Inisiator Petasan Bumiayu Ditahan

MALANG – Tim penyidik Polres Malang Kota akhirnya menetapkan Bambang Effendi, 28 tahun, sebagai tersangka. Dalam kasus meledaknya petasan di Jalan Kyai Parseh Jaya Gg Cemondelan, RT06 RW05, Kelurahan Bumiayu, Kota Malang Minggu (25/10) lalu. Dari keterangan yang diberikan, Bambang mengakui dirinya ikut menjadi inisiator membuat petasan.
Bahkan, kepada petugas Bambang juga mengaku menyetorkan uang untuk patungan membeli bahan petasan. Tidak hanya ditetapkan sebagai tersangka. Bambang juga langsung ditahan oleh tim penyidik Polres Malang Kota. Bahkan, menurut beberapa sumber menyebutkan, jika Bambang ditahan satu ruangan dengan Nawardi, 40 tahun, rekannya yang lebih dulu ditahan oleh petugas. 
“Dari hasil pemeriksaan, dia terbukti terlibat dalam pembuatan petasan,’’ kata Kasatreskrim Polres Malang Kota AKP Harianto Rantesalu.
Seperti Nawardi, tim penyidik menerapkan pasal 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951, terkait kepemilikan bahan peledak, dengan ancaman hukuman penjara diatas 20 tahun, seumur hidup, hingga hukuman mati.
Seperti diketahui, Bambang menyerahkan diri kepada polisi Selasa (3/11) lalu. Saat menyerahkan diri, pria yang kesehariannya menjual gorengan keliling ini diantar oleh penasihat hukumnya Setyo Edi SH. Bambang memilih menyerahkan diri, setelah mendengar namanya dicari-cari polisi. Bahkan, dia berinisiatif datang ke kantor polisi dan menyerahkan diri meskipun belum menerima surat panggilan.
Disinggung dengan peran Bambang? Setyo Edi menyebutkan jika Bambang berperan sebagai orang yang ikut mensukseskan gelaran pengajian. Dia pun mengumpulkan uang iuran dari warga, hingga terkumpul Rp 2,7 juta. Uang tersebut kemudian diberikan kepada Yanto, salah satu korban tewas akibat ledakan.
“Uang Rp 2.7 juta langsung diberikan kepada Yanto. Setelah itu klien saya tidak tahu menahu akan uang tersebut,’’ kata Edi.
Bukan itu saja, Edi juga menegaskan kliennya tidak ikut membeli maupun membuat petasan tersebut. Lantaran itu, dia mengatakan pasal yang diterapkan petugas kepada Bambang sangatlah tidak tepat.  
“Klien saya tidak tahu menahu, dia hanya sebagai menarik iuran kampung. Kalaupun dia menyerahkan diri, karena dia merasa bertanggung jawab,’’ katanya.
Sementara Salah satu sumber Malang Post di Polres Malang Kota mengatakan jika Bambang merupakan salah satu orang yang mengusulkan ada petasan saat gelaran pengajian yang akan digelar warga. Untuk mensukseskan kegiatan tersebut, dia juga menyetorkan uang.
Tidak dijelaskan berapa besaran uang yang diserahkan, tapi yang jelas uang tersebut diserahkan kepada Yanto, untuk dibelikan bahan petasan. Namun begitu, kapan bahan petasan itu dibeli dan siapa yang membelinya, Bambang tidak tahu menahu.
“Pengakuannya, dia tahu kalau bahan petasan telah dibeli setelah meledak,’’ kata petugas.
Bambang panik saat mendengar petasan tersebut meledak dan menghancurkan dua rumah serta merusak lima rumah warga lainnya. Tapi dia lebih panik setelah mendengar dari ledakan petasan itu juga menewaskan empat orang.  Karena takut, Bambang pun memilih untuk kabur setelah kejadian tersebut.
Kaburnya Bambang ini diakui oleh tim penasihat hukumnya Setyo Edi. Menurut Setyo Edi, kliennya kabur di beberapa tempat. Namun begitu, Bambang sendiri tidak ingat dimana saja tempatnya. Yang pasti, terakhir Bambang kabur di Pasar Blimbing. Di Pasar Blimbing,  Bambang sempat bermalam, sebelum kemudian Selasa (3/11) siang lalu memilih untuk menyerahkan diri.(ira/ary)