Dua Mahasiswa IBU Tersangka

MALANG – Polres Malang Kota bergerak cepat terkait kasus pengeroyokan yang menewaskan Fidelis Honto (20 tahun) Mahasiswa Fakultas Ilmu Eksakta dan Keolahragaan, IKIP Budi Utomo (IBU) di Jalan Trunojoyo Malang,Sabtu petang 14 November lalu.
Petugas tidak hanya sukses mengidentifikasi identitas para pelaku, tapi juga  berhasil menangkap dua pelaku  pengeroyokan maut tersebut. Mereka adalah Rista, 20 tahun, dan Nando, 19 tahun, keduanya berstatus sebagai mahasiswa IKIP Budi Utomo (IBU) dan berasal dari  Manggarai Timur, Flores NTT.
Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Haryanto Rantesalu menuturkan  Rista dan Nando ditangkap Sabtu  malam  di rumah kosnya di kawasan Kecamatan Klojen. Penangkapan tersebut dilakukan setelah petugas mendapatkan keterangan dari para saksi.
“Beberapa saksi menyebutkan, keduanya ikut memukul saat kejadian. Selanjutnya tadi malam (Sabtu malam,red) kami lakukan penangkapan,’’ kata Kasat kemarin.
Saat kali pertama ditangkap, keduanya sempat mengelak melakukan pemukulan. Bahkan, kepada petugas keduanya mengatakan tidak tahu menahu peristiwa pengeroyokan yang terjadi di Jalan Trunojoyo (seberang Rawon Tessy) tersebut.  Tapi kemudian keduanya menyerah, dan mengakui perbuatannya setelah petugas mencercanya dengan berbagai pertanyaan.
“Sementara ini yang sudah teridentifikasi identitasnya enam orang. Dua sudah kami tangkap, sedangkan empat lainnya masih dilakukan pengejaran,’’ papar Haryanto. Dua pelaku yang ditangkap ini masih dimintai keterangan untuk perannya masing-masing.
Selain dua pelaku, dari peristiwa ini Polres Malang Kota juga mengamankan barang bukti satu unit motor Yamah Jupiter MX yang digunakan sebagai sarana untuk melakukan pengeroyokan, dan satu jersey.
“Jersey nomor punggung  14 ini milik Bastian. Tapi untuk peran Bastian sendiri saat ini masih di dalami. Dia masih dimintai keterangan sebagai saksi,’’ tambah Hariyanto.Dipaparkan bahwa selain motor yang digunakan sebagai sarana, petugas juga mengamankan empat motor lain yang berada di TKP, diduga empat motor tersebut adalah milik pelaku, yang ditinggal di TKP  usai melakukan pengeroyokan.
Sementara itu salah satu sumber Malang Post menyebutkan, jika Rista dan Nando ikut terlibat dalam pemukulan. Dengan menggunakan tangan kosong, keduanya beberapa kali memukul Fidelis. Bahkan saat korban sudah tak berdaya, keduanya juga menginjak-injak korban. “Kalau dari keterangan, tersangka Rista mengaku dua kali melakukan pemukulan, dan Nando sekali melakukan pemukulan. Keduanya memukul dengan tangan kosong. Tapi dari keterangan saksi, keduanya beberapa kali memukul, dan menginjak-injak korban,’’ kata sumber tersebut.
Tapi, kedua tersangka ini menyatakan tidak tahu menahu akan permasalahan dan mengaku hanya ikut-ikutan saja saat rekan-rekannya dari Kabupaten Manggarai Timur melakukan pengejaran dan memukuli korban.  
Lalu apa yang menjadi permasalahan hingga pengeroyokan ini terjadi? Kasatreskrim  menguraikan bahwa  perselisihan  sehari sebelumnya yakni pada  hari Jumat (6/11) lalu lah penyebabnya. Haryanto mengatakan, awalnya kelompok dari Manggarai Timur berselisih dengan salah satu anggota kelompok Manggarai Barat. Tidak dijelaskan penyebabnya, tapi yang jelas, dari perselisihan ini, kelompok dari Manggarai Timur, mendatangi Kelompok Manggarai Barat  di Jalan Pisang Candi.
“Permasalahannya dengan kelompok lain sebetulnya. Tapi Jumat lalu saat kelompok Manggarai Timur di Jalan Pisang Candi, beberapa sempat melakukan penghadangan terhadap salah satu anggota kelompok Manggarai Barat. Perselisihan itu awalnya dapat didamaikan. Pihak Manggarai Timur kemudian kembali ke tempatnya.
“Kemudian Sabtu kemarin, saat itu kelompok Manggarai Barat yang sepekan lalu di hadap menonton pertandingan bola di Alap-alap,’’ katanya. Saat itulah, salah satu kelompok dari Manggarai Barat melihat salah satu motor pelaku yang digunakan menghadang dirinya sepekan lalu. Dia pun langsung menelpon rekan-rekannya sesama kelompok Manggarai Barat.
Jumlah total anggota kelompok Manggarai Barat yang datang ke Alap-alap diperkirakan berjumlah 12 orang, termasuk korban Fidelis. Mereka kemudian mendatangi kelompok Manggarai Timur. Awalnya mereka ingin mencari tahu pemilik salah satu motor yang parkir di area lapangan Alap-Alap, sekaligus mengkarifikasi perselisihan yang terjadi Jumat pekan lalu. Apes, bukannya mendapatkan identitas, kelompok Manggarai Timur justru menyerang. Sehingga terjadi keributan di kawasan lapangan Alap-alap.
Awalnya mereka sempat di lerai. Tapi kerusuhan kembali terjadi setelah pertandingan bola selesai. 12 kelompok Manggarai Barat dikejar oleh puluhan kelompok Manggarai Timur. “Korban Fidelis ini ikut kabur dengan tiga temannya. Apes, saat itu dia sempat jatuh sehingga langsung dikeroyok,’’ kata Kasat.(ira/nug)