Bongkar Kasus Trafficking Berkedok Pengasuh Anak

Tersangka Sumarsih, ketika dimintai keterangan Kasatreskrim Polres Malang saat dirilis siang kemarin.

MALANG - Polres Malang berhasil mengungkap laporan tindak pidana perdagangan orang (trafficking). Tidak butuh waktu lama, setelah mendapat laporan pada 15 Oktober lalu, Minggu (25/10) kemarin, atau 10 hari setelah laporan, berhasil menangkap Sumarsih, 34 tahun, warga Sanga-sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang menjadi pelakunya.
Tersangkanya diringkus di tempat tinggalnya di Kalimantan Timur. Penangkapan wanita kelahiran Malang ini, berkat kerjasama dengan pihak Polres Kutai Kartanegara. Minggu (25/10) sore lalu, tersangka dijemput oleh petugas di Bandara Juanda Sidoarjo.
"Untuk sementara ini, baru satu saja pelakunya. Kami masih akan mengembangkan perkaranya. Termasuk apakah ada korban lainnya," terang Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adam Purbantoro kepada Malang Post, kemarin.
Dua wanita di bawah umur yang menjadi korban trafficking masing-masing berinisial EEP, 14 tahun serta EST, 15 tahun. Keduanya warga Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso. Mereka saat ini sudah kembali kepada keluarganya.
Diperoleh keterangan, pada bulan November 2014 lalu, EST datang ke rumah EEP atas permintaan tersangka. EST mengajak EEP bekerja ke Kalimantan. Kemudian EST dan EEP pergi ke rumah tersangka di Karangploso, dan menginap selama 4 hari.
Karena beberapa hari tidak pulang, EEP dijemput oleh orangtuanya. Lalu keesokan harinya, tersangka mendatangi rumah EEP. Ia mengutarakan untuk mengajak EEP bekerja sebagai pengasuh anak di Kalimantan. Lantaran korban masih sekolah, oleh orangtuanya dilarang.
Namun selang tiga hari kemudian, tersangka menghubungi EEP lewat pesan singkat (SMS). Isi SMS-nya 'Jadi ikut ke Kalimantan apa nggak ? Kalau kamu jadi ikut, aku tunggu tamu di pom bensin (SPBU) Karangploso'.
Tanpa pikir panjang, EEP lalu mengiyakan. Kemudian ia meminjam motor kakaknya untuk pergi ke SPBU Karangploso. Sampai di SPBU tersangka dan EST sudah menunggu. Selanjutnya mereka bertiga berangkat bersama ke Bandara Juanda, menuju Balikpapan.
Sesampai di Bandara Sepinggan Balikpapan, mereka bertiga dijemput oleh suami tersangka menuju Desa Pendingin, Sanga-sanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Setelah diberikan waktu istirahat, keesokan harinya EEP dan EST dibawa ke Cafe Armada milik tersangka.
Ditempat tersebut, keduanya dipekerjakan sebagai pelayan tamu untuk menemani minum-minuman keras. Termasuk diminta melayani tamu yang ingin melakukan hubungan badan. EEP dan EST diwajibkan membayar Rp 25 ribu untuk sewa kamar setiap harinya. Serta uang Rp 100 ribu, sebagai cicilan biaya ganti tiket pesawat.
"Tersangka ini kami jerat dengan pasal 83 jo pasal 76f Undang-undang nomor 35 tahun 2014, tentang perbuatan atas Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, jo pasal 2 Undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidan perdagangan orang. Ancaman hukumannya 15 tahun kurungan penjara," jelas mantan Kasatreskrim Polres Malang Kota.
Terbongkarnya trafficking ini, berawal dari kedua korban EEP dan EST yang berhasil kabur dari rumah tersangka, pada awal Oktober lalu. Mereka kemudian menghubungi keluarganya dan menceritakan apa yang terjadi.
Karena tidak terima dengan apa yang dialami anaknya, kedua orangtua korban langsung melaporkannya ke Polres Malang. Berdasarkan laporan itulah, Polres Malang langsung bekerjasama dangan Polres Kutai Kartanegara, untuk membongkar tindak pidana trafficking tersebut.
"Saya baru kali pertama ini mencari korban dari Malang. Mereka kami janjikan kerja pengasuh anak dengan bayaran Rp 1 juta setiap bulannya," kata tersangka Sumarsih.(agp/aim)