SAN Adalah Korban

MALANG POST - Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Malang Ya’qud Ananda Gudban
melakukan kunjungan khusus kepada SAN. “Dia memang tampak tegar, tapi secara face (wajah) sangat terlihat jika dia tertekan,’’ kata Nanda usai bertemu SAN.
Tidak dijelaskan sebab SAN tertekan, namun begitu Nanda menduga kondisi SAN ini dipicu adanya upaya memutarbalikkan fakta dalam kasus yang menimpanya. Dalam pertemuan yang difasilitasi oleh tim penyidik Polres Malang Kota ini, Nanda dan perwakilan KPPI banyak mengorek keterangan dari SAN.
Tidak hanya keterlibatannya dalam kasus ini, tapi juga soal hubungan asmaranya dengan Gama Mulya, 24 tahun, Perum Asrikaton Indah B1/12, Pakis Kabupaten Malang yang juga sebagai tersangka dalam kasus pembiusan dan perkosaan.
Pihaknya pun miris mendengar pengakuan dan cerita SAN.  Itu karena, SAN mengaku kerap mendapatkan penyiksaan. “Tadi juga dilihatkan salah satu bekas penganiayaan yang dilakukan Gama. Yaitu ada luka dan memar di lengan tangan kanan SAN. Luka itu diduga karena infeksi, akibat obat bius yang disuntikkan Gama kepada SAN. Bukti ini sebetulnya cukup untuk SAN melapor ke polisi,’’ terangnya.
Termasuk tato di tubuh SAN, itu dibuat atas suruhan Gama.  Ada tiga tato di tubuh SAN. Yaitu satu di paha kanan, satu di dada dan satu lagi di punggung. Semua tato tersebut ada tulisan nama Gama.
Sementara itu, Nanda juga mengatakan jika pihaknya akan mengawal kasus ini. Selain memberikan support kepada penyidik, KPPI juga segera menghadirkan pihak Komnas Perempuan, dan Women Crisis Centre, sekaligus psikolog.
“Psikolog ini berperan untuk melakukan recovery. Itu karena SAN masih memiliki kepedulian dengan masa depannya,’’ kata Nanda yang mengaku sempat menanyakan ‘Apa pedulimu?, yang kemudian dijawab SAN “Saya peduli dengan masa depan saya,’’ tegasnya.
Pertemuan tersebut sebetulnya tidak hanya dihadiri oleh SAN, tapi juga korban EW, 20 tahun, indekos di Jalan Gajayana IC. Sama seperti SAN, EW juga mengalami kondisi yang terkoyak.
Pernyataan SAN sebagai korban juga ditegaskan oleh Kasatreskrim Polres Malang Kota AKP Adam Purbantoro. Namun begitu, pihaknya tidak bisa melakukan tindakan apapun, sebelum SAN membuat laporan polisi.
“Kami menunggu, kalau memang dia mau melapor kami terima, dan akan kami lakukan penyelidikan,’’ katanya.
Selain itu, SAN juga mengaku jika dia tidak terima dengan pengakuan Gama dalam rekonstruksi, yang kerap mengelak, dan tidak sesuai dengan BAP.
“Saat rekonstruksi yang justru tertekan adalah SAN. Dia kerap dipelototi oleh Gama. Di depan Gama dia memang tidak berani, tapi di kita dia mengaku sangat marah dengan pengakuan atau adegan peran Gama yang berubah,’’ katanya.
Terkait dengan penyidikan, Adam mengatakan pihaknya terus mengembangkan. Rencananya hari ini, tim penyidik juga mengirimkan cairan yang digunakan membius korban ke Labfor cabang Polda Jatim. Bukan itu saja, tim penyidik juga terus menyelidiki korban lain dalam kasus ini.
“Foto bugil wanita lain yang kami temukan dalam tablet milik tersangka Gama akan kami panggil. Kami sudah mendapatkan nomor kontaknya, dan akan segera melakukan pemanggilan,’’ katanya.
Korban foto bugil tersebut akan dimintai keterangan sebagai saksi, di mana keterangan tersebut nantinya akan dilampirkan pada berkas dua tersangka. Tujuannya adalah pertimbangan hakim untuk memberikan putusan.
“Hasil pemeriksaan dari psikolog juga akan dilampirkan dalam berkas, termasuk temuan-temuan lain. Lampiran-lampiran itu natinya akan menjadi pertimbangan hakim dalam memberikan putusannya nanti,’’ tandasnya.
Dihadiahi Buku La Tahzan For Women
Sementara itu, selain KPPI, kasus pembiusan dan perkosaan ini juga mendapat respons dari pihak Bhayangkari Polres Malang Kota. Kemarin difasilitasi oleh tim penyidik Polres Malang Kota pihak Bhayangkari juga menemui SAN dan korban EW.  Pertemuan mereka dilakukan di salah satu ruangan reskrim, dan tertutup bagi wartawan.
Tidak hanya memberikan support kepada EW (korban) dan SAN (tersangka), pertemuan kemarin Bhayangkari Polres Malang Kota, juga memberikan buku berjudul La Tahzan For Women.
“Ini buku bacaan favorit saya,’’ kata Ketua Bhayangkari Polres Malang Kota Liliana Silvia Rosa. Kepada wartawan, Liliana mengatakan maksud pemberian buku ini tak lain adalah agar keduanya tegar dalam menghadapi semua cobaan.
“Dalam buku ini diajarkan tentang damai dalam hidup, hidup ada saat kita terpuruk, tapi harus tetap disyukuri. Dalam buku ini semuanya dituliskan,’’ terangnya.
Terkait dengan kasus pembiusan dan perkosaan ini, Liliana pun mengaku sangat prihatin. Dia pun mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk terus melakukan pengawasan kepada anak-anak terutama anak-anak perempuan.
“Ini menjadi sebuah pengalaman, kita sebagai orang tua tidak boleh lengah dalam hal pengawasan terhadap anak-anak. Sesibuk apapun orang tua, tapi anak-anak wajib mendapatkan perhatian dan pengawasan,’’ tandasnya.(ira/feb/ary)