TKW Asal Kalipare Jadi Korban Tragedi Mina

MALANG POST – Seorang TKW asal Kabupaten Malang yang sudah 15 tahun bermukim di Arab Saudi, Rumiati Binti Nomo, 48 tahun, juga ikut menjadi korban tragedi Mina. Kabar wafatnya Rumiati tersebut  menjadi duka mendalam bagi seluruh keluarganya  di Dusun Pangganglele, Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare.
Anak bungsu korban bernama Winaroh Andani, 27 tahun menuturkan  sebelumnya telah mempunyai firasat atas kematian ibunya tersebut. “Sebelumnya ibu  menelpon saya  akan kerja sambilan sekaligus menunaikan ibadah haji.  Tapi sejak 17 September yang lalu, beliau sudah tidak bisa dihubungi,” ujarnya kepada Malang Post, kemarin.
Tidak bisa dihubungi itu, sebenarnya merupakan firasat buruk yang dialaminya. Namun, dia tetap berpikiran positif sembari berdoa supaya tidak terjadi apa-apa. Pada tanggal 24 September 2015, hal yang ditakutkan itu terjadi juga. Setelah ada kejadian tragedi Mina, yang menyebabkan ratusan jamaah haji wafat lantaran terinjak-injak.
“Saat itu, saya sangat khawatir. Apalagi saya coba telepon ibu berkali-kali tidak bisa. Ibu juga tidak kunjung mengabari,” katanya sembari mata menerawang. Saat itu, dia coba mencari tahu keberadaan ibunya. Termasuk  melihat daftar korban Mina melalui pemberitaan media massa, apakah ibunya termasuk menjadi korban atau tidak.
Namun, usahanya sia-sia. Apalagi masih ada ratusan jamaah yang dinyatakan hilang, termasuk ibunya tersebut. Pada akhirnya, dia menemukan kepastian pada hari Minggu (27/9)  lalu. Yakni Setelah salah seorang teman ibunya menelpon dan memberitahukan bahwa Rumiati termasuk dalam salah satu korban tewas tragedi Mina.
Mendapat kabar itu, Wianroh pun lemas seketika. Diapun berusaha berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI)  Arab Saudi terkait  lokasi pemakaman ibunya. Menurutnya, ibunya harus dimakamkan di Arab Saudi. Hal tersebut sesuai dengan peraturan dari Kerajaan Arab Saudi.“Katanya sesuai aturan begitu, harus dimakamkan di Arab Saudi,” imbuhnya.
Menurutnya, ibunya sejak tahun 2000 hingga 2015 bekerja sebagai TKW, tidak pernah pulang. Meski selama hampir 15 tidak pernah ketemu ibunya tersebut, dia tetap menjalin komunikasi. Apalagi saat dia memutuskan tunangan, ibunyapun menyetujuinya.
Apalagi ayahnya M Sutrisno, juga sudah meninggal cukup lama. Sehingga, ibunyalah yang menjadi tempat bercerita. Sedangkan kakanya, Riwayat Prasetyo, 30 tahun, menetap dan bekerja di Surabaya. Sehingga, dia juga jarang berkomunikasi dengan kakaknya.“Rencananya, ibu saya akan pulang ke Indonesia tahun depan. Sekaligus untuk menikahkan saya,” ucapnya lirih. Dia mengatakan, ibunya tersebut bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) dan ikut salah seorang majikan. Selama 15 tahun di Arab Saudi, ibunya tersebut menyempatkan untuk berhaji.
Sedangkan haji tahun ini, rencananya menjadi haji yang kelima kali bagi ibunya tersebut. “Haji tahun ini, sekaligus ibu bekerja sambilan di suatu hotel. Mengantarkan jamaah haji dan memasak makaan. Karena majikan beserta keluarganya, juga sedang tidak ada aktivitas, lantaran menunaikan ibadah ,” paparnya
Disinggung mengenai adakah santunan dari Kerajaan Arab Saudi, dia mengatakan belum menerima informasi itu. Namun, dia berharap tragedi Mina ini merupakan yang terakhir kali. Sehingga tidak memakan korban lagi. ‘’Semoga ibu menjadi korban terakhir.Jangan sampai ada korban  lagi,’’ harapnya sembari menahan tangis. (big/nug)