Imigran Tiongkok Dicokok

MALANG – Kota Malang seperti jadi jujukan favorit imigran bermasalah asal Tiongkok dan Taiwan. Kemarin, Kantor Imigrasi Kelas I Malang mengamankan enam warga negara asing (WNA) asal dua negara itu. Enam WNA itu tiba di Malang sejak akhir Juli 2015 lalu, ditangkap lantaran melakukan penyalahgunaan izin tinggal.
Empat WNA berasal dari Tiongkok, sementara dua lainnya berasal dari Taiwan. Mereka tiba di Juanda tanggal 28 dan 29 Juli 2015 lalu. Kemudian, langsung berangkat ke Malang dan menginap di salah satu hotel di Malang. Seharusnya, para WNA ini menggunakan visa Kitas (Tinggal Terbatas). Namun, visa yang digunakan justru visa kunjungan usaha.
"Mereka kami tangkap tadi (kemarin) pagi, sekitar pukul 09.00 WIB. Saat penangkapan tidak ada perlawanan dari mereka," ujar Kasubsi Pengawasan Imigrasi Malang, Guntur Sahat Hamonangan, kemarin. Ditambahkan, dari keterangan sementara para WNA mengaku melakukan pelanggaran karena tidak tahu prosedur perizinan yang seharusnya.
Penangkapan enam WNA ini berawal dari informasi masyarakat pada Kamis (20/8/15) lalu. Petugas imigrasi langsung melakukan penyelidikan. Setelah bukti kuat, kemarin pagi mereka menangkap keenam WNA ini di CV Eka Putra, Singosari, Kabupaten Malang.
Saat ditangkap, para WNA tengah melakukan pemasangan mesin pembakaran bahan mebel. Mereka sudah melakukan aktivitas tersebut hampir satu bulan di Malang. Padahal, seharusnya visa kunjungan usaha tidak bisa digunakan untuk itu.
"Visa itu seharusnya digunakan untuk meeting atau jual beli, tidak bisa buat pemasangan mesin," tambah Guntur.
Keenam WNA tersebut adalah Song Changqing (43 tahun), Wang Jianping (42 tahun), Wei Jiazhong (41 tahun) dan Guo Yunfu 48 tahun yang merupakan WNA asal Tiongkok. Serta Kuo Fu-Yuan (48 tahun) dan Chien Hsin-Hsi (58 tahun) yang merupakan WNA asal Taiwan. Keenamnya mengaku hanya menjalankan tugas dari perusahaan mereka di Tiongkok. "Untuk sementara mereka akan menjadi tahanan Kantor Imigrasi Kelas I Malang," imbuhnya.
Sementara Kasi Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I Malang, Baskoro Dwi Prabowo menambahkan, enam WNA yang diamankan Kantor Imigrasi Malang ini merupakan tenaga ahli untuk pemasangan mesin di CV Eka Putra Singosari. Selama ditahan, petugas imigrasi akan melakukan pendeteksian untuk mencari bukti-bukti yang memperkuat imigrasi untuk membawa keenam WNA ini ke ranah hukum.
Jenjang waktu yang dibutuhkan untuk mendeteksi, maksimal 30 hari. Bila dalam 30 hari tidak ditemukan bukti, maka keenam WNA ini akan dideportasi. Namun, bila terbukti berarti keenam WNA ini dijerat pasal 122 ayat a UU 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian dengan ancaman maksimal 5 tahun kurungan penjara. "Kami akan dalami dan buatkan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dulu," jelas Baskoro.
Baskoro mengaku, selama periode Januari-Agustus 2015, kantor Imigrasi Malang sudah mendeportasi sekitar 34  WNA karena kasus serupa. Selain itu, ada 76 WNA overstay atau meleblihi izin tinggal dan dikenakan biaya beban. Pelanggaran ini kebanyakan dilakukan oleh WNA asal Tiongkok.
Sampai saat ini, Baskoro yakin masih banyak WNA dengan penyalahgunaan izin tinggal yang berkeliaran di Malang. Karena itu, pihaknya saat ini sedang waspada dengan meningkatkan intensi pemeriksaan terhadap WNA. " Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Kependudukan dan Kepolisian untuk meminimalisir kejadian seperti ini," pungkasnya. (erz/ary)