Anggota DPRD Tertipu Wakil Ketua Dewan Jatim Abal-abal

Tersangka Sai yang berhasil menipu anggota DPRD Kabupaten Bangkalan berhasil ditangkap petugas.

SURABAYA- Seorang anggota DPRD Kabupaten Bangkalan dari Partai Demokrat tertipu orang yang mengaku anggota DPRD Provinsi Jatim. Dia menyetor uang senilai Rp 111 juta, namun proyek kelompok masyarakat (Pokmas) yang dijanjikan pelaku tak kunjung terealisasi. "Kami mendapat laporan pengaduan penipuan melalui handphone atau SMS (pesan singkat)," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol RP Argo Yuwono saat jumpa pers di Mapolda, Jalan A Yani, Surabaya, Kamis (13/8/2015).
Tersangka SI (Sai) warga Bangkalan ini mencatut nama Iskandar-Wakil Ketua DPRD Pemprov Jatim dari daerah pemilihan Madura. Dia menghubungi korban seorang anggota dewan dari fraksi Demokrat DPRD Bangkalan.
"Korban dari anggota dewan di Bangkalan. Korban ditelepon tersangka yang mengaku sebagai anggota dewan provinsi Jawa Timur, menawarkan proyek kelompok masyarakat. Tersangka menelepon berkali-kali, hingga korban menerima penawarannya," tuturnya.
Korban disuruh tersangka membuat proposal. Setiap kegiatan, korban menyetor biaya Rp 1,5 juta sampai berkali-kali ke rekening tersangka. Jika ditotal uang yang sudah disetorkan korban ke tersanka mencapai Rp 111 juta. "Setelah ditunggu, tidak ada perkembangan hasil dari proyek yang dijanjikan. Nomor telepon tersangka juga tidak aktif saat dihubungi korban," tuturnya.
Karena merasa ditipu, korban melaporkan kejadian yang dialami ke kepolisian. Setelah diselidiki oleh penyidik Subdit II Perbankan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim, tersangka berhasil dibekuk di wilayah Kabupaten Jember.
Dari pengakuannya, tersangka tidak mengenal korban dan juga bukan anggota dewan atau aktif di kepartaian. Sedangkan uang yang didapat dari menipu, digunakan membeli 1 unit mobil Sereon warna ungu nopol DR-1546-DC seharga Rp 77 juta. 2 Perhiasan emas gelang senilai Rp 9,8 juta. Polisi juga menyita barang bukti berupa 1 handphone, 2 buku rekening dan 2 ATM Bank Mandiri atas nama berbeda serta 1 buku rekening BCA.
"Ini keahlian tersangka dengan muncul IT, dia bisa tahu," tutur Argo yang mengaku juga pernah menjadi korban percobaan telepon dari orang yang mengaku sebagai inspektur jenderal kepolisian (Irjen pol).
Akibat perbuatannya, tersangka SI dijerat UU RI no 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal 28 ayat 1 dan pasal 45 ayat 2, dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak Rp 1 miliar. (dtc/has/udi)