Sejauh ini kedua tersangka ini cukup kooperatif dalam memberikan keterangan. Tapi keterangan akan semakin meyakinkan dengan rekonstruksi, di mana masing-masing tersangka memerankan adegan yang dilakukan saat kejadian,’’ katanya.
Ditemui Malang Post di ruang kerjanya, pria dengan tiga balok di pundak ini menyebutkan jika dalam rekonstruksi akan melibatkan dua tersangka, penasihat hukum tersangka, penyidik, dan para saksi. “Setiap adegan akan diperankan masing-masing tersangka. Dengan adegan yang diperankan itulah, nanti akan diketahui apakah keterangan yang disampaikan itu kurang atau lebih,’’ tambah Adam.
Rekonstruksi dengan akan digelar sesuai dengan masing-masing TKP. Yaitu mulai dari tempat korban, lokasi pembiusan hingga di rumah Gama, di Perum Asrikaton Indah, tempat korban diperkosa. “Besok, rekonstruksi digelar mulai pukul 08.00. Kami menggunakan TKP sebagai tempat rekonstruksi untuk mendapatkan gambaran detail aksi yang dilakukan keduanya,’’ urainya.
Sementara itu, Adam juga mengatakan jika pihaknya terus melakukan pendalaman terkait kasus ini. Terlebih, petugas juga menemukan banyak foto wanita bugil dalam tablet milik Gama. “Kita masih melakukan penyelidikan. Kami belum bisa memastikan, apakah foto-foto wanita bugil yang ada dalam tablet tersebut adalah kekasih tersangka GM atau korban-korban lainnya,’’ terang Adam.
Adam mengakui jika kasus Gama dan SAN ini merupakan kasus unik, dan baru kali pertama terjadi di Polres Malang Kota. Oleh karenanya, kasus ini  menjadi atensi. Tapi lantaran perkosaan ini dilakukan di wilayah Kabupaten Malang, Kasat pun menyarankan agar korban melapor ke Polres Malang.

Langgar Kode Etik, UB Jatuhkan Skorsing 
Penyidikan kasus Gama Mulya dan SAN terus berlanjut dan mendapatkan perhatian khusus dari pihak kampus. Bahkan, jika kedua mahasiswa tersebut ternyata dinyatakan bersalah, Tim Kode Etik Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) mengusulkan kepada Rektor untuk melepaskan statusnya sebagai mahasiswa.
Usulan itu masih akan ditindaklanjuti sembari menunggu proses hukum Gama dan SAN selesai. Untuk sementara, mereka berdua akan dijatuhi skorsing karena telah dianggap melanggar 3 butir ayat dalam peraturan rektor UB nomor: 328/PER/2011 tentang Kode Etik Mahasiswa pada pasal 9 tentang hubungan antara sesama mahasiswa.
Pertama dianggap melanggar ayat (g) yang berbunyi “tidak melakukan ancaman atau tindakan kekerasan terhadap sesama mahasiswa baik di dalam lingkungan mapun di luar lingkungan Universitas. Kedua ayat (j) yang berbunyi “bersama-sama menjaga nama baik Universitas dan tidak melakukan tindakan tidak terpuji yang merusak citra baik universitas".
Selain itu juga dinilai melanggar ayat (m) yang berbunyi “tidak mengajak atau mempengaruhi mahasiswa lain untuk melakukan tindakan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma hukum dan norma lainnya yang hidup di tengah masyarakat".
Anang Sujoko, Ssos., Msi., DCOMM, Kepala Unit Informasi dan Kehumasan UB menyatakan, pihak kampus sepenuhnya menyerahkan penyelesaian permasalahan tersebut melalui jalur hukum.
”Untuk sementara karena ketetapan hukum masih belum ada, maka kami jatuhkan skorsing. Jadi mereka memiliki hak untuk kuliah, namun tidak kami perbolehkan. Skorsing ini akan dilakukan selama proses hukum dijalankan,” ungkap pria yang juga sebagai dosen jurusan ilmu komunikasi UB tersebut.
Ia juga tidak mengelak rencana pemecatan Gama dan SAN sebagai mahasiswa UB. Menurutnya, jika memang mereka terbukti bersalah dan dijatuhi pidana, maka mereka akan dikeluarkan dari kampus.
”Kalau memang terbukti bersalah ya akan kami keluarkan. Sementara ini kan masih proses. Kami akan memanggil masing-masing wali untuk membicarakan kasus anak-anaknya itu,” tuturnya.
Namun, putusan untuk melepas status mahasiswa UB dari kedua pelaku itu juga harus hati-hati dengan sepenuhnya menyerahkan masalah pada pihak kepolisian. ”Kami tidak mau memperburuk kondisi dengan membuat keputusan gegabah. Komunikasi orang tua dulu sementara ini yang akan kami lakukan,” tegasnya.(nas/ira/ary)