Polres Ambil Alih Kasus Kekerasan Guru

MALANG – Kasus kekerasan terhadap siswa, yang dilakukan guru Bahasa Indonesia di salah satu SMP Negeri Pagak, diambil alih Polres Malang. Kemarin kasus penganiayaan tersebut, dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA). Upaya pihak sekolah untuk menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan, masih menemui jalan buntu.
“Siang ini (kemarin, red) perkara penganiayaan siswa tersebut, kami ambil alih. Perkaranya kami tarik ke UPPA Polres Malang. Urusan akan diselesaikan secara kekeluargaan, itu antara keluarga korban dengan piak sekolah,” ujar Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat.
Setelah perkaranya dilimpahkan, langkah selanjutnya penyidik akan mempelajari terlebih dahulu kasusnya. Selanjutnya penyidik akan memanggil korban dan saksi-saksi untuk dimintai keterangan. Baru nantinya akan memanggil pihak sekolah, termasuk guru yang bersangkutan.
“Nantinya korban dan pelaku akan kami panggil. Yang jelas dari kedinasan, oknum guru tersebut sudah mendapatkan sanksi,” tuturnya.
Kanitreskrim Polsek Pagak, Aiptu Sidik, dikonfirmasi mengatakan bahwa perkara penganiayaan tersebut sudah dilimpahkan ke Polres Malang. Polsek Pagak sudah mempertemukan kedua pihak, antara sekolah dengan keluarga korban. “Tetapi karena belum ada titik temu, perkaranya kami limpahkan ke Polres Malang. Jika nanti sudah ada titik temu, akan langsung kami arahkan ke Polres Malang,” terang Sidik.
Sekadar diketahui, seorang guru Bahasa Indonesia berinisial TM, di salah satu SMP Negeri di Kecamatan Pagak, dilaporkan ke polisi karena dugaan melakukan penganiayaan terhadap muridnya. Korban berinisial FB, 14 tahun, siswa kelas VIII C di sekolah tersebut.
Akibat penganiayaan tersebut, FB mengalami luka memar dan robek di pelipis kanannya. Serta luka robek di kepala bagian belakang. Luka tersebut seperti akibat cakaran jari tangan oknum guru tersebut.
Penganiayaan yang dialaminya terjadi sekitar pukul 09.30 di dalam ruang kelas. Saat itu sedang pelajaran Bahasa Indonesia, mulai pukul 09.00. Materi pelajaran Bahasa Indonesia, diberikan oleh oknum guru berinisial TM.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Budi Iswoyo, sebelumnya menegaskan, bahwa tidak seharusnya seorang guru melakukan kekerasan fisik terhadap siswanya. Jika memang laporan penganiayaan itu benar, maka akan ada sanksi tegas dari Dinas Pendidikan.(agp/aim)