Sempat Drop, Tosan Sulit Bernafas

Sadar pascaoperasi pencernaan kondisi Tosan, saksi kunci dari kasus tambang Lumajang belum 100 persen membaik, kemarin. Kondisinya sedikit mengkhawatirkan, lantaran dua hari terakhir Tosan yang dirawat di ruang 13 RSSA Malang mengalami sesak nafas. Bahkan Rabu (30/9) malam lalu, Tosan mengalami kesulitan bernafas.
“Tadi malam (Rabu) kondisinya drop, pak Tosan sulit bernafas,’’ kata Ahmad Rosyid salah satu keluarga Tosan.
Ditemui di area tunggu ruang 13 RSSA Malang kemarin, Rosyid mengatakan Tosan sempat kesulitan bernafas selama dua jam, yaitu mulai pukul 17.00 -19.00. Tidak jelas apa yang menyebabkan Tosan sulit bernafas. Namun agar hal tersebut tidak terjadi lagi,  kemarin Tosan kembali dirontgent.
Tidak seperti sebelum-sebelumnya rontgent dilakukan di area  isolasi  ruang 13, kemarin Tosan diperiksa di ruang berbeda. Karena kondisinya masih lemah, tim medis membawa Tosan ke ruang rontgent menggunakan tempat tidurnya. Lengkap dengan infus di tangannya.
Selama perjalanan menuju ruang rontgent, Tosan tidak hanya ditemani oleh tim medis, dan istrinya saja. Tapi di belakang tim medis juga dikawal anggota polisi. Sambil membawa senjata laras panjang, polisi yang merupakan anggota Polres Lumajang tersebut mengawal Tosan dari meninggalkan ruang 13 hingga kembali lagi.
“Bapak sesak nafas, itu sebabnya harus di rontgent,’’ kata Ati Ariati istri Tosan yang ikut mengantar Tosan ke ruang rontgent. Selama menunggu, Ati terlihat sangat tegar. Kepada Malang Post, Ati mengaku sama sekali tidak menyangka jika peristiwa ini menimpa suaminya.
“Suami saya itu orang yang baik. Saya mengenalnya selama 30 tahun, dan dia penuh tanggung jawab. Dia juga sangat tegas,’’ akunya.
Ati mengaku tidak mengetahui semua aktifitas suaminya. Termasuk penolakan penambangan pasir. Dia justru tahu suaminya ikut menjadi anggota forum yang menolak aktifitas penambangan pasir tersebut dari para tetangga.
“Tadinya ya biasa-biasa saja. Tapi kemudian ada pengancaman. Bahkan, saya juga sempat diancam oleh warga. Di depan cucu saya, warga yang mengancam mengacungkan celurit, dan mengancam membunuh jika suami saya tetap menolak penambangan,’’ urai Ati.
Ancaman itu sempat membuat Ati ciut. Dia takut jika warga yang mengancam itu betul-betul memenuhi ancamannya. Itu sebabnya, dia pun meminta Tosan untuk berhenti melakukan penolakan. Tapi begitu, Tosan yang sudah bertekad menolak permintaan Ati. Dan tetap menolak aktifitas penambangan.
Apakah Tosan memiliki ilmu kebal? Ati langsung menggelengkan kepala. Selama mengenal Tosan, 1985 lalu, Ati tidak pernah melihat Tosan melakukan aktifitas yang aneh-aneh. Keseharian Tosan adalah bertani dan begadang sewaktu-waktu. “Saya menikah sejak 1985 lalu. Dikaruniai tiga anak. Selama ini suami saya tidak melakukan hal yang aneh, semuanya berjalan normal. Jadi kalau dia memiliki ilmu kebal saya tidak yakin, dan tidak tahu,’’ katanya.
Sementara itu disinggung dengan tuntutannya? Ati mengatakan dirinya menuntut pelaku ditangkap. Bukan itu saja, pekerjaan penambangan juga wajib dihentikan.
Meski dirawat di RSSA Malang, namun bisa dipastikan Tosan tidak membayar biaya perawatan. Itu karena sejak Selasa (29/9) lalu, surat Jamkesmas atan nama Tosan telah keluar. Hal ini kemarin dikatakan Ahmad Rosyid.
Kepada Malang Post, Rosyid mengatakan jika sebelumnya sempat kebingungan masalah biaya. Bahkan sejak dia dirujuk ke RSSA Malang Minggu (27/9) dinihari lalu. “Hari Minggu pertama datang kita harus menebus obat harganya Rp 1.2 juta, dan darah Rp 365 ribu. Waktu itu kami bingung, karena memang tidak membawa uang sama sekali. Tapi Alhamdulillah sore harinya ada beberapa teman di Lumajang mau mencarikan sehingga ada uang untuk menebus obat. Ya sekalipun harusnya obat diberikan pagi tapi baru bisa diberikan sore, karena tidak ada biaya menebusnya,’’ urai Rosyid.
Hari Senin (28/9) pun demikian. Saat itu keluarga harus menebus obat Rp 1,5 juta dan Rp 2 juta. Lagi-lagi Rosyid meminta bantuan rekan-rekannya untuk mencarikan dana.
“Kami bingung justru saat dokter meminta persetujuan operasi. Saat itu biaya yang harus kami tanggung Rp 12 juta. Tapi karena kami berharap nyawa pak Tosan selama bu Ati akhirnya setuju, meskipun saat itu tidak ada uang sama sekali,’’ tambahnya.
Sejak Tosan dirawat uang yang sudah dikeluarkan Rp 5 juta. Sementara uang operasi Rp 12 juta belum dibayar..
Tapi kini, Rosyid pun tidak perlu lagi khawatir. Itu karena surat Jamkesmas Tosan keluar. “Sejak Senin diurus semuanya. Dan Selasa ada yang mengantar ke sini. Dan begitu ada surat ini tidak ada biaya yang kami tanggung,’’ katanya.
Seperti Ati Ariyati istri Tosan, Rosyid berharap Tosan lekas sembuh, dan kembali berkumpul dengan keluarga. Dia juga meminta polisi untuk mengusut tuntas kasus ini. “Kami masih kawatir, karena belum semua pelaku ditangkap. Kami berharap polisi bisa mengusut tuntas kasus ini dan pelaku yang ditangkap mendapatkan hukuman setimpalo,’’ tandas Rosyid.
Sementara itu,  meski berada di area isolasi ruang 13, Tosan tetap dijaga ketat. Kemarin ada tujuh polisi yang melakukan penjagaan di luar ruang 13. Satu diantarannya bersenjata laras panjang.
Tujuh anggota polisi ini, tiga merupakan anggota Polres Lumajang, sedangkan empat merupakan anggota Polres Malang Kota. “Kita melakukan back up untuk pengamanan,’’ kata salah satu anggota Polres Malang Kota.
Hadirnya petugas kepolisian ini untuk memberikan pengamanan kepada Tosan, mengingat pria ini merupakan saksi kunci kasus penculikan, dan penganiayaan yang membuat temannya Salim alias Kancil tewas dengan kondisi sangat mengenaskan.
Para petugas ini juga melakukan penyaringan terhadap tamu yang menjenguk. Bahkan, meskipun tamu yang datang adalah keluarga.
“Perintahnya demikian. Kalau pun ada tamu yang ingin menjenguk, hanya boleh di sini (area tunggu),’’ kata salah satu petugas dari Polres Lumajang.
Petugas ini mengatakan penjagaan dilakukan sejak Minggu lalu, atau sejak Tosan dirujuk di RSSA. Pengajagaan ini dilakukan agar Tosan aman. “Kalau keterangan lainnya langsung ke Kapolres aja mbak. Kami tidak memiliki kewenangan untuk memberikan keterangan,’’ tambah petugas tersebut.
Meski  hanya menjaga petugas ini juga terus melaporkan perkembangan Tosan. Bahkan, petugas berpakaian seragam polisi ini juga selalu mengirimkan gambar Tosan kepada atasannya.(ira/ary)