Siswa Pembakar Ruang Kasek Bebas

Kena Wajib Lapor Setelah SMPN 10 Cabut Laporan
MALANG – Kasus dua siswa yang nekat membobol dan membakar dokumen di penting milik SMP Negeri 10 Senin (5/10) malam lalu tidak berlanjut. Sebab pihak SMP Negeri 10 Malang mencabut laporannya terhadap dua pelaku yaitu MRF, 14 tahun, warga Sukun dan MRH, 14 tahun, warga Kedungkandang. Pencabutan laporan ini kemarin dikatakan oleh Kasubag Humas Polres Malang Kota AKP Nunung Anggraeni.
“Sudah selesai. Sesuai laporan dari Kanit PPA, tadi pihak korban datang ke sini untuk mencabut laporannya,’’ katanya.
Nunung memang tidak menjelaskan siapa orang yang mencabut laporan tersebut. Tapi yang pasti, orang yang datang adalah merupakan korban yang telah dirugikan.  Yang pasti kasus itu tercatat dengan pelapor atas nama Suyono, Guru SMP Negeri 10 Kota Malang.
“Intinya, pencabutan laporan perkara ini dasarnya adalah kesepakatan dari pihak korban dan pelaku, yang sama-sama ingin menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan. Di sini, polisi hanya menerima saja, tanpa ikut andil dalam kesepakatan yang dibuat,’’ katanya.
Seiring dengan pencabutan laporan perkara tersebut baik MRF maupun MRH langsung bebas. Keduanya pun langsung melenggang keluar dari ruang penyidikan Unit PPA Polres Malang Kota.  Sebelumnya, kedua tersangka ini berada di unit PPA Polres Malang Kota. Sejak ditangkap Selasa (6/10) lalu, keduanya menjalani pemeriksaan secara marathon.
Status tersangka pun telah ditetapkan kepada keduanya. Hanya saja, sejak diamankan hingga kemarin, petugas belum melakukan penahanan. Kalau pun keduanya belum dipulangkan, tak lain karena proses penyidikan.
Sementara itu, meskipun laporannya telah dicabut oleh pihak korban, bukan berarti MRF dan MRH bebas 100 persen. Yaitu itu karena tim penyidik tetap meminta keduanya untuk wajib lapor. Menurut Nunung keduanya harus datang ke Polres Malang Kota dua kali seminggu untuk wajib lapor. Selain itu keduanya juga menuliskan surat pernyataan, untuk tidak mengulang lagi.
“Kemarin tersangka sudah dikembalikan kepada orang tuanya, dan tetap melakukan wajib lapor meskipun perkaranya dicabut,’’ tandasnya.
Pencabutan laporan itu, tentu atas dorongan Wakil Wali Kota Malang Sutiaji. Sebelumnya Sutiaji meminta agar sekolah mencabut laporan ke Polisi.
Dia menegaskan kasus ini bukan kealpaan sekolah. Sutiaji yang didampingi oleh Kepala Sekolah SMPN 10, Supandi mengatakan sekolah sudah berusaha mendidik siswa dengan baik. Oleh karenanya dia pun berharap kasus ini tidak lagi dibesar-besarkan.
“Rencananya perkaranya akan dicabut. Nanti kepala sekolah akan ke Polres Malang Kota untuk mencabut laporan. Perkara ini akan diselesaikan secara kekeluargaan,’’ kata Sutiaji.
Sutiaji juga meminta maaf kepada masyarakat terkait dengan peristiwa ini. Hanya saja pihaknya pun meminta warga tidak risau. “Kasus ini murni kenakalan remaja. Di sekolah ini ada 975 siswa. Kalau dua bandel itu wajar. Yang pasti, kami tidak melakukan pembiaran dengan kasus ini. Pemerintah turun tangan dan melakukan pemantauan,’’ urainya.
Dua siswa SMPN 10 yakni MRH dan MRF nekat membakar ruang kepala sekolah SMPN 10 Jalan Mayjen Sungkono Senin (5/10) malam lalu. Aksi nekat ini dipicu oleh rasa dendam keduanya terhadap pihak sekolah yang mengancam akan mengeluarkan keduanya setelah kepergok mencuri.
Api tidak hanya menghanguskan ruang kepala sekolah, tapi juga membakar seluruh barang yang ada di dalam ruangan tersebut. Diantaranya barang-barang elektronik diantaranya dua unit LCD 32 inci, 1 unit DRD, 1 UPS, 3 mic, 1 meja, hardisk, layar LCD, dokumen, sertifikat, piagam penghargaan dan buku-buku yang ikut terbakar. MRH dan MRF sendiri ditangkap Selasa (6/10) sore lalu oleh anggota Polsekta Kedungkandang. Tapi karena keduanya masih dibawah umur, perkara ini pun dilimpahkan ke unit PPA Polres Malang Kota.(ira/ary)