Honorer DPPA Dituntut 3 Tajun Penjara

MALANG - Masih ingat dengan kasus korupsi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yang dilakukan Agung Aji Permana, honerer UPTD Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Malang. Kemarin, kasus korupsi yang merugikan negara senilai Rp 500 juta tersebut, disidangkan di Pengadilan Tipikor Surabaya.
Agendanya adalah pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kepanjen. Agung dituntut 6 tahun kurungan penjara dan denda Rp 200 juta atau subsider 3 bulan penjara. Ia terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi.
"Terdakwa Agung kami tuntut dengan dengan tuntutan 6 tahun kurungan penjara dan denda Rp 200 juta. Ia terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang merugikan negara Rp 500 juta," ungkap Kasi Pidsus Kerjari Kepanjen, Yunianti, kepada Malang Post kemarin.
Atas tuntutan tersebut, lanjut Yunianto, terdakwa Agung mengajukan pembelaan. Ia menganggap bahwa tuntutan JPU terlalu berat. Alasannya, karena uang negara yang dikorupsi nilainya tidak sampai Rp 500 juta.
"Selasa minggu depan agendanya adalah pembelaan. Terdakwa mengajukan pembelaan karena merasa keberatan. Setelah sidang pembelaan, agenda sidang selanjutnya adalah pembacaan putusan," ujarnya.
Sekadar diketahui, Agung dijadikan tersangka dalam kasus dugaan korupsi PBB.  Modus yang dilakukannya, memalsukan bukti setoran slip ke Bank Jatim. Sebelumnya, tersangka mengumpulkan uang PBB dari wajib pajak, ke desa-desa langsung kepada masyarakat.
Setelah terkumpulkan, sebagian uang setoran PBB ada yang disetorkan. Namun sebagian lagi lainnya, tidak disetorkan. Untuk mengelabuhi, tersangka membuat bukti flip setoran palsu. Uang hasil korupsi digunakan untuk keperluan pribadi.
Terungkapnya aksi korupsi ini, berdasarkan audit dari DPPKA. Setelah diselidiki ternyata uang ditilep oleh tersangka. Karena dianggap telah melakukan korupsi, Agung dilaporkan ke Polres Malang. Polisi yang mendapat laporan segera memburu Agung. Tetapi yang bersangkutan sempat kabur ke luar kota. Begitu mengetahui kepulangannya, polisi langsung menangkapnya.(agp/nug)