dr Hardi Bakal Dijemput Paksa?

MALANG – Ekseskusi mantan bos PT Hardlent Medika Husada (HMH), dr Hardi Soetanto kembali gagal dilakukan Kejaksaan Negeri Malang. Hardi tidak memenuhi panggilan kedua dari Kejari. Hanya saja, tidak satupun pejabat dari Kejari Malang mau membuka mulut terkait dengan ketidak hadiran pria yang divonis enam bulan penjara oleh Mahkamah Agung (MA) lantaran terbukti melanggar Pasal 266 KUHP.
Apakah panggilan ketiga juga akan segera dilayangkan dengan menjemput paksa Hardi?.
"Silakan ke pak Kajari saja," kata Kasi Pidum Kejari Kota Malang, Moh Iryan, SH, saat bertemu Malang Post kemarin.
Tidak jelas apa yang membuat tim dari Kejari Malang ini enggan dikonfirmasi. Tapi yang pasti tim dari penasihat hukum dr Hardi kembali mendatangi Kejari.
“Iya pengacaranya tadi datang,’’ katanya singkat. Disinggung untuk apa kedatangan pengacara Hardi, Iryan kembali membungkam. Dia kembali mengarahkan wartawan untuk langsung menghadap Kepala Kejari Malang Hendrizal Husen SH.
Seperti yang diberitakan Seperti yang diberitakan sebelumnya kasus pidana yang menyeret Dokter Hardi Soetanto, 58 tahun, mantan bos PT Hardlent Medika Husada (HMH) Malang, nampaknya tidak bisa berkelit ataupun berusaha lolos dari penjara. Hal itu setelah Mahkamah Agung (MA) memutuskan perkara yang membelitnya.
Setelah dalam sidang di PN Malang, dibebaskan dalam perkara pidana menyuruh memalsukan keterangan ke dalam data autentik, Mahkamah Agung (MA) justru memutuskan pria asal Jalan Lombok Pasuruan ini bersalah melanggar pasal 266 KUHP.
Melalui putusan Nomor 1185 K/PID/2014, tiga hakim MA yakni Artidjo Alkostar SH, LLM, Dr Drs H Dudu D Machmudin SH, M.Hum serta Desnayati SH, MH mengganjar Hardi dengan hukuman enam bulan penjara. Dalam putusan itu, Hardi dianggap merugikan DR FM Valentina SH, M.Hum sebagai pemilik asli PT HMH.
Dari putusan tersebut, tanggal 14 September 2015 lalu, Kajari Malang, Hendrizal Husen SH mengeluarkan surat perintah eksekusi sesuai dengan amar putusan MA itu. Pemanggilan pertama dilayangkan tim eksekusi Kejari Malang Jumat (25/9) lalu. Dalam surat tersebut tim eksekusi meminta Hardi hadir pada Selasa (29/10). Namun begitu Hardi tidak datang. Selanjutnya Kamis (1/10) lalu, tim Kejari Malang kembali memanggil dr Hardi dan meminta Hardi untuk datang Rabu (7/10) kemarin. Namun untuk kedua kalinya dr Hardi tidak datang.
Sementara Sutrisno SH, penasihat hukum DR Valentina mengaku menyesalkan ketidak hadiran Hardi memenuhi panggilan tim Kejari untuk eksekusi. Namun begitu, Sutrisno juga tidak tinggal diam, agar kasus ini cepat selesai pihaknya sudah melapor ke Komisi Kejaksaan RI.
"Kabarnya, besok (hari ini, red) tim dari Komisi Kajaksaan RI akan ke Malang untuk mempertanyakan masalah itu kepada Kajari Kota Malang terkait masalah ini," kata dia. (ira/aim)