Polda Tetapkan 31 Tersangka Kasus Pembunuhan

MALANG POST - Polda Jawa Timur terus menyelidiki kasus pembunuhan, penganiayaan hingga illegal mining. Hingga kemarin, sebanyak 31 orang ditetapkan sebagai tersangka. Mereka ada yang dijerat pasal berlapis tentang pembunuhan sampai penambangan liar. "Kami sudah mengamankan 31 orang," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol RP Argo Yuwono, Selasa (6/10/2015).
Penyidikan kasus pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan Tosan, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jatim menetapkan 24 orang tersangka. Dari 24 orang, 8 di antaranya terjerat kasus pembunuhan dan penganiayaan. Sedangkan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus menetapkan 13 orang tersangka kasus penambangan pasir illegal di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. "Dari 13 orang tersangka illegal mining, 6 di antaranya juga terjerat kasus penganiayaan dan pembunuhan," jelasnya.
Untuk kasus penganiayaan dan pembunuhan, polisi sudah menetapkan inisial MD sebagai tersangka. "MD yang mengomandoi semua tersangka untuk melakukan pengeroyokan. MD pekerja tambang dan disuruh kepala desa (tersangka Hariyono)," jelasnya.
Dari 31 orang tersangka, sebanyak 25 tersangka dijebloskan ke sel Mapolda Jawa Timur, Jalan A Yani, Surabaya. Sedangkan 6 tersangka (2 diantaranya masih di bawah umur) masih dikeler (digelandang), untuk pengembangan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut. Penyidik juga terus mendalami, aktor atau pelaku dibalik kasus tersebut, termasuk siapa yang menyuruh kades melakukan perbuatan tersebut. "Ya masih terus didalami. Tidak menutup kemungkinan ada penambahan tersangka lagi," jelasnya.
Sementara itu secara terpisah, Kapolri Jendral Badrodin Haiti mengakui tiga anggota Polri dari Polsek Pasirian saat ini dalam pemeriksaan pihak Polda Jawa Timur terkait dugaan aliran suap dari Tambang Pasir besi ilegal di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.
Badrodin yang hadir dalam acara Pelantikan dan Penutupan 864 Siswa Inspektur Polisi (SIP) di Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Mabes Polri di Sukabumi, Jawa Barat tersebut juga mengakui tiga anggotanya itu menerima dana dari pengusaha tambang. Saat ini, proses pemeriksaan terhadap tiga anggota yang bertugas di Lumajang itu masih terus dilakukan.
"Dana yang diberikan oleh pengusaha tambang kepada anggota kita, bentuknya gratifikasi atau dana untuk pengamanan. Kita harus periksa lagi. Jika memang terbukti bersalah, kita akan tegas memberikan sanksi atau hukuman sesuai kesalahannya," kata Badrodin, kemarin.
Badrodin juga menyebut pihaknya tidak akan tebang pilih dalam penanganan pasca terbunuhnya aktivis anti tambang Salim Kancil. Dari sejumlah tersangka, menurut dia, masih ada kemungkinan tersangka bertambah.
"Kita akan menyelidiki apakah ada oknum intelektual yang bermain di tambang pasir ilegal ini. Kami berjanji akan tegas dan tidak tebang pilih dalam mengungkap pembunuhan Salim Kancil. Siapapun orang dan apapun jabatannya jika terbukti terlibat akan kami proses. Saya terus pantau perjalanan kasus ini ," pungkas jenderal polisi kelahiran Jember ini. (bj/det/udi)