Pengakuan Berubah-ubah,Petugas Kesulitan

MALANG – Penyidikan terhadap Nawardi (40 tahun)  warga Jalan Kyai Parseh Jaya Gg Cemondelan RT06 RW05, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang hingga kemarin  terus dimaksimalkan  jajaran Polres Malang Kota.
Pria yang  telah ditetapkan sebagai tersangka dalam peristiwa ledakan mercon di rumahnya Minggu (25/10) malam lalu,  juga  diajak petugas mendatangi TKP.  Tujuannya,untuk menyingkronkan berbagai keterangan Nawardi sebelumnya dengan kondisi di TKP. Untuk itu,petugas  juga meminta Nawardi menunjukkan setiap ruangan  di rumahnya dan rumah kakaknya Misti.
 “Ini bukan rekonstruksi. Kami mengajak tersangka ke TKP untuk menunjukkan denah rumahnya dan rumah kakaknya, termasuk detail ruangannya,’’ kata Kasatreskrim Polres Malang Kota AKP Harianto Rantesalu kepada Malang Post kemarin.
Ditambahkan, keterangan diberikan Nawardi ini sangat penting sebagai bahan pertanyaan dalam pemeriksaan lanjutan nanti. “Tersangka cukup kooperatif. Dia menunjukkan setiap ruangan rumahnya. Tapi untuk detailnya, langsung ke KBO Reskrim ya, karena olah TKP tadi langsung dipimpin KBO,’’ kata Harianto.
Meskipun demikian,  Nawardi  masih tetap ngotot  tidak mengakui kepemilikan petasan di rumahnya. Sebaliknya, pria yang bekerja serabutan ini melimpahkan kepemilikan petasan itu kepada tiga orang korban  yang  telah tewas.
“Sampai saat ini tersangka menyebut kalau petasan tersebut milik dari tiga orang yang tewas, yaitu Samsul, Sugianto, dan keponakannya yaitu Yulianto. Dia beralasan bahwa seminggu sebelum ledakan petasan terjadi sudah tidak berada di rumah,’’ katanya.
Namun, alibi tersangka  tersebut  dibantah   oleh  para saksi. Dari 10 saksi yang sudah diperiksa memastikan bahwa memang Nawardi   pemilik bahan petasan tersebut. Bahkan,  selama ini Nawardi juga kerap menerima pesanan petasan.
“Kalau ada kegiatan dan butuh petasan, warga pesannya kepada Nawardi. Tapi kalau sampai saat ini dia tidak mengaku tidak masalah, itu haknya. Dalam KUHAP keterangan tersangka bukanlah alat bukti, sebaliknya menjadi alat bukti adalah keterangan para saksi dan bukti-bukti lain yang kami temukan di TKP,’’ katanya.  
Benarkah kondisi Nawardi masih syok?  Harianto langsung menggelengkan kepala. Secara fisik mantan Kasatreskrim Polres Jombang mengatakan kondisi Nawardi sehat. Dia juga menjawab setiap pertanyaan yang diajukan penyidik. Hanya saja, pengakuan Nawardi ini kerap berubah. Hal inilah yang membuat petugas sempat  merasa kesulitan.
Harianto juga menegaskan, keterangan apapun yang diberikan oleh Nawardi, dia harus bertanggung jawab dengan tewasnya empat orang akibat ledakan mercon tersebut di rumahnya Minggu (25/10) malam lalu. “ Dari keterangan warga, lebaran lalu tersangka juga masih membuat petasan. Aktifitas membuat petasan tersebut sudah seringkali diingatkan warga, tapi tidak pernah digubris  hingga akhirnya  meledak seperti itu,’’katanya.
Kasat Reskrim juga menyebutkan, jika dalam perkara ini, selain selongsong kembang api, timbangan, palu terbuat dari karet pihaknya juga mengamankan 22 kilogram bahan petasan dari rumah tersangka. “Kami juga akan meminta keterangan dari Solikin, korban ledakan yang selamat. Dia tahu aktifitas dari tersangka, dan bisa jadi Solikin adalah saksi kunci dalam perkara ini,’’ kata Harianto. Dan untuk sementara ini, tersangka tidak diperiksa. Itu karena tersangka menolak saat pemeriksaan dilakukan tanpa di dampingi penasihat hukumnya. “Senin akan dilakukan pemeriksaan lanjutan. Tadi mau diperiksa, tapi tersangka minta didampingi penasihat hukum. Dan saat kami hubungi, penasihat hukumnya tidak bisa hadir, karena ada keperluan lain,’’ katanya.
Sementara itu penasihat hukum Nawardi, yakni Iwan Kuswardi SH  menegaskan jika kliennya bukanlah pemilik dari petasan yang meledak. Ditemui disela-sela kegiatan pelantikan pengurus DPC Peradi versi Luhut MP Pangaribuan di Ballroom Hotel Kartika Graha, Iwan mengatakan jika pemilik petasan adalah tiga orang yang tewas. “Klien kami pergi dari rumahnya dia ke Gondanglegi, tujuh hari sebelum peristiwa ledakan. Dia tidak pernah membeli dan mengetahui asal muasal petasan yang meledak di rumahnya,’’ katanya. Tapi Iwan mengakui jika kliennya ikut patungan untuk membeli bahan petasan. Nawardi memberikan uang Rp 300 ribu kepada Samsul Zaenuri untuk dibelikan petasan. Samsul sendiri ikut tewas dalamn kejadian tersebut. “Sementara baru itu keterangan yang kami peroleh. Kondisi klien kami juga masih sangat labil, sehingga kami meminta kepada peyidik untuk pemeriksaan dilanjutkan pekan depan, setelah kondisi klien kami stabil,’’ tandas Iwan.
Seperti diberitakan Malang Post,  Nawardi (40 tahun) tersangka pemilik 35 Kg bahan petasan yang meledak di Bumiayu Kota Malang, akhirnya menyerahkan diri ke Mapolres Malang Kota Jumat (30/10) dinihari lalu. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 49 penasehat hukum dari Posbakum  Peradi Malang Raya siap membelanya. Penyerahan diri Nawardi, mendapat apresiasi dari Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata.
Meski dalam kondisi shock, warga  Jl Kyai Parseh Jaya Gang Cemondelan RT 06 RW 05, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang itu menyatakan siap bertanggung jawab secara hukum. Nawardi menyerahkan diri, setelah kabur, tidak hanya di Kepanjen, dia juga kabur di Surabaya. (ira)