Penahanan Tersangka BMT PSU Ditangguhkan

MALANG – Polres Malang Kota melakukan gelar perkara mengenai kasus penggelapan dana Baitul Maal wa Tamwil (BMT) Perdana Surya Utama (PSU), di Mapolres Malang Kota, Selasa (25/8) kemarin. Dalam gelar perkara yang dipimpin langsung Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata itu, Polres Malang Kota menetapkan General Manager (GM) BMT PSU, Anharil Huda Amir sebagai tersangka atas kolapsnya BMT PSU.
"Kami telah memiliki cukup bukti untuk menetapkannya sebagai tersangka," kata Singgamata kepada Malang Post di Mapolres Malang Kota.
 Dikatakannya, polisi telah menyita sejumlah aset dan dokumen milik BMT PSU sebagai barang bukti.  Selain itu, ada 22 orang saksi yang diperiksa, mereka terdiri dari karyawan dan korban. Ada 12 laporan polisi yang diterima Mapolres Malang Kota. Laporan sebanyak itu, diterima dari 541 korban.
"Laporan tak hanya dari individu, tapi juga ada beberapa orang yang melaporkan secara bersamaan," katanya.
Kasus ini, menelan kerugian sebanyak Rp 12,9 miliar dan polisi berhasil membuktikan Rp 1 miliar dari seluruh total kerugian itu. Mantan Kapolres Lumajang itu menyatakan, total kerugian tersebut merupakan kerugian yang pernah ditangani Polres Malang Kota.
"Sebelum menetapkan tersangka, kami telah berkoordinasi dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan Dinas Koperasi terkait keterangan ahli. Sebagai barang bukti, terdapat belasan perangkat komputer, satu unit mobil, dan dokumen dari sejumlah kantor cabang BMT PSU," tegasnya.
Perlu diketahui, kasus yang melibatkan Anharil sendiri sudah bergulir sejak laporan diterima kepolisian pada Juli 2015 lalu. Sebelumnya diberitakan, Anharil diduga telah menggelapkan uang ribuan nasabah sinilai miliaran rupiah dan menyebabkan BMT PSU kolaps. Karena itu, saat ini ia ditetapkan sebagai tersangka.
Akan tetapi, meski sudah berstatus tersangka Anharil Huda Amir, hingga kemarin (25/8/15) belum ditahan di Mapolres Malang Kota, meski statusnya sudah tersangka. Anharil mengajukan penangguhan penahanan dan diterima Polres.
Izin penangguhan itu diberikan lantaran tersangka menderita sakit. Hal ini dikuatkan dengan adanya surat keterangan dokter yang menyatakan Anharil sakit. "Jadi kami beri penangguhan, karena beresiko tinggi kalau dia ada di dalam tahanan," tambahnya.
Kendati demikian, Singgamata memastikan kalau, proses penyelidikan dan penyidikan masih terus dilakukan. Sejauh ini, Anharil telah diperiksa penyidik sebanyak dua kali. Pemeriksaan dilakukan selama sekitar 14 jam, Jumat (21/8/15) lalu. "Ada 30 pertanyaan yang diajukan penyidik. Dari situ, kami menetapkannya sebagai tersangka," pungkasnya. (erz)