Pelaku Dihukum Ringan,Singgamata Kecewa

KONFLIK  terkait  penambangan pasir di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang sebenarnya  sudah ada sejak lama. Bahkan, lantaran terus terjadi konflik, penambangan ini kemudian sempat ditutup.
Demikian ditegaskan  oleh mantan Kapolres Lumajang yang sekarang menjabat  Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata, kemarin. Perwira menengah Polri  dengan dua melati di pundak ini menuturkan bahwa  saat dirinya menjabat sebagai Kapolres Lumajang, secara tegas langsung menutup penambangan itu, lantaran mencium terjadinya konflik.
“Kasus ini sebetulnya sudah lama. Dulu saat  menjabat Kapolres disana pada tahun 2013 lalu, saya sudah  bertindak dengan menutupnya. Saat itu,  saya  sudah berpikir, jika permasalahannya (penambahan pasir liar,red)  ditutup maka konflik tidak akan terjadi,’’ katanya.
Ketegasan  tersebut juga diperlihatkan Singgamata  dengan menangkap para pelaku penambangan liar. Ada lima orang yang diamankan dan menjalani proses hukum. Tapi  ia akhirnya harus merasa  kecewa karena setelah diproses,maka  kelima orang pelaku tersebut hanya menjalani hukuman tidak lebih dari 3 bulan.
“Penegakan hukum tidak hanya di kepolisian. Kami sudah maksimal saat itu, tapi faktanya lima tersangka yang kami tangkap, hanya mendapatkan hukuman tidak lebih dari tiga bulan,’’ katanya dengan nada penuh penyesalan.
Bukan itu saja, yang membuat Singgamata heran adalah munculnya aktifis lingkungan. Karena saat itu, dia yang turun langsung tidak ada aktifis lingkungan. Tapi yang muncul adalah rebutan lahan penambangan. “Tapi itu dulu ya, mereka rebutan. Penambang tradisional ini tidak mau lahan pertambangan dikelola oleh investor,’’ katanya.
Singgamata  juga mengatakan, penghasilan dari penambangan pasir besi di Desa Selok Awar-Awar cukup menggiurkan. Bagaimana tidak, dalam satu bulan hasil yang diperoleh dari proses ekploitasi alam ini bisa mencapai Rp 2.7 Milar. Dengan rincian, harga satu bak truk pasir Rp 300 ribu, setiap hari pengambilan pasir mencapai 300 rit. “Coba dikalikan, setiap hari uang yang diperoleh dari penambangan tersebut mencapai Rp 90 juta, jika dikalikan satu bulan Rp 2.7 Miliar. Ini yang menjadi pemicunya,’’ katanya usai mendampingi Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Charliyan menjenguk Tosan di RSSA Malang. (ira/nug)