Polisi Bongkar Penipuan CPNS Senilai Rp2,5 Miliar

Satreskrim Polres Mojokerto Kota berhasil membongkar kasus penipuan berkedok penerimaan CPNS Pemprov Jawa Timur senilai Rp2,5 miliar.

MOJOKERTO- Anggota Satreskrim Polres Mojokerto Kota berhasil membongkar kasus penipuan berkedok penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemprov Jawa Timur senilai Rp2,5 miliar. Selain mengamankan sejumlah barang bukti, polisi juga menetapkan dua tersangka dalam kasus tersebut.
Kapolres Mojokerto, AKBP Bambang Widiatmoko mengatakan, modus tersangka dengan membujuk dan merayu korban dapat diangkat menjadi PNS Pemprov Jatim tanpa tes. "Korban diminta menyerahkan antara Rp100 juta hingga Rp150 juta setiap orang," ungkapnya, Kamis (27/8/2015).
Menurut Kapolres, selain tersangka membujuk dan merayu korban untuk menjadi PNS di Pemprov Jatim tanpa tes, tersangka juga mengaku mempunyai link di jalur BKD Pemprov Jatim. Dari hasil penipuan yang dilakukan dua tersangka tersebut,  sedikitnya ada 700 orang korban, sebanyak 150 korban lainnya warga Kota Mojokerto. "Nilai kerugian mencapai Rp2,5 miliar, tidak ada penjabat Pemprov Jatim yang terlibat dengan dibuktikan surat dari BKD Pemprov Jatim yang menyatakan tidak pernah mengeluarkan akan ada penerimaan pegawai. Surat yang dibawa tersangka adalah palsu, itu hanya untuk menyakinkan korbannya. Aksi penipuan tersangka dilakukan selama dua tahun," katanya.
Dua tersangka yakni, SHR (62) warga Lingkungan Suromulang, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto dan MHD (66) warga Simolawang, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya. Keduanya dijerat Pasal 348 dan Pasal 372 KUHP dengan ancaman maksimal empat tahun.
Terbongkarnya kasus penipuan berkedok penerimaan CPNS Pemprov Jawa Timur senilai Rp2,5 miliar, setelah korban tertipu tersangka senilai Rp1,2 miliar terbongkar. Korban menitipkan sedikitnya 120 orang kepada kedua tersangka untuk menjadi PNS Pemprov Jatim.
Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota, AKP Maryoko mengatakan, terbongkatnya kasus penipuan CPNS Pemprov Jatim setelah ada korban yang melapor. "Korban REP (70) pensiunan PNS warga Jalan Empunala mendaftarkan tiga orang anaknya dan kerabatnya hingga 120 orang," ungkapnya.
Korban menyerahkan uang senilai Rp1,2 miliar kepada tersangka SHR kemudian ditransfer ke tersangka MHD. Korban dijanjikan tersangka jika SK pengangkatan CPNS akan keluar tahun 2013 namun hingga tahun 2015, SK tersebut belum juga keluar sehingga korban melaporkan aksi penipuan tersebut ke Polres Mojokerto Kota."Untuk menyakinkan korbannya, tersangka memberikan surat panggilan pemberkasan CPNS di BKD Pemprov Jatim yang baru diketahui palsu. Tersangka juga mengaku memiliki link atau jalur belakang dalam pengangkatan CPNS di BKD Pemprov Jatim, Sekda Pemprov Jatim dan di BKN," katanya.
Kedua tersangka ditangkap Tim Penyidik Unit-4 Reskrim Polres Mojokerto Kota, tersangka SHR ditangkap tanggal 15 Agustus lalu di wilayah Kota Mojokerto dan tersangka MHD ditangkap tanggal 25 Agustus lalu di wilayah Kabupaten Tuban. Kerugian mencapai Rp1.291.500.000.
Sementara barang bukti yang disita dari korban yakni empat lembar surat dari BKD Prov Jatim tentang pemberitahuan melengkapi berkas kelengkapan pengangkatan CPNS 2015 beserta amplop yang diduga palsu, sebanyak 22 lembar kwitansi pembayaran ke tersangka SHR, 29 slip transfer BCA.
Empat slip transfer ke Bank Mandiri ke tersangka MHD, satu lembar surat pemberitahuan pribadi dari Kepala Biro Adminisgrasi Umum Sekdaprov Jatim dan fotocopy dari Dirjen Otoda Kemendagri tentang Ralat Surat penundaan pemberian surat penggilan CPNS.
Barang bukti yang disita dari tersangka SHR, satu bendel daftar nama korban, 22 amplop coklat isi surat pemberitahuan melengkapi berkas kelengkapan pengangkatan CPNS 2015 dan satu lembar surat pemberitahuan CPNS 2015 atas nama Ana Widiyanti.
Dua lembar surat pemberitahuan kepada dua tersangka dari Kepala Biro Administrasi Pemerintahan Umum Sekda Prov Jatim, 85 bendel berkas administrasi CPNS. Satu paket dokumen kumpulan persyaratan administrasi CPNS. Buku tabungan dan ATM BCA tersangka SHR, 273 lembar slip transfer BCA dari tersangka SHR.
Sebanyak 102 lembar slip penarikan uang dari ATM BCA, 30 lembar pembelian tiket dari 13 lembar tiket KA, tujuh lembar tiket pesawat dan empat tiket bis. Enam lembar kwitansi pembelian mobil Honda CRV, uang tunai Rp26 juta di rumah tersangka.
Uang tunai Rp32.900.000 dari penarikan rekening BCA, satu handphone merk Nokia X2-02 warna hitam, satu handphone merk Nokia X RM-1030 warga hitam, satu unit mobil Honda CR-V nopol 1082 BO, Daihatzu Terios nopol L 1426 ZT. Barang bukti dari tersangka MHD, satu unit Daihatzu Luxio nopol N 632 XE, satu buah kartu ATM BCA, tiga buku rekening BCA, uang tunai Rp22.250.000, satu unit handphone merk Nokia type 301 warna hitam dan satu unit handphone merk Samsung Duos warna silver.(bj/has/udi)