Penjualan Benih Lobster Ratusan Juta Diamankan

MALANG POST – Pengiriman benur lobster ilegal senilai Rp 121 juta berhasil digagalkan Ditpolair Polda Jatim, kemarin. Selain mengamankan ribuan benur, petugas juga mengamankan pembeli dan pengepulnya. ‘’Mereka sudah melakukan aksinya selama empat bulan. Benur dikirim melalui jalur darat. Sedang pembayaran melalui transfer bank,’’ kata Kombes Pol R Argo Yuwono, Kabid Humas Polda Jatim saat gelar perkara, Selasa (14/10).
Dikatakan, benur dengan potensial bisnis cukup tinggi itu yang berhasil diamankan jumlahnya mencapai ribuan ekor. Tetapi, tidak semuanya dijadikan barang bukti untuk penyidikan. Sebanyak 4.655 ekor benur dikembalikan ke habitatnya di pantai Popoh, Tulungagung. Jumlah tersebut adalah benur yang berhasil diselamatkan dalam kondisi masih hidup.
‘’Ditpolair bersama petugas dari dinas kelautan dan perikanan Jatim membawa dua kardus benur yang masih hidup. Agar tidak terjadi kerugian lebih banyak benur langsung dibawa ke pantai Popoh,’’ ungkapnya.
Di sisi lain, Argo menyebutkan, petugas membawa sebanyak 526 ekor benur dalam kondisi mati untuk bahan penyelidikan. Penangkapan terhadap tersanga AAS dan ES dilakukan karena benur ini masuk kategori dilindungi dan dilarang diperjualbelikan.
‘’Tersangka AAS bertindak sebagai  sebagai pembeli. Sedang ES bertindak sebagai pengepulnya,’’ kata Argo dengan menunjukkan barang bukti benur yang sudah mati dalam sebuah toples.
AAS, lanjut Argo, ditangkpa di rumahnya di kawasan Banyuwangi. Sedangkan ES ditangkap ketika sedang melakukan pengiriman di Jl. Bandung, Kabupaten Tulungagung. ES saat itu akan mengirim 6 ribu ekor benur ke rumah AAS di Banyuwangi.
‘’Rencananya, benur benih yang baru didapat dari laut itu akan dikirim ke pengelolaan benih lobster milik AAS. Belakangan diketahui, pengelolaan itu ternyata tidak ada ijinnya,’’ kata Argo sembari menyebutkan, benur lobster harganya Rp 21 ribu/ekor.
Kedua tersangka disangkakan menjual benur lobster ilegal karena ukurannya masih sangat kecil. Tindakan itu melanggar pasal 31 dan 38 UU 31/2004 tentang perikanan. Juga melanggar Permen Kelautan Nomor 1/2015. ‘’Untuk pengusutan lanjutan, kedua tersangka ditahan di Polda Jatim. Kedua pelaku  terancam hukuman 8 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar,’’ pungkasnya. (has/udi)