Perburuan Polisi Belum Tuntas

MALANG – Petasan yang meledak di Jalan Kyai Parseh Jaya Gg Cemondelan, RT06 RW05, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang Minggu (25/10) malam lalu dipastikan adalah milik Nawardi, 40 tahun. Kepastian itu dikatakan sejumlah saksi yang sudah dimintai keterangan oleh tim penyidik Polres Malang Kota.
“Dari keterangan para saksi, petasan yang meledak adalah Nawardi. Petasan itu disiapkan untuk kegiatan pengajian yang digelar Organisasi Masyarakat (Ormas),’’ kata Kasatreskrim Polres Malang Kota AKP Harianto Rantesalu.
Dari keterangan para saksi tersebut, Harianto juga menyebutkan jika aktifitas membuat petasan dilakukan Nawardi sejak empat hari sebelum petasan tersebut meledak. Tapi begitu, warga sendiri tidak tahu menahu dari mana Nawardi mendapatkan bahan-bahan untuk membuat petasan.
“Kalau dari keterangan saksi, Nawardi memang sering membuat petasan. Dan petasan yang meledak ini disiapkan untuk gelaran pengajian kampung. Dia sudah membuat empat hari sebelum kemudian meledak Minggu malam lalu,’’ kata mantan Kasatreskrim Jombang ini.
Dari keterangan yang disampaikan tersebut, petugas pun tidak ragu menetapkan Nawardi sebagai tersangka. Terlebih berbagai alat bukti juga ditemukan petugas di rumahnya. Salah satu sumber Malang Post di Polres Malang Kota menyebutkan saat melakukan olah TKP Minggu (25/10)- Senin (26/10) lalu pihaknya menemukan banyak barang bukti. Diantaranya adalah flash powder (bubuk petasan) 30 kilogram, palu karet, sumbu bakar, kembang api, timbangan, ribuan petasan sudah jadi, ribuan selongsong petasan belum jadi, dan satu unit motor RX King.
“Semua alat bukti yang mengandung petasan kemarin (Senin) langsung dibawa tim Jihandak, Detasemen B Brimob Ampeldento, Pakis, untuk diuraikan dan dimusnahkan. Sementara yang tidak mengandung petasan, seperti palu karet, motor, timbangan selongsong petasan belum jadi kami amankan,’’ kata sumber ini.
Namun begitu, hingga saat ini petugas Polres Malang Kota sendiri masih memburu Nawardi. Ya, karena hingga berita ini diturunkan keberadaan Nawardi sendiri belum diketahui. Ada kemungkinan Nawardi sengaja kabur setelah mengetahui rumahnya hancur akibat ledakan petasan yang disimpannya. Kemungkinan itu dikuatkan dengan keterangan warga, di mana saat malam kejadian warga sempat menelepon untuk memberitahukan peristiwa tersebut. Namun begitu, setelah itu telepon Nawardi tidak bisa lagi dihubungi.
“Saat ini masih diburu,’’ kata Kasatreskrim Polres Malang Kota AKP Harianto Rantesalu. Ditemui Malang Post disela-sela mengikuti kunjungan Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadi di RSSA Malang  kemarin, pria dengan tiga balok di pundak ini megatakan sejak terjadi petasan meledak, pihaknya langsung memburu Nawardi. Bahkan, petugas juga telah mendatangi rumah keluarga Nawardi di wilayah Gondanglegi. Namun Nawardi sudah kabur.
“Kalau informasi yang kami peroleh, terakhir di berada di Kepanjen. Tapi sampai saat ini keberadaannya belum ditemukan,’’ kata mantan Kasatreskrim Polres Jombang ini.
Perburuan terhadap Nawardi sendiri dikatakan Harianto untuk dimintai keterangan seputar penyimpanan bahan peledak di rumahnya, yang kemudian meledak dan menewaskan empat korban tersebut.
“Ditemukan dulu, kemudian dimintai keterangan, terkait kepemilikan petasan dan bahan-bahan untuk petasan. Dialah yang bisa memberikan keterangan,’’ katanya.
Apakah Nawardi sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini? Harianto mengaku belum. Kasat mengatakan Nawardi bisa dikenakan pasal 1  Undang-Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 dengan ancaman 15 tahun penjara. “Kalau terbukti menyimpan, kita kenakan pasal 1 ayat 1 UU no 12 tahun 1951,’’ katanya.
Sementara itu, terkait dengan peristiwa ledakan ini, Harianto mengatakan pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap 10 saksi. Mereka yang diperiksa adalah warga sekitar rumah Nawardi, yang mengetahui saat ledakan terjadi. “Untuk korban yang masih hidup yaitu Huda dan Solihin belum kami mintai keterangan. Ya karena keduanya masih dalam kondisi sakit. Nanti pasti kami mintai keterangan,’’ urai Harianto. (ary/mp)