Diperiksa Marathon, Panitia Bungkam

DIPERIKSA : Tujuh orang saksi (lima panitia dan dua peserta) usai menjalani pemeriksaan marathon di Mapolres Malang, kemarin.

MALANG-Pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar) mahasiswa pecinta alam Sunan Ampel Surabaya (Mapalsa), menemui fakta baru, kemarin. Rupanya, kegiatan yang menewaskan dua mahasiswa itu, berlangsung atas sepengetahuan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UNISA) Surabaya.
Namun, polisi masih belum menemukan pelanggaran tindak pidana dalam kasus tewasnya dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UNISA) Surabaya. Sampai kemarin, Polres Malang yang menangani perkara ini, mengatakan masih mendalami dan menyelidikinya.
"Kami masih mempelajari dan mendalami kasusnya. Belum ditemukan adanya pelanggaran tindak pidana," ujar Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adam Purbantoro.
Sekadar diketahui, dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UNISA) Surabaya, Sabtu (17/10) lalu tewas saat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar), Mahasiswa Pecinta Alam Sunan Ampel Surabaya (Mapalsa). Keduanya diduga kecapekan dan dehidrasi saat ikut Diklatsar di lokasi Wana Wisata Sumuran RPH Rejosari, Dusun Bekur, Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak.
Mereka adalah Yudi Akbar Rizky K, mahasiswa semester satu, warga Sukolilo Park Regency Surabaya, serta Lutfi Rahmawati, mahasiswa semester tiga warga Jalan Barata Jaya, Surabaya. Yudi meninggal dunia di dalam tenda (kamp) induk. Sedangkan Lutfi, menghembuskan nafas saat perjalanan ke Puskesmas Sumberejo, setelah sebelumnya sempat minta minum.
Dari kejadian tersebut, sampai kemarin Polres Malang baru memeriksa tujuh orang saksi. Lima orang adalah panitia Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dua lainnya adalah peserta Mapalsa. Diantaranya, adalah Ketua Umum Pramudya, Ketua Pelaksana M Riza Umami serta Dipo Parta.
Mereka bertujuh menjalani pemeriksaan secara marathon. Mereka menjelaskan kronologis atau alur cerita kegiatan Mapalsa mulai awal keberangkatan hingga kejadian tewasnya dua orang peserta pada Sabtu lalu.
"Mereka mengatakan bahwa kegiatan Mapalsa bukan kegiatan ospek, melainkan kegiatan ekstra UKM. Proses untuk menjadi peserta dengan cara mendaftar, kemudian mengikuti serangkaian tes, termasuk tes kesehatan sebelum berangkat kegiatan Mapalsa. Rekontruksi yang kami lakukan sebelumnya, adalah untuk mengetahui gambaran lokasi dan cerita kejadiannya," jelas Adam.
Apakah kegiatan UKM ini atas sepengetahuan kampus. Mantan Kasatreskrim Polres Malang Kota ini menyampaikan, bahwa hasil pemeriksaan mengatakan  atas sepengetahuan rektor. Termasuk izin ke Perhutani dengan tembusan Polsek Pagak.
"Kegiatannya atas sepengetahuan kampus. Bahkan yang membentuk panitia kegiatan Mapalsa adalah rektor. Kegiatan ini adalah seperti ekstrakurikuler," ujarnya.
Lantas kapan rencana untuk pemeriksaan saksi ahli, mantan Kasatreskrim Polres Malang Kota ini mengatakan masih menunggu hasil perkembangan penyelidikan.
"Nanti kalau sudah masuk sidik (penyidikan) akan kami periksa, sekarang masih lidik (penyelidikan). Termasuk juga dengan pihak kampus," paparnya.
Sementara itu, tujuh orang yang dimintai sebagai saksi, kemarin memilih bungkam dan tutup mulut. Ketika dikonfirmasi Malang Post, mereka kompak mengatakan tidak mau memberikan statemen atau komentar apapun.
"Maaf mas kami sudah tidak mau memberikan keterangan. Kalau memang mau konfirmasi, silangkan saja langsung ke rektor," kata mereka.(agp/ary)