Langgar Kode Etik, UB Jatuhkan Skorsing

MALANG POST - Penyidikan kasus Gama Mulya dan SAN terus berlanjut dan mendapatkan perhatian khusus dari pihak kampus. Bahkan, jika kedua mahasiswa tersebut ternyata dinyatakan bersalah, Tim Kode Etik Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) mengusulkan kepada Rektor untuk melepaskan statusnya sebagai mahasiswa.
Usulan itu masih akan ditindaklanjuti sembari menunggu proses hukum Gama dan SAN selesai. Untuk sementara, mereka berdua akan dijatuhi skorsing karena telah dianggap melanggar 3 butir ayat dalam peraturan rektor UB nomor: 328/PER/2011 tentang Kode Etik Mahasiswa pada pasal 9 tentang hubungan antara sesama mahasiswa.
Pertama dianggap melanggar ayat (g) yang berbunyi “tidak melakukan ancaman atau tindakan kekerasan terhadap sesama mahasiswa baik di dalam lingkungan mapun di luar lingkungan Universitas. Kedua ayat (j) yang berbunyi “bersama-sama menjaga nama baik Universitas dan tidak melakukan tindakan tidak terpuji yang merusak citra baik universitas".
Selain itu juga dinilai melanggar ayat (m) yang berbunyi “tidak mengajak atau mempengaruhi mahasiswa lain untuk melakukan tindakan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma hukum dan norma lainnya yang hidup di tengah masyarakat".
Anang Sujoko, Ssos., Msi., DCOMM, Kepala Unit Informasi dan Kehumasan UB menyatakan, pihak kampus sepenuhnya menyerahkan penyelesaian permasalahan tersebut melalui jalur hukum.
”Untuk sementara karena ketetapan hukum masih belum ada, maka kami jatuhkan skorsing. Jadi mereka memiliki hak untuk kuliah, namun tidak kami perbolehkan. Skorsing ini akan dilakukan selama proses hukum dijalankan,” ungkap pria yang juga sebagai dosen jurusan ilmu komunikasi UB tersebut.
Ia juga tidak mengelak rencana pemecatan Gama dan SAN sebagai mahasiswa UB. Menurutnya, jika memang mereka terbukti bersalah dan dijatuhi pidana, maka mereka akan dikeluarkan dari kampus.
”Kalau memang terbukti bersalah ya akan kami keluarkan. Sementara ini kan masih proses. Kami akan memanggil masing-masing wali untuk membicarakan kasus anak-anaknya itu,” tuturnya.
Namun, putusan untuk melepas status mahasiswa UB dari kedua pelaku itu juga harus hati-hati dengan sepenuhnya menyerahkan masalah pada pihak kepolisian. ”Kami tidak mau memperburuk kondisi dengan membuat keputusan gegabah. Komunikasi orang tua dulu sementara ini yang akan kami lakukan,” tegasnya.(nas/ira/ary)