Dituduh Serobot Tanah, Saudara Angkat Terancam Dipolisikan

H Nurhadi menunjukkan beberapa lembar bukti untuk laporan ke Polres Malang. Dan Nurhadi, menunjukkan lahan yang menjadi sengketa.
 
MALANG – Setelah menjebloskan Yusuf, mantan Kepala Desa (kades) Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi, ke dalam terali besi, giliran H Sulton, warga Desa Ganjaran, Gondanglegi yang akan dilaporkan ke Polres Malang, oleh H Nurhadi, warga Desa Karangsuko, Pagelaran. H Sulton yang notabene masih saudara angkatnya ini, diadukan dengan dugaan memberikan keterangan palsu penjualan tanah seluas 7000 M2.
Pernyataan ini disampaikan  Nurhadi, ahli waris dari (alm) H Abdul Wahab Makram, usai berkonsultasi ke Polres Malang, kemarin siang. “Kami sudah berkoordinasi dengan penyidik Reskrim Polres Malang. Setelah bukti-bukti kami kumpulkan, segera akan saya laporkan ke Polres Malang,” ungkap Nurhadi, kepada wartawan kemarin.
Menurut Nurhadi, dugaan pemberian keterangan palsu yang dilakukan H Sulton berawal dari permasalahan harta warisan peninggalan (alm) H Abdul Wahab Makram. Sebelum meninggal pada tahun 1985 lalu, (alm) H Abdul Wahab Makram memiliki dua orang istri. Istri pertama bernama Siti Amah. Dari istri pertama itu, (alm) H Abdul Wahab Makram tidak memiliki anak. Namun mereka memiliki anak angkat bernama Sulton.
Sedangkan istri kedua bernama, Rohati yang kemudian dikaruniai dua orang anak. Yaitu Nurhadi dan Misbaroh. “Ketika abah ((alm) H Abdul Wahab Makram) meninggal, saat itu usia saya masih 12 tahun ,” ujar Nurhadi.
Setelah (alm) H Abdul Wahab Makram meninggal dunia pada 1985, harta warisannya dikuasai oleh Sulton. Nurhadi mengaku sedikitpun sama sekali tidak mendapatkan bagian. “Untuk hidup saat itu, saya harus membanting tulang menghidupi adik dan ibu,” tuturnya.
Karena merasa telah dizalimi, Nurhadi berusaha mencari tahu harta warisan ayahnya. Ia menganggap karena dirinya dan adiknya Misbaroh adalah ahli waris yang sah. Nurhadi mencari tahu melalui mantan Kades Ganjaran, Yusuf. Diketahui kalau ada lima titik sawah yang luasnya lebih dari 5 hektare di Desa Ganjaran.
Namun setelah ditelusuri, ternyata tanah sudah dijual dan diatasnamakan ke orang lain yang bukan ahli waris. Salah satunya dijual kepada H Suudi, yang diduga dilakukan oleh Sulton melalui Yusuf, mantan Kades Ganjaran dengan memalsukan data. Karena merasa tidak terima itulah, pada 28 Januari 2015 Nurhadi melaporkan pemalsuan ke Polres Malang.
Berdasarkan laporan tersebut, Yusuf dijadikan tersangka oleh Polres Malang. Bahkan perkaranya sudah masuk ke Kejaksaan Negeri Kepanjen, dan sekarang menunggu proses sidang. Namun, Nurhadi belum puas. Sebab H Sulton, saudara angkatnya yang memberikan keterangan palsu tidak ikut dijadikan tersangka.
“Kalau Yusuf, mantan Kades Ganjaran terbukti bersalah melakukan pemalsuan, seharusnya H Sulton yang ikut terlibat pemalsuan juga dijadikan tersangka dan ditahan. Karena itulah, kenapa saya akan melaporkan lagi dengan tuduhan memberikan keterangan palsu,” paparnya.
Ia menambahkan, sebenarnya dirinya sudah beritikad baik untuk menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan. Tetapi karena tidak ada titik temu, maka Nurhadi terpaksa menempuh jalur hukum.
Terpisah, H Sulton, ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya, mengatakan bahwa yang menjual tanah bukan dirinya. Melainkan adalah Siti Amah, ibu angkatnya. “Yang menjual orangnya sendiri, yaitu Umi (Siti Amah, red). Saya tidak tahu apa-apa,” kata H Sulton.(agp/van)