Singgamata Tolak Penangguhan Penahanan

KAPOLRES  Malang Kota AKBP Singgamata  memberikan sanksi tegas kepada mahasiswa pendatang yang melakukan perbuatan kriminal di Bumi Arema.
 “Dulu saya pernah menyatakan bersikap tegas jika terjadi tawuran atau pengeroyokan. Saya akan membuktikan pernyataan saya tersebut terkait peristiwa pengeroyokan yang menewaskan satu mahasiswa di Jalan Trunojoyo tersebut,’’ tegas Singgamata.
Kepada Malang Post kemarin ia menambahkan  selama ini pihaknya tidak pernah berhenti memberikan himbauan kepada masahasiswa yang datang dari daerah-daerah.Yakni  agar  mereka  selalu ikut menjaga kondusifitas Kota Malang dengan tidak melakukan kegiatan yang merugikan orang lain. “Himbauan yang kami berikan tidak digubris. Jadi jangan salahkan kami untuk bersikap tegas,’’ katanya.
Mantan Kapolres Lumajang yang Minggu dinihari kemarin ditemui Malang Post saat melihat kondisi jenazah Fidelis di Kamar Jenzah RSSA Malang ini mengatakan pihaknya akan menolak jenis penangguhan yang dilayangkan pihak tersangka. “Jika satu atau  dua kali kami maklum, tapi karena sudah berulangkali, kami pun tegas. Harapannya kejadian ini menjadi efek jera bagi siapapun termasuk para pendatang tersebut,’’ seru Singgamata.
Selain janji memberikan sanksi tegas, Singgamata juga menghimbau kepada para kelompok Manggarai Barat, agar tidak terpancing emosi, dan mempercayakan penanganan hukum kasus pengeroyokan ini kepada polsi. “Untuk adik-adik semua tidak perlu bereaksi. Tidak perlu membalas dendam. Kasus ini sudah kami tangani, dan Alhamdulillah dua pelakunya sudah kami tangkap,’’ katanya.
Terkait dengan kondisi Fidelis, Kapolres juga menyatakan tegas tidak ditemukan luka tusukan di kepala Fidelis. Kalaupun ada luka di bagian belakang korban, dan lukanya cukup olebar, namun dipastikan itu bukan karena tusukan, tapi hantaman benda keras. Fidelis sendiri meninggal saat dalam  perjalanan ke RSSA Malang.
Sementara itu, setelah diotopsi di Kamar Jenazah RSSA Malang, siang kemarin jenazah Fidelis lagsung dibawa pulang keluarganya. Menurut informasi, jenazah Fidelis dibawa pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Manggarai barat, dengan menggunakan pesawat.
Kepulangan jenazah Fidelis ini diantar oleh ratusan rekan-rekannya. Bahkan kemarin, tidak sedikit dari rekan Fidelis yang menangis begitu peti jenazah dibawa keluar dan dimasukkan ambulance. “Dia orang yang baik, dan pendiam. Kami tidak percaya jika dia menjadi korban pengeroyokan,’’ kata salah satu rekan Fidelis.
Seperti diberitakan Malang Post kemarin, Fidelis Honto (20 tahun) Mahasiswa Fakultas Ilmu Eksakta dan Keolahragaan, IKIP Budi Utomo (IBU) tewas pasca dikeroyok di Jalan Trunojoyo, Sabtu (14/11) petang kemarin. Para pelaku diduga mahasiswa dari kelompok lain asal Flores. Sedangkan korban yang tinggal di Jalan Pisang Candi 18A, Malang, luka parah di bagian kepala.
Beberapa warga menyebutkan jika korban yang berasal dari Kabupaten Manggarai Barat,  Flores ini juga mengalami luka tusuk akibat benda tajam. Ironisnya, pelaku pengeroyokan terhadap korban adalah orang-orang satu sukunya. Yaitu dari daerah Flores. Para pelaku sendiri langsung kabur dari lokasi. (ira/nug)