Kades Hariyono Tersangka Utama

Hariyono, Kepala Desa Selok Awar Awar di Kecamatan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur.

Aktor Intelektual Pembunuhan Salim Kancil
SURABAYA-Alibi Hariyono, Kepala Desa Selok Awar-Awar, Kabupaten Lumajang berkelit dari kasus pembunuhan Salim Kancil, terjawab sudah. Hariyono ternyata adalah aktor intelektual pengeroyokan yang berakibat terbunuhnya Salim Kancil dan lukanya Tosan.
Status ini diungkapkan AKBP Anom Wibowo, Wakil Direktur Kriminal Khusus Polda Jatim di Gedung DPRD Jatim, Kamis siang kemarin. ‘’Lima belas menit lalu sudah ditetapkan sebagai aktor intelektual,’’ tandas Anom meyakinkan.
Hariyono yang diduga sebagai pemain tambang pasir ilegal, menjadi tersangka ke-23 dalam kasus pembunuhan Salim. Tak tanggung-tanggung, polisi menjerat Hariyono dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana yang ancaman hukumannya bisa pidana mati atau 20 tahun penjara.
Seperti diketahui Kancil dan Tosan warga desa Selok Awar-Awar, Lumajang telah menjadi korban pengeroyokan warga desa setempat. Tindakan itu dilakukan karena Kancil dan Tosan menolak penambangan pasir besi ilegal di desanya.
Akibat penolakan itu, Kancil meninggal dunia setelah dianiaya secara sadis oleh para pro penambangan liar. Sedang, Tosan sampai hari ini masih dirawat di RS Saiful Anwar Malang karena luka-luka yang dialaminya.
Dikatakan Anom, penetapan Hariyono sebagai aktor intelektual pembunuhan aktifis Kancil dilakukan sangat hati-hati sekali. Apalagi, pasca kejadian Hariyono mengambil inisiatif menyetor daftar nama para pengeroyok Kancil dan Tosan.
Tetapi, lanjut mantan Kasatreskrim Polrestabes Surabaya ini, setelah tim cyber investigation diterjunkan ke Lumajang, kondisi berubah. Tim menemukan dugaan kuat bahwa Hariyono memiliki peran sentral dalam pembunuhan Kancil.
‘’Setelah menerjunkan tim cyber investigation penyidik menemukan bukti dan saksi di lapangan tentang keterlibatan Hariyono sebagai aktor intelektual. Dan status pelaku langsung dinaikkan sebagai tersangka,’’ katanya.
Berdasar temuan dilapangan itu juga, lanjut Anom, penyidik akan menjerat tersangka dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Sebab, sebelum pengeroyokan terjadi didahului dengan rapat.
‘’Dikatakan masuk kategori pembunuhan berencana karena sebelum pengeroyokan dan pembunuhan, dirapatkan. Bahkan, disiapkan juga peralatan yang akan dipergunakan untuk membunuh korban,’’ jelasnya.
Ditanya lambatnya respons aparat ketika korban minta perlindungan, Anom berkilah, sudah dilakukan. Begitu kedua korban dan keluarganya mengajukan permohonan perlindungan polisi langsung menjalankan tugasnya.
‘’Begitu ada surat dan dibuat laporan polisi, rencananya perlindungan akan diberikan setelah apel pagi pada hari kejadian. Namun, sudah terburu ada kejadian tersebut sehingga terlambat memberikan perlindungan,’’ pungkas mantan Kapolres Madiun ini.
Sementara itu ditemui di tempat yang sama Ahmad Hadinuddin, anggota Komisi A DPRD Jatim menyebutkan, dewan telah menyiapkan pansus pertambangan. Tindakan ini diambil untuk menyikapi kasus pembunuhan Kancil di desa Selok Awar-Awar, Lumajang.
‘’Tetapi, pansus tidak hanya menyikapi kasus itu saja (pembunuhan Kancil). Sekaligus pansus akan mengkaji potensi pertambangan liar di Jatim,’’ ujar politisi Partai Gerindra ini saat ditemui dikantornya, Kamis kemarin.
Dikatakan dia, masalah pertambangan merupakan masalah kompleks karena menyangkut harkat hidup orang banyak. Diharaplkan pertambangan jangan sampai merusak potensi tambang di Jatim.
’’Ini perlu ada perhatian khusus. Mengingat soal tambang berkaitan dengan harkat hidup orang banyak. Kejadian di desa Selok Awar-Awar Lumajang ini menjadi pintu masuk melihat pertambangan di Jatim,’’ katanya.
Ditambahkan dia, khusus soal pembunuhan Kancil dewan akan melakukan pemanggilan terhadap pihak-pihak terkait. ‘’Pengawasan Dinas ESDM Provinsi sangat lemah. Begitu juga peran BLH  (Badan Lingkungan Hidup) Jatim,’’ pungkasnya. (has/ary)