Kapolres Pun Menahan Air Mata

MALANG – Suasana haru diiringi isak tangis, mengantar proses pemakaman Kapolsek Wonosari AKP Afan Junaedi dan istri Tatik Hidayah, kemarin pagi. Ketiga anak mereka, keluarga, kerabat serta pelayat yang mengantarkan ke tempat pemakaman, tak kuasa menahan tangis saat jenazah suami istri tersebut dimasukkan ke dalam liang lahat.
Bahkan Kapolres Malang AKBP Aris Haryanto, SIK, Mhum yang memimpin upacara pemakaman, terlihat menahan air mata. Ia berusaha tegar, untuk melepas kepergian perwiranya ke pangkuan Ibu Pertiwi. Pandangan kedua matanya, terus tertuju ke makam almarhum.
Sebagai penghormatan terakhirnya, perwira dengan pangkat dua melati di pundaknya ini, selain menancapkan karangan bunga di atas makam AKP Afan Junaedi, Kapolres Malang juga menyempatkan mencangkul tanah untuk mengubur (menutup liang lahat).
“Kami sangat berduka dan merasa kehilangan. Selama bertugas menjadi Kapolsek Wonosari, AKP Afan Junaedi, sangat baik dan sama sekali tidak pernah melakukan perbuatan yang tidak terpuji,” ungkap Aris Haryanto, dalam sambutannya.
Ia mengatakan, dengan kepergiannya AKP Afan Junaedi, secepatnya akan menunjuk perwira sebagai Pjs Kapolsek Wonosari, agar jabatan Kapolsek tidak kosong. Selain itu, Aris juga akan mengusulkan pengganti Kapolsek Wonosari, ke Polda Jawa Timur.
“Karena pergantian anggota perwira setingkat AKP, yang menentukan adalah Polda Jatim. Saya hanya mengusulkan penggantinya saja. Untuk penggantinya, bisa diambilkan dari perwira di Polres Malang, atau bisa dari luar,” ujar mantan Waka Polres Malang ini.
Apakah ada penghargaan berupa kenaikan pangkat ? Aris mengatakan, bahwa tidak ada kriteria untuk menaikkan pangkat kepada (alm) AKP Afan Junaedi. “Kecuali yang bersangkutan meninggal atau gugur dalam tugas, secara otomatis penghargaannya adalah kenaikan pangkat,” tuturnya.
Sementara itu, sebelum diberangkatkan ke tempat pemakaman Desa Ngebruk, terlebih dahulu ada upacara penyerahan jenazah dari pihak keluarga ke Kepolisian di rumah duka. Setelah itu, ada tradisi mbrowot di bawah jenazah. Baru kemudian dibawa ke tempat pemakaman dengan diangkut dua mobil ambulance.
Ratusan orang pelayat mengantarkan pemakaman suami istri, AKP Afan Junaedi dan Tatik Hidayah. Selain seluruh perwira polisi di jajaran Polres Malang, hadir para guru SMA Negeri 1 Sumberpucung. Sebab Tatik Hidayah, adalah guru kelas XII yang mengajar Biologi di SMA Negeri 1 Sumberpucung. Termasuk Kapolres Probolinggo, AKBP Sumaryono juga hadir.
Selain itu, puluhan siswa dan ratusan masyarakat dan anggota Polres Malang, hadir dalam proses pemakaman. Sebelum dimasukkan ke dalam liang lahat, terlebih dahulu ada proses upacara pemakaman. Jenazah AKP Afan Junaedi, dimasukkan ke dalam liang lahat setelah terdengar suara tembakan salvo ke udara. Jenazah suami istri ini, dimakamkan berdampingan.
Saat inilah, suasana haru terlihat. Tak sedikit pelayat yang hadir menitikkan air matanya. Ketiga anaknya (Alhamdani Muzaki, Abdillah dan Ifa) terus menangis. Bahkan Ifa, anak bungsunya terus menangis didekapan kakak-kakaknya.
“(Alm) Tatik Hidayah ini sangat baik di sekolah. Ia pandai bergaul dan baik dengan sesame guru. Jumat lalu, ia masih bercanda dengan saya dan sama-sama ikut kegiatan di Dinas Pendidikan. Sama sekali tidak ada kecurigaan atau tanda-tanda dari almarhummah,” jelas Siti Rahayu, guru Bahasa Perancis di SMA Negeri 1 Sumberpucung.
Tetangga korban yang ikut mengantarkan ke pemakaman, juga merasakan hal yang sama. Kedua suami istri tersebut diketahui sangat baik di masyarakat. “Mereka sangat baik dan selalu menyapa masyarakat. Kegiatan apapun di kampung, keduanya sangat aktif,” papar beberapa tetangga korban.(agp/ary)