Polisi Bantah Kriminalisasi

Mantan laryawan PT Indonesian Tobaco  menggelar demo di depan Mapolres Malang Kota

Mantan Karyawan PT Indonesian Tobacco Resmi Tersangka
MALANG – Mantan karyawan PT Indonesian Tobacco  kemarin kembali mendatangi Mapolres Malang Kota, untuk memberikan dukungan kepada rekan mereka yaitu Liayati, yang ditetapkan penyidik Polres Malang Kota sebagai tersangka kasus penggelapan dana sosial.
“Kami tidak demo. Kami bersama-sama  datang  kesini  untuk memberikan dukungan kepada rekan kami yaitu Liayati yang sekarang diperiksa Unit Reskrim Polres Malang Kota,’’ kata mereka kepada Malang Post.
 Kendati hanya memberikan dukungan, kedatangan para eks buruh PT Indonesian Tobacco ini tetap menjadi perhatian. Apalagi, mereka sempat beberapa kali pindah tempat. Semula  mereka  menunggu di sebelah ruang Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK). Namun kemudian berpindah di depan ruang unit penjagaan.
Tidak lama mereka duduk, kemudian keluar dari halaman Polres Malang Kota. Sambil berjalan kaki, mereka menuju di depan papan nama Polres Malang Kota. Disinilah kemudian para mantan karyawan ini duduk, dan menggelar istigotsah. Tidak lebih dari satu jam, setelah menggelar istigotsah,mereka   masuk halaman Polres Malang Kota  dan  duduk di area kantor penjagaan Polres Malang Kota.
Tim hukum Liayati, Abdul Rachman  SH mengatakan, Liayati ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus Penggelapan Dana Sosial. Penetapan Liayati ini menyusul rekannya yaitu Syaiful. “Sekarang sedang diperiksa. Sebelumnya, tahun 2014 lalu, Liayati juga diperiksa sebagai saksi, dan baru sekarang diperiksa sebagai tersangka,’’ kata Abdul Rochman.
Ia  menyatakan uang yang digelapkan oleh Sayiful ataupun Liayati merupakan dana sosial yang diberikan perusahaan kepada organisasi SPSI PT Indonesian Tobacco. Tapi kenyataannya, polisi menetapkan hanya Syaiful dan Liayati saja yang ditetapkan sebagai tersebut. “Kita melakukan pendampingingan kepada Liayati. Agar semuanya menjadi jelas dan gamblang,’’ katanya.
Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata memastikan  pihaknya tetap mengedepankan  proporsional dan profesional terkait masalah ini. “Kami tidak melakukan kriminalisasi. Kalaupun sekarang keduanya ditetapkan sebagai tersangka, berarti kami sudah mengantongi dua alat bukti yang cukup,’’ katanya.
Kendati membiarkan kedatangan para buruh, tapi Kapolres tetap memberikan syarat kepada eks buruh ini. Pertama tidak masuk ke ruangan penyidikan, dan kedua tidak melakukan orasi. KArena dua hal tersebut akan membuat kinerja kepolisian terganggu.
“Kami tidak ingin berdebat. Jika memang para buruh lainnya protes dan akan melakukan pembelaan terhadap penanganan pada rekan mereka, silahkan di pengadilan. Termasuk jika mereka tidak terima dengan kinerja kepolisian,. Bisa melayangkan pra peradilan. “Kami sangat terbuka, kalau eks buruh tidak terima silahkan melakukan pra peradilan,’’ tandas mantan Kapolres Lumajang ini.(ira/nug)