Usai Mabuk, Nyaris Perang Antar Suku

BUKTI: Petugas kepolisian menemukan speaker rusak di dekat kampus Unisma yang diduga hancur karena baku hantam

MALANG – Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) kembali digegerkan dengan perkelahian antar suku yang terjadi Kamis (8/10/15) malam lalu. Kali ini, dua suku yang berselisih adalah mahasiswa dari suku Ambon dan Maumere (Nusa Tenggara Timur). Kejadian ini terjadi saat salah satu kelompok mengganggu ketertiban dengan mabuk-mabukan di depan kampus Unikama. Kelompok lain merasa terganggu dan pecahlah perselisihan antar suku tersebut.
Bermula ketika masing-masing dari mereka sedang berkumpul di titik yang berbeda di depan Kampus Unikama, Kamis malam. Mahasiswa asal Maumere, berkumpul tepat selatan depan BNI. Sedangkan, mahasiswa Ambon berada di dekat pos satpam bagian barat kampus. Sebenarnya, selain mahasiswa dari kedua suku ini, ada juga mahasiswa dari suku lain yang terlihat sedang berkumpul dan melakukan koordinasi di depan kampus Unikama, Jl Soedanco Supriadi No. 48 Malang.
Dari beberapa kelompok yang melakukan pertemuan tersebut, Orda Maumere terlihat mabuk dan menyalakan musik menggunakan speaker sehingga dinilai mengganggu ketertiban sekitar. Satpam kampus pun menegurnya. Bahkan, teguran itu dilontarkan sampai dua kali, namun tetap tidak digubris.
Kelompok mahasiswa dari Ambon geram melihat sekelompok mahasiswa Maumere yang mabuk dan menyetel musik menggunakan speaker aktif berukuran besar. Ketambahan, mahasiswa Ambon ini juga melihat kalau Satpam Unikama yang berusaha menegur tidak digubris. Akhirnya, perselisihan memanas.
Mahasiswa Ambon beramai-ramai mendatangi kelompok mahasiswa Maumere ke tempat mereka berkumpul dan mencoba mengingatkan mereka agar tidak menyetel lagu dan mabuk-mabukan di dalam kampus. Mulai dari sinilah, baku hantam antara mahasiswa Ambon dengan Maumere terjadi. Informasinya, baku hantam saling pukul antara kedua suku itu, berlangsung sampai 20 menit.
"Sekitar jam 22.30 WIB. Saya melihat dari kedua Orda yang bentrok tersebut satu terluka dibagian bibir dan berdarah. Sepertinya dari Maumere,” kata Dani Suyanto, saksi mata sekaligus Satpam BNI yang saat peristiwa sedang berada di lokasi. Menurutnya, tidak lama setelah baku hantam terjadi, polisi datang dan para pelaku langsung kabur.
Polisi datang dan membubarkan perkelahian antara kedua suku. Namun, saat itu tidak ada yang diamankan. Polisi hanya menemukan, ada botol plastik bekas yang diduga digunakan untuk menampung minuman keras. Selain itu, ada juga speaker berukuran sedang yang pecah karena dibanting. Speaker tersebut, merupakan speaker yang digunakan oleh mahasiswa Maumere untuk mendengar musik. "Keramik bank ini juga pecah sedikit," tambah Dani sambil menunjukan bekas pecahan lantai keramik.
Sampai kemarin (9/10/15), nampaknya polisi berpakaian preman masih berjaga di sekitaran kampus untuk memastikan lokasi benar-benar kondusif. "Anak-anak itu, memang sering berkumpul di depan sini kalau malam. Tapi baru kali ini saja sampai ada yang berkelahi," jelas Purnomo, satpam lainnya.
Dikonfirmasi terpisah, Wakapolres Malang Kota, Kompol Dewa Putu membantah kalau ada perkelahian di sana. "Tawuran apa? Tidak ada, kami sempat mencegahnya," kata Dewa Putu saat dikonfirmasi melalui ponselnya, kemarin. Ia menuturkan, kalau timnya bergerak dengan cepat sehingga tak sampai ada baku hantam.
Meski begitu, ia menuturkan, meminta bila terjadi perselisihan, sebaiknya diselesaikan melalui musyawarah bukan dilampiaskan melalui emosi. “Jadi mahasiswa jangan mudah terprovokasi. Kejadian kemarin sudah kami selesaikan. Kedua Orda juga telah dikumpulkan oleh pihak rektorat dan saya diundang untuk ikut memantau,” jelasnya.
Dewa menyatakan, kalau satu tahun belakangan ia belum menemukan catatan perselisihan antar suku di Kota Malang. Menurutnya, tidak ada potensi perselisihan di antara mereka. "Saya baru tiga bulan di sini dan tidak ada tawuran antar suku. Saya juga lihat catatan satu tahun terakhir juga tidak ada. Di sini aman-aman saja," pungkas Dewa.