Pemilik Petasan Minta Jaminan Polisi

MALANG – Keberadaan Nawardi, pemilik petasan yang meledak dan mengakibatkan empat orang meninggal dunia memang belum diketahui hingga saat ini. Polres Malang Kota tidak ngotot untuk mencari. Itu karena ada kabar jika pria 40 tahun, warga Jalan Kyai Parseh Jaya RT06 RW05, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang ini segera menyerahkan diri.
Kabar rencana Nawardi akan menyerahkan diri kemarin dikatakan oleh Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata. Menurut Kapolres, posisi Nawardi saat ini berada di wilayah Kabupaten Malang. “Kemarin (Selasa) ada warga yang datang, dan memastikan jika Nawardi sudah ada di Malang dan memiliki itikad baik untuk menyerahkan diri. Sekarang kami menunggu, ya harapannya kepastian tersebut tidak dilanggar,’’ urainya.
Pria dengan dua melati di pundak ini mengatakan Nawardi juga meminta jaminan kepada polisi agar dilindungi. Itu karena tersiar kabar, jika warga Jalan Kyai Parseh Jaya banyak yang mengamuk dan memburunya, untuk diminta pertanggung jawaban atas peristiwa tersebut.
“Anggota juga sudah ada yang menghubungi tersangka, dia mengatakan siap menyerahkan diri. Ya ditunggu saja, kalau tidak hari ini (kemarin) ya besok (hari ini),’’ jelas Kapolres.
Jika menyerahkan diri Nawardi langsung dimintai keterangan sebagai tersangka. Namun, Kapolres belum tahu apakah Nawardi akan ditahan atau tidak, karena pemilik kewenangan untuk melakukan penahanan tersangka ada pada penyidik.
Menurut informasi, Nawardi juga tidak berani pulang ke rumahnya yang sudah menjadi puing-puing dan hancur tersebut. Itu karena Nawardi takut warga melampiaskan kemarahannya dengan main hakim sendiri.
“Sejak awal sebetulnya tersangka ingin pulang, tapi takut warga justru membabi buta, dan melakukan penyerangan. Kondisinya saat ini juga sedang stress dan kalut, makanya menyerahkan diri setelah kondisinya tenang,’’ kata bapak dua anak ini.
Disinggung dengan anggota Gegana yang menjadi korban ledakan mercon saat penyisiran di TKP, Singgamata langsung tegas dan mengatakan tidak ada. “Tidak ada. Memang ada, anggota Gegana yang dirawat di RSSA, dan kemarin dikunjungi oleh Kapolda. Tapi dia bukan korban petasan di Bumiayu. Tapi dia adalah korban kecelakaan saat latihan di markas Brimob, Surabaya,’’ jelas Singgamata.
Yang jadi pertanyaan, kenapa anggota Gegana itu tidak dirawat di Surabaya, melainkan di Malang. Kondisi kedua korban pun sudah membaik, dan tidak ada yang kritis. Ada dua yang dibawa ke sini. Tapi bukan karena korban petasan, dia kecelakaan saat latihan.
Sementara itu informasi Malang Post di RSSA Malang, anggota Gegana yang saat ini masih berada di RSSA Malang atas nama Isnudin, 34 tahun, warga Asramana Gegana, Brimob, Surabaya. Dia mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya, dan saat ini sedang dirawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA) 16.  Selain dirawat di tempat khusus, Isnudin dijaga ketat. Bahkan, dua anggota Gegana dengan senjata lengkap terlihat berdiri di area masuk IRNA 16.
Sementara itu kondisi M Huda, 20 tahun belum juga membaik. Meski sudah menjalani perawatan selama empat hari sejak Minggu (25/10)  malam lalu kondisi Huda masih kritis dan butuh perawatan intensif. “Sudah sadar, tapi kondisinya masih kritis. Dia masih dirawat di RSSA Malang,’’ kata Singgamata.
Apakah Huda juga akan ditetapkan sebagai tersangka? Singgamata mengaku masih belum tahu. Sejauh ini, dari keterangan saksi, Huda bukan pemilik petasan. Dia datang ke rumah Nawardi, karena ingin membantu membuat petasan, yang rencananya akan digunakan untuk pengajian.
Seperti yang diberitakan koran ini sebelumnya, ledakan petasan di Jalan Kyai Parseh Jaya Gg Cemondelan terjadi Minggu (25/10) lalu. Ledakan dahsyat ini tidak hanya menghancurkan dua bangunan rumah, dan merusak lima rumah lainnya, tapi juga menewaskan empat korban korban. Sekalipun kasus ledakan ini tidak berhubungan dengan aksi terorisme, tapi kasus ledakan petasan ini menjadi atensi anggota Polres Malang Kota. Terbukti petugas langsung  datang dan melakukan olah TKP, sekaligus memburu Nawardi sebagai pemilik petasan.(ira/ary)