Gama Di-Bully, Gama Dibela

MALANG – Kasus pembiusan dan perkosaan  yang melibatkan Gama Mulya (24) dan SAN (20), pasangan mahasiswa di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) Kota Malang mendapat respons dari para netizen. Ada yang menyindir, mencaci maki, namun ada pula yang membela Gama Mulya, tersangka laki-laki yang diduga menyuruh pacarnya mencarikan perawan untuk diperkosa.
Menariknya, di salah satu postingan foto, ada komentar salah satu kenalan Gama terkait penjara. Ia melihat foto Gama mirip dengan foto orang yang akan dipenjara. Posting komentar itu tertanggal 12 Januari 2014.
Di situ akun John Howard menanyakan are you go to prison, the photo has no smile, so it look like police photo. Gama dengan ringan menanggapi dengan jawaban "it's my style,". Lantas ada akun Fasust Siagian memberi komentar foto itu sebagai DPO (Daftar Pencarian Orang, Red). Gama menjawab kepanjangan DPO versinya, Daftar Pria Oke.
Yang jelas, banyak komentar pedas dari sejumlah akun di facebook yang mengomentari foto postingan Gama pada 26 Juli 2015 lalu. Salah satunya adalah akun Ilham Kevianto yang menuliskan komentar sinis. "Ini nih si cabul yang bikin malu nama kampus? NAJIS gua liatnya," tulis Kevin.
Hal senada juga dituliskan akun Yogi Pradhana Tristanto. “Buat malu nama kampus aja... Orang kayak gitu harusnya di drop out aja c*k!!" tulis Yogi.
Netizen lainnya juga berkomentar dengan nada sindiran. Mereka kebanyakan menjadikan kondisi Gama yang (maaf, Red) lemah syahwat sebagai bahan lelucon. Seperti netizen dengan akun Arie Raditya Kurniawan. "Sabar ya bro sudah gagal dapet perawan, impoten, penjara menanti pula, buat pelajaran hidup bro," komentar Arie.
Komentar dengan nada sindiran juga dilontarkan di akun facebook Gama Mulya, di mana dalam komentar tersebut mengatakan bahwa Gama merupakan aktivis kampus. "Gam, gua masih tidak percaya ente begitu, padahal ente itu aktivis kampus yang sudah membantu seluruh mahasiswa sampai sekarang biaya parkir gratis. Gam, Gam, pusing saya, saya hanya minta kamu ngomong ke wartawan kalau kamu minta maaf mencoreng nama kampus itu aja," tulis akun bernama Dicky Pratama.
Di antara komentar-komentar negatif itu, masih ada netizen yang membela Gama. Beberapa diantaranya adalah netizen dengan akun Lusiana Taurisia yang diduga kuat memiliki ikatan saudara dengan Gama.
Dalam akun tersebut, Lusiana Taurisia berkomentar panjang mengenai kasus Gama. "Gama sedang kena musibah, mohon untuk tidak di bui (dibuli, Red), saya percaya dan yakin dan begitu pula yg dikabarkan tidak benar, gama bukan orang seperti itu. Mantannya terlalu banyak fitnah Gama. Saya mohon maaf sebesar-besarnya, saya yakin anda percaya Gama tidak seperti itu," kata Lusiana.
Menanggapi komentar pedas para netizen, Lusiana juga meminta maaf atas apa yang terjadi pada Gama. "Mohon maaf sebesar-benarnya dari hati kepada pihak-pihak yang dirugikan pencemaran nama baik, mohon untuk ampuni Gama dan berbelas kasian dengan kondisinya sekarang ini yang cukup memprihatinkan," tulis Lusiana.
Ada juga komentar membela lainnya dari akun Ling Lie. " Terus apamu yang tersakiti oleh gama?? Kok comentmu ga ngenak i ngno. Kon tuhan a ga tau dosa.suci ta koen. Lek koen ga merasa tau due duso silakan bercoment. Kuliah kok mulutx ga perna skolah," begitu tulis di komen balasan yang terkirim pada postingan foto paspor Gama.
Dari akun facebook Gama terlihat, kalau Gama merupakan seorang mahasiswa yang aktif di kampusnya. Pada foto-foto yang diunggah ke facebooknya banyak yang menggambarkan aktivitas dia bersama teman-temannya. Bahkan, Gama pernah juga memimpin demonstransi menuntut rektorat untuk menggratiskan parkir di dalam kampus UB.
Bahkan, beberapa foto Gama juga menunjukan kalau dirinya sering pergi ke luar negeri, seperti Korea, Italy atau Meksiko. Di Facebook mahasiswa yang baru berulang tahun 5 Mei 2015 itu, terdapat fotonya sendiri dengan latar arsitektur di negara seberang.
Fransiskus Gabriel Filleas, salah satu mahasiswa UB yang kenal Gama saat itu mengatakan, bahwa Gama merupakan salah satu mahasiswa yang tampak memegang teguh pendiriannya. "Dia pernah bilang ke saya, kalau apapun yang dia anggap benar tak akan ditinggalkan," jelas Gebi, panggilan akrabnya, kepada Malang Post, kemarin.
Meski begitu, Gebi pernah melihat tindakan Gama yang kontra dari perilakunya sebagai aktivis. Saat itu, Gama sedang naik sepeda motor di kawasan bundaran rektorat UB dan meleng. Di saat meleng itu, Gama menabrak wanita satu jurusan dengan Geby. Namun, saat dimintai pertanggungjawaban, Gama malah tidak mau tahu. "Aneh saja, dia salah tapi tidak mau bertanggung jawab. Setahu saya, dia dinilai baik sama teman-teman kampusnya," jelas Gebi.
Sedangkan untuk akun facebook SAN, saat ini belum banyak komentar yang terlihat. Namun, di Medsos, tersangka SAN yang merupakan pacar Gama, juga mendapat caci maki. Meskipun tidak sedikit juga yang iba melihat SAN, karena ia berada di bawah tekanan.
Undang Psikolog, Pastikan Kelainan Seksual
Polres Malang Kota mendatangkan dua orang ahli psikologi dari Universitas Brawijaya (UB), kemarin (13/8/15). Dua orang ini didatangkan untuk memastikan, apakah tindakan kriminal yang dilakukan Gama maupun SAN kepada korban, EW, termasuk gangguan psikologis ataupun kelainan seksual.
"Tapi hasilnya tidak bisa keluar hari ini (kemarin, Red). Mereka (ahli psikologi) masih melakukan pendekatan dulu agar kedua tersangka lebih terbuka dan mudah dimintai keterangan. Ada proses yang harus diulang-ulang," kata Kasat Reskrim Polres Malang Kota, AKP Adam Purbantoro, di Mapolres Malang Kota, kemarin.
Dikatakannya, kesimpulan atas tindakan yang dilakukan Gama dan SAN ini juga tidak bisa dikatakan langsung. Adam mengatakan, proses pemeriksaan oleh para ahli psikologi ini bisa berlangsung selama tiga minggu sampai satu bulan, baru bisa dilihat hasilnya. "Kami sudah berikan tempat khusus untuk penelitian mereka terhadap tersangka," tambah Adam.
Hasil dari penelitian ini sendiri, kata Adam akan dijadikan pertimbangan buat Hakim dalam mengambil keputusan hukum. Karena menurut Adam, ini bukan kasus biasa dan perlu pemeriksaan yang komprehensif.
"Kami meminta pihak UB untuk menyediakan psikolog dalam membantu penelitian ini. Baru UB memberikan dua nama ke kami. Nanti, kami juga akan menggandeng psikiater dan akan jadi satu tim dengan psikolog," jelasnya.
Kedua psikolog UB ini adalah Ratri Nurwanti Spsi Mpsi dan Agustina Dwi Susanti Spsi, Psi. Adam menyebut, kedua psikolog ini akan rutin melakukan pemeriksaan kepada tersangka. "Besok (hari ini, Red) sudah menginjak kasusnya. Hari ini masih pendekatan. Besok juga kami akan lakukan olah TKP pukul 08.00 WIB, dari kosan korban, sampai TKP di Pakis," tandasnya.
Belum ada perkembangan lebih lanjut atas kasus ini. Meski begitu, Adam memastikan kalau pihak keluarga, saudara dan teman korban sudah dimintai keterangan. "Orang tua dari dua tersangka juga sudah dikunjungi. Kasus ini akan terus kami kembangkan," ungkap Adam. (erz/ary)