Keluarga Yakin 100 Persen SAN Dipaksa

MALANG – Kuasa hukum SAN (2o tahun), mahasiswi Universitas Brawijaya yang tersangkut kasus kejahatan seksual datang ke Polres Malang, kemarin. Tiga kuasa hukum, resmi ditunjuk pihak keluarga SAN. Upaya pihak keluarga ini dilakukan semata-mata untuk mengembalikan persoalan ini untuk duduk persoalannya, tanpa ada fakta yang diputar balik.
Pasca menandatangi berkas dengan kepolisian, kuasa hukum SAN yang beranggotakan Dian Aminudin SH, Anjar Nawan SH dan Nico Sesar SH ini langsung menunjukkan kesaksian SAN yang menyatakan bahwa selama ini tindakan SAN dilakukan karena ada unsur pemaksaan. Ada gelagat kalau mereka tahu ada upaya untuk melimpahkan semua kesalahan ke SAN.
"Kami sudah minta keterangan dari klien kami, hasilnya memang seperti ada unsur pemaksaan. Namun, kami butuh mendalami dan mempelajarinya dulu," kata Dian Aminudin, ketua tim kuasa hukum SAN, kepada Malang Post di Mapolres Malang Kota, kemarin (19/8/15). Ditambahkan, bahwa ada beberapa keterangan yang menunjukan kalau selama ini SAN dipaksa.
Berdasarkan keterangan dari SAN, Gama Mulya, 24 tahun, warga Asrikaton, Pakis, Kabupaten Malang telah meminta SAN mencarikan perawan sejak akhir 2014 silam. Selama beberapa bulan sampai akhirnya pada 5 Agustus 2015 itu ia menculik EW, indekos di Jl Gajayana, Lowokwaru, Kota Malang, SAN selalu berusaha menolak. Selama itu juga, Gama selalu meminta kepada SAN.
Dian mengatakan, Gama selalu bersikap keras bila permintaan itu ia tolak. Bahkan, kata Dian, Gama juga sering melakukan kekerasan fisik terhadap SAN acapkali permintaannya itu ditolak. "Bila dihitung, sudah berapa bulan klien kami menolak dan mendapat kekerasan. Foto (telanjang, Red) SAN juga diancam akan disebar. Apa yang telah dilakukan klien kami, sudah bertentangan dengan hatinya," kata Dian.
SAN sendiri, kata Dian menjelaskan keterangan SAN, pernah mencoba menghilangkan jejak foto-foto tak berbusananya di tablet Gama. SAN mengambil memory card yang ada di tablet Gama, kemudian membawanya pulang.
Sayangnya, perbuatan itu ketahuan. Gama langsung mendatangi rumah SAN di Desa Beji, Kota Batu. Gama datang menjemput SAN dan menuduhnya telah mencuri handphone Gama. Tuduhan itu ia lontarkan di depan kakek dan nenek SAN.
"Klien kami bercerita, kalau Gama memang bersikap keras. Marah sedikit, main pukul. Ia kenal Gama Mei 2014, kemudian Juni 2014 melakukan hubungan (suami istri). Pada September 2015, model hubungan Gama sudah mulai menyimpang.  Setiap berhubungan, Gama meminta klien kami diborgol, diikat dan lain-lain," kata Dian.
SAN juga mengaku sering meminta putus kepada Gama. Namun, setiap ia meminta putus, Gama selalu mengancam akan menyebarkan foto bugilnya. SAN juga sering ketakutan bila sedang menerima telepon dari Gama. "Kami akan membaca berkas-berkas laporannya dulu. Baru hari ini kami bertemu klien kami. Kami ingin mengembalikan semuanya sesuai fakta yang ada, tidak diputar balik," tegasnya.
Bahkan, bila memungkinkan ia akan melaporkan Gama atas tindakannya terhadap SAN bila memang timnya menemukan bukti yang cukup untuk itu. Dian juga mengatakan kalau tidak menutup kemungkinan pintunya terbuka untuk bantuan hukum dari Komnas Perempuan maupun Woman Crisis Center.
Paman SAN, Teguh Pramono mengatakan bahwa pihaknya sangat yakin kalau SAN melakukan tindakan tersebut karena terpaksa. "Saya yakin 100 persen kalau ia (SAN) melakukan hal itu dengan terpaksa," jelasnya.
Dikatakan Teguh, bahwa ibu SAN yang berada di Jakarta sudah dihubungi. Keputusan untuk menunjuk kuasa hukum, juga telah melalui perundingan keluarga. "Semua keluarga shock mendengar kasus ini. Ia anak yang tertutup, tapi ia cerdas, sehingga keluarga tidak ada yang mencurigainya," kata Teguh.
Di saat yang bersamaan, tim kuasa hukum Gama juga mendatangi Polres Malang Kota, kemarin. Ketua Tim Kuasa Hukum Gama, Gunadi Handoko tetap membantah anggapan bahwa kliennya telah melakukan pemaksaan. "Itu kan masih perlu dibuktikan dulu," jelasnya santai.