Karyawan Dirumahkan, Cukai Miliaran Terancam

Pegawai Bea Cukai dan Tim Labfor cabang Polda Jatim, serta tim identifikasi Polres Malang melakukan penyelidikan di Pabrik Rokok Mahayana Desa Sumbersuko Kecamatan Tajinan, kemarin

Api Berasal dari Sisi Belakang Gudang Mahayana
TAJINAN-Puluhan karyawan PT Karya Timur Prima, pekerja brand rokok Mahayana terpaksa dirumahkan, kemarin. Menyusul ludesnya gudang produk rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) di Desa Sumbersuko, Tajinan Rabu (2/9) malam lalu. Kebakaran selama sekitar 4,5 jam itu, merugikan perusahaan dengan taksiran tak kurang dari Rp 20 miliar. (Baca grafis, Red).
Dari mana taksiran itu, harga satu mesin produksi saja sekitar Rp 2 miliar. Padahal yang terbakar ada lima. Belum lagi, lima kontainer rokok siap jual yang turut ludes, serta nilai bangunan gudang.
Sementara Legal Consulting PT Karya Timur Prima Benny Soedjono  mengatakan hingga saat ini belum bisa menghitung kerugian yang dialami akibat kebakaran. Yang jelas, selain gedung rokok yang siap edar, mesin dan racikan tembakau siap masak juga ikut terbakar.
Benny sendiri mengaku, jika dengan kebakaran ini pihaknya pun harus merumahkan karyawan karena pabrik tidak operasional. Tidak semua karyawan dirumahkan. “Produksi di sini ini kan ada dua macam, SKM dan SKT. Yang terbakar adalah tempat atau gudang produksi rokok SKM jumlah karyawannya sekitar 80 orang. Sedangkan gudang produksi rokok SKT aman dari api,’’ katanya dengan menyebut, rokok SKT PT Karya Timur Prima ini memiliki 250 karyawan.
“Sekarang masih koordinasi dengan Polres Malang, agar tempat produksi SKT tidak ikut diberi garis polisi, agar karyawan bisa melakukan pekerjaannya. Prioritas kami adalah karyawan, kalau pun kebakaran itu terjadi itu adalah musibah. Tapi jelas, karyawan bagian SKT ini juga harus diperhatikan,’’ tandasnya.

Kontribusi PT KTP Rp 500 Miliar Per Tahun

Kebakaran itu, juga mendapat perhatian serius. Tidak hanya dari anggota kepolisian yang melakukan penyelidikan dengan mendatangkan tim dari Labfor Cabang Polda Jatim.  Kemarin, pihak Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya, Malang juga datang ke pabrik rokok tersebut.
Dipimpin langsung oleh Kepala KPPBC Tipe Madya Malang Rudy Hery Kurniawan, tim ini ikut melakukan penyelidikan.
“Kedatangan kami untuk melakukan pemeriksaan administrasi terkait penggunaan pita cukai,’’ kata Rudy.
Dia juga menguraikan, jika dari laporan terkait peristiwa ini banyak rokok yang sudah tertempel pita cukai siap edar terbakar.
“Makanya kita hitung semuanya. Dari pembukuan yang ada akan kelihatan, jumlah pita cukai yang sudah digunakan,’’ katanya.  
Apakah pihak KPPBC akan mengganti pita cukai yang terbakar? Rudi pun belum bisa mengatakan. Sejauh ini, memang belum ada pengaturan jelas terkait penggantian pita cukai terhadap pabrik rokok yang terkena musibah. Hanya saja, pihaknya akan lebih dulu berdiskusi dengan kantor pusat.
Makanya kedatangan kami ini salah satu fungsinya adalah itu. Kalau musnahnya pita cukai itu akibat kesengajaan jelas tidak akan diganti. Tapi kalau force majeure  ini yang masih didiskusikan.
“Hari ini memeriksa lebih dulu, seluruh pembukuan administrasi, termasuk mengambil sample rokok hasil produksi yang terbakar. Hasil ini akan kami kirimkan ke Jakarta,’’ katanya. Pihaknya juga bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk penyebab kebakaran.
Sementara itu Kasi Pabean dan Cukai, KPPBC Tipe Madya Cukai Suparno mengatakan jika PT Karya Timur Prima merupakan pabrik rokok besar. Bahkan di Malang Raya pabrik rokok ini masuk 25 besar, dengan kontribusi kepada negara mencapai Rp 500 miliar per tahun. Akibat kebakaran ini, retribusi Rp 500 miliar bisa terancam berkurang.
“Retribusi untuk cukai Malang ini mencapai Rp 15 triliun per tahun. Untuk PT Karya Timur Prima ini per tahunnya bisa mencapai Rp 500 miliar,’’ kata Suparno.
Suparno juga mengatakan, kebakaran pabrik rokok ini kali pertama di Malang. Itu sebabnya, pihaknya ikut turun melakukan penyelidikan.
Sementara itu, tim Labfor cabang Polda Jatim kemarin langsung melakukan penyelidikan di TKP kebakaran. Dipimpin langsung oleh AKBP Sugiharyono, tim Labfor langsung masuk ke gudang produksi tempat kebakaran terjadi. Di gudang ini para petugas langsung mencari titik awal api sekaligus sumber panas.
“Kedatangan kami untuk mencari  api dan sumber panas, yang menyebabkan kebakaran ini terjadi,’’ katanya.
Kendati begitu, Sugiharyono masih belum bisa memastikan sebab kebakaran terjadi. Kepada Malang Post, dia hanya mengatakan setelah melakukan pemeriksaan TKP, pihaknya lebih dulu melakukan analisa dan menguji semua temuan.
“Paling tidak tiga hari untuk mengetahui hasil analisanya,’’ katanya.  
Namun begitu, Sugiharyono mengatakan jika dugaan besar kebakaran ini terjadi dari sisi belakang gudang.  Dugaan itu dikuatkan dengan temuan tim labfor di mana banyak seng yang terputus, dan bekas kebakaran yang lebih pekat.
“Di bagian depan seng-seng  yang ada hanya melengkung saja. Tapi di bagian belakang ada banyak seng yang terputus,’’ urainya.
Terkait dengan penyelidikan ini, tim Labfor pun membawa berbagai sample. Diantarannya adalah, membawa sample kabel listrik, benda logam yang tercampur pada tembakau yang ada dalam mesin, abu sisa terbakar.
“Semua itu nanti diujikan, sehingga akan tahu hasilnya,’’ katanya.(ira/ary)