Kalau Tawuran Jangan di Malang

MALANG – Perkelahian antar suku yang terjadi di area Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) beberapa waktu lalu membuat geram Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata. Terlebih kasus perkelahian antar suku ini bukan kali pertama terjadi. Lantaran itulah, perwira Polri  dengan dua melati di pundak ini langsung mengeluarkan ancaman, dengan tidak memberikan ampun kepada pelaku perkelahian.
‘‘Kemarin terakhir kami memberikan kesempatan. Tindakan represif kami berikan untuk mereka yang bandel.Tapi setelah ini kami tidak akan memberi ampun lagu,‘‘ kata  Singgamata kepada Malang Post kemarin.
Ditambahkan bahwa kalau cukup bukti maka pelaku tawuran segera dijebloskan ke tahanan. Ia menjamin,  tidak ada ampun bagi mereka. ‘‘Juga tidak ada penangguhan penahanan, meskipun ada yang memohon. Sudah cukup bagi kami dengan persoaloan seperti ini. Kalau mau tawuran jangan  di Malang,‘‘ katanya dengan nada  jengkel.
Mantan Kapolres Lumajang ini menyatakan  aksi tawuran atau perkelahian pemuda antar suku seringkali sangat meresahkan masyarakat. Bahkan, warga yang tidak tahu apa-apa juga sempat menjadi korban. Oleh karenanya, tidak ingin kejadian tersebut terulang, maka tindakan represif itulah satu-satunya yang bisa dilakukan.
‘‘Kami sudah mengajak bicara kelompok-kelompok pemuda. Intinya kami tidak main-main, jika memang mereka tidak mau diatur maka ancaman hukuman pun di depan mata,‘‘ katanya.
Pria  ramah  ini   mengatakan untuk menjaga kondusifitas  wilayah Kota Malang, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan ketua RT, RW kelurahan, Kecamatan dan dinas terkait. Selain itu Kapolres juga berkoordinasi dengan kampus, untuk melakukan tindakan tegas, jika ada mahasiswa yang kerap berbuat onar.
Sementara pasca terjadinya perkelahian tersebut,  Singgamata  juga sudah mengumpulkan para pemuda yang terlibat perkelahian. Meski tidak menyebutkan tempat berkumpul, tapi yang jelas dalam pertemuan tersebut, keduanya sepakat berdamai dan berjanji tidak mengulangi perbuatan yang dilakukan. ‘‘Kami berharap tidak ada lagi tawuran. Dan mereka juga mau bersama-sama untuk menjaga keamanan di Kota Malang agar tercipta lingkungan yang nyaman,‘‘ tandasnya.
Seperti  diberitakan  Malang Post,kampus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) kembali digegerkan dengan perkelahian antar suku yang terjadi Kamis (8/10/15) malam lalu. Kali ini, dua suku yang berselisih adalah mahasiswa dari suku Ambon dan Maumere (Nusa Tenggara Timur). Kejadian ini terjadi saat salah satu kelompok mengganggu ketertiban dengan mabuk-mabukan di depan kampus Unikama. Kelompok lain merasa terganggu dan pecahlah perselisihan antar suku tersebut.
Bermula ketika masing-masing dari mereka sedang berkumpul di titik yang berbeda di depan Kampus Unikama, Kamis malam. Mahasiswa asal Maumere, berkumpul tepat selatan depan BNI. Sedangkan, mahasiswa Ambon berada di dekat pos satpam bagian barat kampus. Sebenarnya, selain mahasiswa dari kedua suku ini, ada juga mahasiswa dari suku lain yang terlihat sedang berkumpul dan melakukan koordinasi di depan kampus Unikama, Jl Soedanco Supriadi No. 48 Malang.(ira/nug)