Panjat Tebing hingga Mandi Sauna di Lembah Kera

KETUA umum kegiatan Diklatsar, Pramudya, mengatakan bahwa kegiatan diklat diikuti sekitar 34 orang. 15 orang adalah panitia dan alumni, sedangkan 19 orang adalah peserta Diklatsar. 19 peserta tersebut, perempuannya berjumlah 10 orang dan laki-laki 9 orang. Mereka rata-rata mahasiswa semester satu. Hanya korban Lutfi Rahmawati, yang merupakan mahasiswa semester tiga. Mereka ini tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam Sunan Ampel Surabaya (Mapalsa).
Mereka berangkat dari UNISA Surabaya, Rabu (14/10) sekitar pukul 12.00, dengan menggunakan bus milik UNISA.
“Tidak semuanya naik bus, karena ada sebagian yang naik sepeda motor,” terang Pramudya.
Tiba di Kecamatan Kepanjen, sekitar pukul 15.00. Mereka tidak langsung menuju lokasi, namun berhenti di warung makan Bendungan Sengguruh Kepanjen. Setelah menyantap makanan, mereka langsung berjalan kaki menuju Lembah Kera Pagak, untuk membuat kamp pertama.
Setiba di Lembah Kera, sebelum petang. Setelah membuat kamp untuk penginapan, mereka langsung istirahat. Kemudian, Kamis (15/10) sekitar pukul 04.30, seluruh peserta dan panitia bangun. Mereka melaksanakan salat Subuh bersama-sama, dilanjutkan dengan memasak dan makan, serta packing peralatan.
Setelah itu, dilanjutkan dengan kegiatan senam bersama. Setelah semuanya sudah siap, kegiatan dilanjutkan dengan panjat tebing di Lembah Kera, sekitar 20 menit kegiatan dilanjut dengan aplikasi panjat tebing di Lembah Kera.
“Saat panjat tebing itu, Yudi tidak ikut karena berat badannya berat,” kata Pramudya.
Sekitar pukul 14.00, panitia melanjutkan kegiatan mandi sauna di bawah Lembah Kera. Satu jam kemudian, kembali ke Lembah Kera untuk istirahat dan makan. Selanjutnya diisi dengan memberikan materi navigasi di simpang lima di bawah kaki Gunung Slamet, yang berjarak sekitar 45 menit dari Lembah Kera ketika ditempuh dengan jalan kaki.
Usai kegiatan navigasi, panitia mengajak peserta kembali lagi ke jalan semua. Persis di tengah (antara simpang lima dengan Lembah Kera), untuk dilanjutkan pemberian materi konservasi pada petang hari. Sekitar pukul 21.00, kembali lagi ke simpang lima untuk mendirikan kamp istirahat.
Jumat (16/10) pagi, sekitar pukul 04.30, kegiatan diawali lagi dengan salat subuh, memasak, makan dan packing peralatan serta senam bersama. Selanjutnya sekitar pukul 07.00, diteruskan dengan mountaineering ke Puncak Gunung Slamet.
“Semuanya ikut, karena di puncak kami melakukan upacara,” tuturnya.
Usai upacara, mereka turun ke bawah kaki Gunung Slamet, untuk mengadakan materi Bivac Alam. Yaitu mengumpulkan daun dan batang pohon, untuk membuat sebuah rumah-rumahan. Kemudian pukul 09.00, dilanjutkan dengan pemberian materi SAR dan PPGD (pertolongan pertama gawat darurat). Yaitu tentang simulasi bagaimana menolong korban.
Sekitar pukul 14.00 sampai pukul 16.00 istirahat. Setelah itu dilanjutkan perjalanan ke Lembah Setan yang ditempuh dengan jalan kaki selama satu jam. Saat di Lembah Setan inilah, Yudi merasakan sakit. Ia batuk berdahak dan mengeluarkan darah. Ketika ditanya apakah sanggup melanjutkan, Yudi mengatakan sudah tidak sanggup.
Begitu juga dengan Lutfi, yang tidak bisa melanjutkan perjalanan karena kakinya sakit setelah terperosok saat kegiatan SAR dan PPGD. Keduanya kemudian dijemput dengan dua motor, untuk dibawa ke kamp induk.
“Sedangkan untuk peserta lainnnya, melanjutkan perjalanan ke gua dan makam ijen,” jelasnya.
Setelah turun, keduanya dibawa ke Puskesmas Sumberejo untuk mendapatkan perawatan. Yudi diberikan obat oleh petugas medis, yang kemudian kembali ke kamp induk. Sabtu (17/10) sekitar pukul 08.00, keduanya diantarkan panitia ke Tebing Merdeka dengan naik motor, untuk berkumpul dengan peserta lainnya.
Karena fisik mereka berdua tidak kuat, saat melakukan kegiatan mereka tidak ikut hanya diminta untuk melihat. Sekitar pukul 13.00, panitia mengajak semua peserta kembali ke kamp induk. Yudi jalan kaki bersama peserta lainnya, sedangkan Lutfi dibonceng naik motor.
Sampai di kamp sekitar pukul 14.00, Yudi izin minum obat dan istirahat di tenda. Sekitar pukul 16.00, ketika dibangunkan sudah tidak bernyawa. Kemudian menyusul Lutfi yang merasakan sakit dan sempat minta minum. Setelah diberikan minum, Lutfi juga menghembuskan nafas terakhir.
“Semua peserta kami beri minuman air putih. Setiap peserta satu botol minuman air putih ukuran 1,5 liter. Makanan mereka juga teratur karena menunya kami sesuaikan semuanya,” ujarnya.
Apakah sebelumnya punya riwayat sakit ? Pramudya mengatakan, kalau Yudi memang memiliki riwayat sakit bronchitis. Sedangkan Lutfi sama sekali tidak memiliki riwayat sakit.
Sebelum mengikuti Diklatsar, seluruh peserta menjalani tes kesehatan dan ditanya apakah memiliki riwayat sakit. Bagi yang sakit atau memiliki riwayat sakit, tidak diperbolehkan ikut dalam kegiatan Diklatsar.
“Namun Yudi, saat tes kesehatan ia tidak mengatakan kalau memiliki riwayat sakit. Ia menyembunyikan riwayat sakitnya, karena tidak ingin dianggap lemah oleh panitia dan teman-teman lainnya,” terangnya sembari mengatakan bahwa yang memberikan materi Diklatsar adalah panitia, alumni dan senior Mapalsa.(agp/ary)