Polisi Buru Pemilik Bahan Peledak

MALANG - Peristiwa ledakan petasan di Jalan Kyai Parseh Jaya Gg Cemundelan, RT06 RW 05, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Minggu (25/10) malam lalu, mendapat perhatian serius. Terbukti, selain ditangani Polres Malang Kota, kemarin olah TKP juga ditangani oleh Tim Labfor Cabang Polda Jatim dan Tim Jihandak dan Gegana Detasemen B Brimob Ampeldento, Pakis.
Tim jihandak bahkan datang sejak malam atau tidak lama setelah kejadian. Dengan pakaian khas Jihandak dan Gegana, mereka datang dan melakukan olah TKP yang dipimpin langsung oleh Kapolres Malang Kota Malang AKBP Singgamata.
Perhatian serius dari tim labfor dan tanggota Jihandak ini seiring dengan informasi, jika ledakan petasan ini berkaitan dengan aksi terorisme.
Tapi begitu, Kapolres Malang Kota pun merasa sangat lega. Itu karena setelah dia melakukan rangkaian olah TKP, tidak menemukan adanya unsur terorisme di TKP. Sebaliknya, dia langsung memastikan jika  ledakan yang terjadi pukul 20.30 di rumah Narwadi (Sebelumnya Rawedi, Red), 40 tahun tersebut murni karena petasan.
“Dari hasil olah TKP yang kami lakukan sejak tadi malam (Minggu), hingga hari ini (Senin) kami tidak menemukan adanya tindak terorisme. Ledakan ini murni berasal dari petasan,’’ kata Kapolres usai melakukan olah TKP kemarin.
Ucapan bahwa tidak ada tindak terorisme dalam kasus ini dikatakan mantan Kapolres Lumajang ini seiring dengan ditemukannya bahan-bahan atau campuran bahan kimia untuk membuat petasan, gulungan kertas untuk petasan, dan belerang serta beberapa benda lainnya. Semua benda tersebut oleh tim Jihandak dan Gegana, Detasemen B Brimob Ampeldento dibawa untuk dimusnahkan.
Dengan adanya kepastian tersebut, police line yang semula terpasang di TKP pun kemudian dilepas. Dengan begitu, warga pun bisa berjalan tanpa perlu kawatir ada ledakan susulan. “Dari penyisiran yang kami lakukan sudah tidak ada bahan peledak yang tersisa semuanya sudah diamankan,’’ tambahnya.
Peristiwa ledakan ini memang sempat membuat Kapolresta terkejut. Pria ini langsung datang dan memimpin olah TKP minggu malam lalu. Di atas puing-puing tembok yang hancur, perwira dengan dua melati di pundak ini bersama tim Jihandak langsung melakukan penyisiran di lokasi. Penyisiran dilakukan untuk mencari barang-barang atau benda yang berpotensi terjadi ledakan.
Penyisiran yang dilakukan malam itu membuahkan hasil. Dua kantong yang diduga berisi bahan peledak berhasil ditemukan di bawah puing-puing reruntuhan. Tidak mau risiko, dua kantong itu langsung dibawa ke Polres Malang Kota untuk diamankan.
Namun begitu, karena kondisinya malam, dan cukup gelap penyelidikan pun dilanjutkan pagi kemarin. Saat penyisiran tidak hanya tim Jihandak saja yang dilibatkan. Tapi juga Tim Labfor Cabang Polda Jatim.  
“Kalau ingin tahu isinya apa saja, bisa langsung ke Brimob. Setelah dari sini langsung diurai dan dimusnahkan disana,’’ kata  Kapolres.
Sementara kendati tidak ditemukan adanya tindakan teroris, peristiwa ini tetap menjadi perhatian serius anggota Polres Malang Kota. Terlebih, peristiwa ledakan ini menimbulkan korban jiwa. Sejak kejadian, hingga kemarin, petugas sudah melakukan pemeriksaan sejumlah saksi.
Hal ini kemarin dikatakan oleh Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata. Kepada Malang Post, pria dengan dua melati di pundak ini mengatakan, sejak pagi kemarin sudah ada tujuh orang yang dimintai keterangan terkait kasus ini.
Namun begitu, dari tujuh orang tersebut saksi kunci atau pemilik rumah, yaitu Narwadi dan Misti justru belum dimintai keterangan. Menurut bapak dua anak ini, Narwadi sampai saat ini masih dicari keberadaannya.
“Dia masih belum ditemukan. Menurut warga pak Narwadi merupakan pemilik rumah yang meledak sedang berada di Gondanglegi,tapi saat ini masih dicari oleh anggota,’’ kata Singgamata..
Apakah Narwadi kabur? Kapolres mengaku masih melakukan pencarian. “Intinya kami sampai dengan saat ini masih melakukan penyelidikan. Kami juga masih meminta keterangan saksi,’’ katanya.
Dia juga mengaku jika sampai saat ini belum bisa membuat kesimpulan, dari mana barang-barang tersebut dibeli. Tapi begitu, Kapolores pun tidak segan-segan memasukkan nama Narwadi sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) jika dia mengabaikan panggilan petugas.
“Dari keterangan saksi mereka banyak menceritakan peristiwa ledakannya saja. Tapi apa yang menjadi penyebab ledakan dan dari mana asalnya, mereka banyak yang tidak tahu,’’ katanya.(ira/ary)