Kapolda : Datang ke RSSA

MALANG - Sementara itu Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji kembali menegaskan kepada seluruh warga untuk tidak menyimpan, meracik ataupun membuat petasan. Selain dilarang, petasan sangatlah membahayakan. Dia mengakui tidak bisa melakukan pengawasan penuh terkait dengan pembuatan petasan. Tapi dia menghimbau kepada warga untuk mematuhi hukum.
“Undang-undang sudah mengatakan melarang. Jika ada yang meracik itu melanggar hukum dan kami tindak,’’ kata perwira tinggi dengan dua bintang di pundak ini.
Bukan hanya itu, Kapolda juga tidak bisa melakukan pengawasan di toko-toko kimia. Sekalipun umumnya orang-orang yang terlibat meracik petasan membeli bahannya di toko kimia. “Toko kimia sendiri menjual berbagai macam bahan. Tidak semua yang dijual mengandung zat-zat untuk bahan peledak. Ya, kesadaran masyarakat sendiri saja,’’ katanya.
Ditemui Malang Post saat berkunjung  di RSSA Malang sore kemarin, Kapolda juga menyebutkan beberapa daerah yang masih kental dengan budaya petasan. Terutama saat ada event-event tertentu. Beberapa daerah tersebut disebutkannya adalah Banyuwangi, Pasuruan, Probolinggo dan Malang.
“Sebetulnya semuanya ada, di Kalimantan juga ada. Tapi sudahlah, kita terus mengingatkan dan menggugah kesadaran masyarakat akan bahaya petasan,’’ urainya.
Disinggung dengan kunjungannya di RSSA Malang kemarin, Kapolda mengelak jika kedatangannya ini untuk menjenguk Huda, korban selamat ledakan petasan yang saat ini dirawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA) 16 RSSA Malang. Sebaliknya kepada wartawan Kapolda mengatakan jika kedatangannya ke RSSA Malang untuk menjenguk anggota Polda yang sedang sakit dan di rawat di RSSA Malang.
“Tidak, saya menjenguk anggota. Emang tidak boleh saya menjenguk anggota yang sakit?,’’ tanyanya. Tapi dia juga menambahkan, jika anggota Polda tersebut dirawat satu ruangan dengan Huda. “Kebetulan saja,’’ tandasnya.
Sementara itu, kemarin juga tersiar kabar jika anggota Polda yang sakit dan dirawat di IRNA 16 RSSA Malang, merupakan anggota tim Gegana, yang terluka akibat ledakan petasan. Menurut informasi yang beredar, anggota tersebut terkena ledakan dari barang bukti atau sisa bahan peledak di rumah Nawardi. Namun begitu, tidak satupun pejabat kepolisian di Polres Malang Kota mengetahui akan hal ini.
“Wah maaf saya tidak tahu kalau ada anggota yang terluka,’’ aku Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Harianto Rantesalu.
Korban Mulai Perbaiki Rumah
Sementara itu, para korban yang rumahnya rusak parah akibat kedakan petasan ini kemarin mulai melakukan perbaikan. Hasan Basuni, 58 tahun salah satunya. Pria yang memiliki rumah bersebelahan dengan rumah Nawardi yang meledak Minggu malam lalui ini kemarin terlihat sibuk, memperbaiki rumahnya.
“Genting dan kacanyanya hancur. Sekarang mulai diperbaiki,’’ kata Hasan. Dia sendiri tidak ingin menyalahkan siapa-siapa dalam kasus ini. Termasuk dengan dirinya yang harus menanggung sendiri kerugian akibat kerusakan rumahnya itu. “Mau minta ke siapa. Ya diperbaiki sendiri lah,’’ kata pria yang akrab dipanggil dengan sapaan Suni ini. Dia juga menyebutkan, dengan kondisi rumahnya yang genting dan kacanya hancur tersebut dirinya kerugian yang ditanggungnya mencapai Rp 10 juta.
Hasan juga mengatakan, saat rumahnya di perbaiki, dia menitipkan barang-barangnya di SD Bumiayu 4, yang ada di depan rumahnya. Sementara untuk tidur, dia menempati di dapur. (ary/mp)